Masa iya setiap kegagalan aku harus menulis?
Setiap manusia mempunyai jatah gagalnya masing-masing. Dan, aku percaya itu. Bahkan, setiap detik kegagalan itu kerap datang bertubi-tubi. Mulai dari gagal memunculkan kata yang baik, membuat kalimat yang sempurna, sampai membentuk paragraf yang asyik. Nyaris aku gagal untuk memulai dan menyelesaikannya dengan baik.
Kegagalan itu datang menghantui ketika aku berada di kondisi yang nyaman, walaupun hanya sesaat. Ia begitu menggiurkan dan berhasil membuatku bermalas-malasan. Beberapa pekerjaan terbengkalai dan mungkin aku acuhkan.
Jika berhayal adalah sebuah prestasi barangkali berhayalku sudah mencapai rekornya. Aku sadar banyak berhayal membuat kepalaku sakit dan pikiran macet. Dan, malas terlalu membuatku semakin dekat dengan kegagalan.
Tiga paragraf di atas terlalu pesimis. Ya, begitulah adanya. Setelah semua hal tidak selamanya seperti yang direncanakan dan berakhir sia-sia. Namun, setelah tulisan ini selesai aku harus memformat ulang semuanya. Agar setiap kejadian, setiap pertemuan menjadi kenangan yang cukup dalam ingatan. Tak lebih. Mungkin cara ini cukup egois bagi sebagian orang, tapi tak apalah. Toh, kata Chairil Anwar, nasib adalah kesunyiannya masing-masing.
Aku sedang bertarung dengan nasibku. Menjadi seseorang yang aku inginkan atau jatuh dalam kubangan kegagalan demi kegagalan. Tentu semua orang akan menghindari yang kedua. Namun, bagiku, hidup tak hanya sekadar untuk bertahan hidup. Setelah dapat bertahan hidup sejatinya manusia harus terus berbagi dan berbagi. Berbagi rejeki dalam bentuk apa pun. Meteri, pikiran, waktu, dan hal lainnya.
Terkadang aku bingung terhadap diriku sendiri, kenapa kegagalan itu sangat melekat dikehidupanku? Ada apa? Kenapa? Apa ada yang salah dalam diriku? Baru sebulan lalu aku gagal tes tahap akhir (wawancara) di salah satu perusahaan nikel di Maluku Utara, sekarang kegagalan itu datang lagi, aku gagal tes di bank BPD Kalbar. Sungguh menyedihkan dirimu, Fan. Ntah sampai kapan kegagalan datang lagi. Besok? Tahun depan? Ntahlah.
Dan, mulai tulisan ini selesai, aku sedang berusaha keras mempersempit kesempatan untuk jatuh dalam kubangan kegagalan. Di masyarakat kita ini, kegagalan seringkali dianggap sampah! Dan sialnya, aku berada dalam struktur masyarakat seperti itu.
Maaf, tulisan ini terlalu banyak curhat. Tapi, bukankah setiap tulisan adalah tentang keresahan perasaan dan pikiran?
Pulang dulu ah, sudah malem. Besok-besok dilanjutin lagi ceritanya. Eh engga deng, engga akan ada lagi cerita kegagalan. Besok-besok kalau aku kembali ke sini pengen cerita yang senang- senang. Daaaaaaahhh
Ditulis: Fanny Indra Pratama





.jpeg)
.jpg)


.jpg)


