Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Jumat, 27 Februari 2026

Sepanjang jalan pulang di bawah langit mendung selalu menyisahkan ruang bathin yang seringkali otomatis terisi dengan pertanyaan kenapa patah hati ini sungguh menyakitkan


 

Satu jam berlalu tanpa terasa. Aku mengendarai tanpa arah, membiarkan mobil ini membawaku entah ke mana, sementara lagu-lagu sedih mengalun perlahan, bukan untuk menghibur, tapi untuk merayakan luka yang menggerogoti dada. 

Hari ini aku tidak bekerja (meliburkan diri) rencana ini sudah aku putuskan sejak malam tadi. Ingin rehat sejenak atas apa yang sudah terjadi sebulan terakhir ini. Aku siap dengan resiko di kantor nanti. Tapi aku perlu untuk menenangkan diri.

Setelah mengendarai tanpa arah akhirnya kuputuskan untuk pergi ke Curup. Kabupaten kecil yang terkenal dengan wisata alamnya. Sepanjang jalan lagu-lagu melow yang menemani ku di atas mobil agar aku bisa mengekspresikan diriku. Setelah dua jam perjalanan akhirnya sampai di perbukitan dekat Gunung Kaba. Aku akhirnya terdiam di sudut sepi Bukit itu, ditemani angin siang menjelang sore dan pikiran yang tak kunjung menemukan jawaban.

Entah apa yang sebenarnya kucari. Mungkin alasan untuk membencimu. Membencimu dengan perubahan sikapmu ketika sudah punya segalanya. Membencimu yang menghilang tanpa kabar. Membencimu yang arogan di balik kata "pekerjaan", padahal kerjaanmu itu dulu yang paling aku dukung agar mimpimu tetap hidup, agar sekolahmu terus berlanjut. Ironis? Aku berdiri paling depan untuk mendukungmu, tapi kamu justru berjalan menjauh tanpa menoleh sedikit pun.

Namun untuk apa semua penjelasan itu? Untuk apa semua pembelaan yang tak pernah kamu minta? Kamu adalah seseorang yang begitu mudah menghapus, begitu ringan melupakan, begitu cepat pindah ke lain hati, begitu cepat menganggap seseorang tak pernah ada. Seolah seluruh waktu, tenaga, dan pengorbanan yang kuberikan hanyalah debu yang bisa kamu tiup kapan saja.

Aku selalu berusaha ada di setiap sulitmu. Menghabiskan tenaga, mengorbankan waktu, bahkan menelan sakitku sendiri. Tapi bagimu, menghargai rupanya adalah hal yang terlalu berat untuk dilakukan. Kamu lebih mudah merendahkan, lebih mudah membuatku merasa tak berarti, meski di lain waktu kamu pernah berkata, "Aku menghargaimu."

Kini aku mengerti, kata-kata memang mudah diucapkan. Tapi tindakanlah yang benar-benar tinggal. Dan yang tertinggal darimu hanyalah sepi. Tidak lebih.

Lamunanku pecah seketika mendengar suara perempuan samar, "Are you okay? Mau ditemenin?" sembari tersenyum dan menyodorkan tisu.

Aku mengusap mata, pura-pura sibuk merapikan rambut yang sepertinya tak pernah benar-benar berantakan. Bibirku terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Bingung, antara ingin menolak karena sudah terlalu lelah menjelaskan luka, atau menerima karena mungkin, untuk sekali ini saja, aku ingin didengar.

Ia duduk pelan di sampingku, menjaga jarak yang sopan, seolah tahu bahwa hatiku sedang rapuh dan tak boleh disentuh sembarangan. 

"Maaf, aku engga maksa" katanya lembut. "Cuma kelihatannya kamu lagi berat banget."

"Berat? haha lucu sekali bagaimana orang asing bisa melihat sesuatu yang selama ini berusaha kusembunyikan dari orang yang paling kucintai." balasku dalam hati.

Aku akhirnya menerima tisu itu. Jari kami sempat bersentuhan sebentar, hangat, sederhana, tapi entah kenapa terasa lebih nyata daripada ribuan janji yang dulu pernah kamu ucapkan.

"Aku engga apa-apa" jawabku pelan. Kalimat paling klise yang selalu dipakai orang-orang yang sebenarnya tidak baik-baik saja.

"Engga usah bohong, aku udah lihat kamu ketika turun dari mobil dengan raut wajah yang sedang banyak masalah, btw aku lihat plat mobilnya dari Kota ya?

"Iya" jawabku.

"Aku juga dari Kota, Rumahku di hibrida dekat rumah Pak Gub."

