Besok pagi, ibuku pasti sudah memasang kalender baru di dinding. Kalender yang dia dapatkan dari kantorku. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ibuku akan mengatakan bahwa kita harus bersemangat menghadapi lembaran baru, ataupun hal semacam itu.
Mirip dengan Ibuku, aku juga punya kebiasaan tiap tahun baru. Jariku mengetuk layar handphone, mengintip semua video recap kejadian yang teman-temanku alami di tahun lama. Mungkin, jika tidak malas, aku juga akan mencari template video recap di Capcut. Jika lebih niat, aku akan mengingat dan menulis pesan apa yang bisa aku ambil dari tahun kemarin. Jika sangat bersemangat, aku akan menulis semua yang aku inginkan dan apa yang aku ingin perbaiki dari diri aku.
Dan kalau kalian sudah membaca dua atau tiga paragraf di atas, mungkin kalian akan sadar bahwa aku memakai banyak kata ‘aku’. Dan, ya, memang benar, hampir di segala situasi aku hanya memikirkan diriku sendiri. Dan, ya, dapat ditebak, segala hal yang aku inginkan di tahun depan hanya berputar-putar di duniaku sendiri.
Sekarang, aku sedikit bingung. Maksudku, mengapa aku harus membatasi menyatakan permohonan dan harapan kepada diriku saja? Maksudku, tiap tahun, semua orang punya masalah dan bermasalah. Jadi, mengapa tidak berharap bahwa kita semua, kalau bisa satu dunia menjadi lebih baik? Toh, kita semua paham kita saling terhubung satu sama lain. Jadi, aku rasa tidak ada salahnya menaruh harapan besar untuk seluruh dunia di tahun baru.
Tetapi, semakin dipikir aku tidak tahu apa yang aku harapkan di tahun baru, bahkan untuk diriku sendiri. Aku rasa harapan yang besar sudah tidak cocok untuk umurku sekarang. Mungkin semakin besar, aku sedikit paham bahwa aku pemegang kendali terbesar dalam hidupku. Mungkin ada baiknya harapanku, aku batasi sesuai dengan kemampuanku mengaminkan harapanku. Mungkin memang seharusnya harapanku hanya seputar ‘aku’ saja.
Mungkin aku harus terus menyematkan kata ‘aku’ di tiap harapanku. Maksudku, ada perbedaan besar antara ‘aku berharap banyak untuk tahun baru’ dan ‘tahun baru penuh harapan’. Yah, aku tidak tahu kalian dapat melihat bedanya atau tidak. Tapi, aku yakin kalau itu berbeda!
Tetapi, aku merasa bersalah jika semua hal yang aku lakukan tentang aku saja. Aku merasa bersalah kepada diriku sendiri. Sudah berulang kali merasakan tahun baru, rasanya salah kalau tahunku habis untuk membeli wishlist yang aku kumpulkan sejak tahun sebelumnya, lalu mati.
Lihat! Ternyata keinginanku melakukan hal untuk orang lain datang karena (lagi-lagi) aku peduli dengan diriku lagi.
Hmm, mungkin memang akhirnya aku tidak bisa melepas diriku dengan duniaku seutuhnya. Mungkin tahun ini (lagi-lagi) hanya akan tentangku lagi. Mungkin juga harapanku tidak bisa menjangkau seluruh dunia.
Tetapi, mungkin harapanku bisa hadir di tengah-tengah orang di sekelilingku. Mungkin untuk menentukan batas seberapa aku boleh berharap, aku harus menemukan purpose untuk segala hal yang aku lakukan dan akan lakukan.
Atau entahlah!
Intinya, selamat tahun baru.
Bengkulu, 31 Desember 2025
Ditulis: Fanny Indra Pratama

Tidak ada komentar :
Posting Komentar