Setelah aku mengalami putus cinta yang menyakitkan ini, aku merasa kosong. Siapa lagi yang bisa aku curahkan afeksi?
Lalu aku menceritakan kehampaanku kepada teman, dan ia menyarankan untuk mencintai diri sendiri terlebih dahulu.
Sempat aku bertanya-tanya sendiri kala baru sebulan putus cinta, di kamar berukuran 3x2m, sembari meratapi apa yang sudah terjadi. Lalu aku menyerah dan menanyakan sakit ini kepada Tuhan.
Tuhan memang selalu bekerja dengan cara ajaib. Aku percaya bahwa Ia menjawab dengan mengirimkan teman untukku, yang dengan baik hati, menampung segala curahan hati. Aku mulai cerita mengenai awal pertengkaran itu terjadi sampai akhirnya disambut oleh hati yang dibikin retak.
Temanku bilang, kira-kira, "Dia angkat bebanmu, biar kamu bisa naik dengan enteng, kamu lagi di uji, bisa engga kamu berdiri di atas kaki sendiri?"
Aku artikan "berdiri di atas kaki sendiri" sebagai "tidak mengandalkan siapapun selain diri sendiri". Kemudian, aku berpikir "apakah itu berarti aku juga harusnya mencintai diri sendiri?"
Bingung aku tak selesai sampai di situ, aku harus memikirkan cara agar dapat mencintai diri sendiri. Dulunya aku berpikir bahwa mencintai diri sendiri artinya merasa bahwa kita yang benar, pihak lain yang salah. Namun sekarang, aku berpikir, mencintai diri sendiri adalah tentang berdamai dengan diri sendiri dan pihak lain. Jangan menutupi kesalahan dan kebenaran yang ada di antara aku dan pihak lain. Dan sekarang, setelah melalui satu bulan yang berat, aku bisa unblock chat pihak lain dan pelan-pelan merelakan apa yang telah terjadi.
(Aku mencapai tingkat keikhlasan itu setelah sebulan merenung di kantor maupun di kamar, jadi, memang sangat tidak mudah, tapi kamu pasti akan mendapatkan kedamaian nantinya.)
Aku melakukan hal-hal ini dan masih mencari hal-hal lain yang dapat aku lakukan untuk dapat sembuh dan mencintai diri sendiri:
- Mengekspresikan emosi. Jangan terlalu over, secukupnya saja.
- Cari teman yang banyak, karena kamu pantas untuk dikawani.
- Gali lagi hobi lama. Aku membaca novel klasik "Bumi Manusia" dan aku seperti menemukan kembali diriku saat aku masih innocent dan dalam dunia sendiri. Benar-benar menyegarkan.
- Aku mencoba mulai memasak. Ini seperti menggali hobi lama, walaupun sering keasinan tapi aku senang menjalaninya. Menemukan hidup baru.
- Merencanakan untuk pembangunan rumah. Entah mengapa hal ini menjadi menyenangkan. Dari dulu aku ingin rumah dua tingkat bergaya sederhana namun klasik dengan jendela yang ada tempat duduknya dan atap segitiga khas perumahan sederhana di Eropa. Aku selalu bersemangat membayangkan akan merawat tumbuhan di dekat jendela besar itu. Oh ya satu lagi, rumah itu harus ada piano di dalamnya. Itu yang aku usahakan sekarang untuk mewujudkannya.
Aku masih jauh dari definisi "mencintai diri sendiri", namun aku rasa aku tengah menuju ke sana. Seiring perjalanan aku menemukan jati diri, rasanya aku belum siap menerima cinta-cinta baru dalam hidup. Karena aku memang belum layak mendapatkannya.
Ditulis: Fanny Indra Pratama

Tidak ada komentar :
Posting Komentar