Setelah mendengar itu aku langsung terkejut dan menanyakan "Oh ya? Ada temenku rumahnya di hibrida juga, dekat juga sama rumah Pak Gub." Jawabku dengan nada lesuh

"Siapa?" Tanyanya dengan penasaran.

"Namanya Kingkin, dia tinggal dekat mess Pemda Rejang Lebong."

"Rumahku sebelum mess Pemda itu."

Aku tanya dengan penasaran "Kenapa kamu bisa di sini? Kerja?" 

"Iya, aku kerja di bawah itu", sambil menunjuk klinik kecil yang dindingnya terbuat dari papan.

"Dokter?" Tanyaku.

"Yes" 

"Sekarang aku tanya balik ke kamu, kenapa kamu bisa kesini? Jauh loh dari Bengkulu." tanyanya lagi.

"Pengen menenangkan diri, pengen rehat sejenak." Kataku pelan, mencoba terdengar serius meski suaraku masih serak karena terlalu banyak diam.

"Coba aku ramal dulu hmm pasti soal perempuan ya?" Tanyanya dengan senyuman tipis.

Aku mendengus kecil "kamu cenayang?" 

"Enggak" dia tersenyum tipis lagi. "kelihatannya lagi butuh ditemenin, tapi terlalu gengsi buat minta."

Aku terdiam sesaat, lalu berusaha mengalihkan rasa yang tiba-tiba menghangat di dada. Dan di bangku sepi itu, di antara kesunyian dan tisu yang hampir habis, aku menemukan sesuatu yang tak kuduga, tawa yang ringan, percakapan sederhana, dan rasa hangat yang perlahan membuat dadaku tidak sesesak.

"Dulu aku juga pernah duduk sendirian kayak gini. Bedanya bukan di bukit, tapi di Pantai Panjang. Ngeliat dentuman ombak jam seginian juga." Ia menarik napas pelan. "Ngerasa kayak semua orang jalan terus, tapi hidupku berhenti di satu orang."

Aku terdiam, mendengarkan.

"Engga ada yang ngajak pulang waktu itu" lanjutnya ringan, tapi ada sesuatu di balik suaranya. "Jadi ya… aku pulang sendiri. Dan rasanya berat banget."

“Makanya tadi aku agak ngeh liat ekspresi mukamu." katanya. "Soalnya aku tau rasanya."

Aku menatapnya lebih lama kali ini. Tidak ada cerita panjang. Hanya pengakuan sederhana yang terasa jujur.

Dia menoleh ke arahku. "Kamu capek?"

"Lumayan."

"Capek fisik atau capek mikir?"

Aku tersenyum tipis. "Dua-duanya."

Dia mengangguk pelan, lalu tiba-tiba berkata, "Coba deh teriak."

Aku menoleh cepat. "Teriak?"

"Iya. Teriak aja. Seru tau!" 

"Serius. Cobain. Kadang yang bikin sesak bukan masalahnya, tapi karena dipendem terus."

Aku menggeleng. "Kayanya engga bisa"

"Jam segini yang dengar cuma angin sama lampu warung," katanya santai. ,"Enggak ada yang kenal kamu di sini."

Aku ragu beberapa detik. Lalu, entah kenapa, aku menaikan suaraku perlahan. Angin sore langsung menyentuh wajahku.

"Udah, teriak apa aja," katanya menyemangati.

Aku menarik napas panjang. Lalu aku berteriak,  terlalu keras, tapi cukup untuk membuat dadaku terasa bergetar. Bukan menyebut namanya. Bukan memanggil siapa pun. Hanya teriak "Anjeeeeeeeeeeeng!"

Angin membawa suaraku pergi. Dia menoleh padaku dengan mata berbinar. "Nah gitu dong. Gimana?"

Aku terdiam sebentar, merasakan sesuatu yang ringan.

"Lumayan," jawabku pelan. "Kayak… enggak sesesak tadi."

Aneh, ya. Kalimat sesederhana itu terasa lebih menenangkan daripada semua nasihat panjang yang pernah masuk ke telingaku. Tidak ada petuah rumit. Tidak ada teori tentang "Ikhlas" atau "waktu akan menyembuhkan." Hanya tindakan kecil yang diam-diam mengingatkanku bahwa aku masih hidup, masih punya suara, dan masih dianggap.

Ia datang bukan seperti badai yang memaksa, bukan seperti hujan deras yang tiba-tiba mengguyur tanpa aba-aba. Ia hadir seperti cahaya tipis di celah jendela yang lama tertutup, tidak menyilaukan, tidak menyakitkan mata. Hangatnya cukup. Cukup untuk membuatku sadar bahwa gelap bukan satu-satunya kemungkinan yang tersisa.

Tawanya ringan, tapi mampu memecah beku yang berhari-hari mengeras di dadaku. Candanya sederhana, tapi berhasil menarikku keluar dari pusaran pikiran yang tak henti-henti menyiksa. Perhatiannya tidak berlebihan, tidak penuh janji, tidak mengumbar kata manis dan justru karena itu terasa tulus.

Di tengah kekacauan pikiranku, ia hadir dengan ketenangan. Di tengah kebisingan rasa sakit, ia membawa sunyi yang menenangkan. Bukan sunyi yang menyiksa.

Ia tidak berusaha menghapus lukaku. Tidak mencoba menggantikan siapa pun. Tidak memaksa menjadi pahlawan dalam cerita yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya.

Ia hanya ada. Sekali lagi, ia hanya ada.

Dan entah kenapa, keberadaannya yang sederhana itu membuatku merasa sedikit lebih utuh sore itu. Tidak sepenuhnya sembuh. Tidak sepenuhnya bahagia. Tapi cukup tenang untuk percaya bahwa mungkin, hidupku belum selesai hanya karena satu orang memilih pergi.

"Kamu kalau sama orang yang baru kenal emang seperti ini ya?" Tanyaku

"Jangan heran kalau ketemu orang baik" lanjutnya santai. "Kadang kamu cuma lagi lupa kalau kamu juga pantas diperlakuin baik."

Kalimat itu menggantung di kepala beberapa detik.

Aku menelan pelan. "Kamu ngomongnya kayak udah kenal lama."

Dia tersenyum tipis. "Engga perlu kenal lama buat tahu seseorang lagi berusaha kuat. Kelihatan kok."

"Mungkin setelah ini kita engga akan ketemu lagi, tapi terima kasih ya, untuk waktunya yang dipertemukan ketidaksengajaan ini." Kataku dengan pelan.

"Iya, sama-sama, eh Ini udah jam 5 loh, kamu engga pulang? Atau mau buka di sini?"

"Aku pulang ya" kataku akhirnya.

Dia mengangguk. "Iya. Istirahat yang bener. Jangan mikir berat-berat dulu yaa."

Aku membuka pintu, lalu sebelum benar-benar menutupnya, ia menambahkan satu kalimat lagi.

"Eh… kalau suatu hari ngerasa sendirian lagi, inget ya… sore ini kamu pernah ketawa."

Aku menatapnya, lalu tersenyum. Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa seperti sesuatu yang ingin kusimpan lama-lama.

Aku menutup pintu mobil perlahan. Suara pintu yang terkunci terdengar lebih jelas di tengah sore yang sunyi. 

Mobil ku perlahan mundur, lalu berbelok dan meninggalkan tempat itu. Lalu benar-benar lenyap.

Dan aku baru sadar, kami lupa berkenalan. Tidak ada pertukaran nama. Tidak ada nomor telepon. Tidak ada Instagram, tidak ada apa pun yang bisa membuat sore itu terhubung ke hari esok. Tidak ada janji untuk bertemu lagi.

Sore itu, aku tidak tahu siapa dia. Dan mungkin dia juga tidak benar-benar tahu siapa aku. Tapi malam itu terasa nyata. Terlalu nyata untuk disebut kebetulan biasa.

Aku masuk ke kamar, duduk di tepi tempat tidur, dan menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikiranku tidak dipenuhi pertanyaan tentang kenapa aku ditinggalkan. Tidak ada bayangan wajah yang menyakitkan. Tidak ada kata-kata yang berputar tanpa henti.

Yang ada hanya satu perasaan sederhana. Tenang.

Malam itu, aku dipertemukan dengan seseorang yang baik, ceria, perhatian, dan menyenangkan tepat di saat duniaku seperti runtuh tanpa aba-aba. Di saat keramaian terasa lebih sunyi daripada kesendirian, ketika amarah menggerogoti batin tanpa jeda, ketika debar jantungku tak lagi teratur seakan panik menghadapi kehilangan, dan air mata jatuh begitu saja tanpa diminta.

Perlahan aku sadar, mungkin semesta memang tidak selalu mengambil tanpa memberi. Kadang, setelah menghancurkan hatiku hingga terasa tak utuh lagi, ia menyelipkan seseorang yang mengajarkanmu cara bernapas kembali.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, air mata yang jatuh bukan hanya tentang kehilangan, tapi juga tentang harapan yang pelan-pelan tumbuh kembali.


Ditulis: Fanny Indra Pratama


Tidak ada komentar :

Posting Komentar