Pada saat kita lagi kumpul keluarga di rumahku, ada satu pertanyaan yang datang dari sepupu. Dia menanyakan kenapa aku suka menulis. Pertanyaan itu membuatku tertawa kecil dan menjelaskan karena di antara semua hal yang bisa hilang, kata-kata adalah satu-satunya yang bisa aku selamatkan. Menulis adalah cara bertahan. cara mengurangi benang kusut dikepala yang tak bisa dijelaskan dengan suara.
Aku menulis karena ada hal-hal yang terlalu berat untuk dibicarakan, tapi terlalu penting untuk dibiarkan membusuk di dalam dada. menulis memberiku ruang untuk jujur, bahkan saat dunia menuntutku untuk baik-baik saja. Di tulisan, aku tak perlu tertawa kalau sedang hancur, tak perlu menjelaskan kenapa aku diam, tak perlu minta maaf karena merasa terlalu banyak kesalahan.
Menulis adalah tempat aku pulang saat tak ada rumah yang bisa kutuju. Di sana, aku bisa cerita apa saja tanpa dihakimi, bisa marah tanpa ditinggal, bisa bingung tanpa harus segera menemukan jawaban. Terkadang aku menulis karena ada luka yang tak bisa dijelaskan dengan bicara, hanya bisa ditumpahkan lewat kalimat. Kadang aku menulis karena ada kenangan yang terlalu rapuh untuk dibicarakan, tapi terlalu penting untuk dilupakan.
Aku suka menulis karena di sana aku bisa menjadi siapa pun, seperti anak kecil yang kehilangan arah, laki-laki yang sedang belajar memaafkan, atau hanya seseorang yang ingin duduk diam dan berkata, "Aku capek". Menulis memberikan kebebasan untuk tidak selalu kuat, untuk tidak selalu tahu, untuk tidak selalu menjawab. Ia mengizinkanku untuk ada.
Dan mungkin, yang paling jujur, aku menulis karena aku takut lupa. Takut kehilangan versi diriku yang pernah merasa jatuh dan bangkit.
Kata-kata menjadi arsip dari semua yang pernah aku lalui, menjadi bukti bahwa aku pernah ada, pernah terluka, pernah mencintai, pernah kecewa, dan tetap memilih untuk melanjutkan. Menulis bukan hanya tentang menciptakan tapi tentang merawat bagian-bagian kecil dari diriku yang tak bisa dijelaskan dengan logika tapi bisa dirasakan lewat kalimat.
Selama aku hidup, aku akan tetap menulis. Dan jika suatu hari aku tak lagi di sini, biarlah kata-kataku tetap tinggal, sebagai jejak, dan sebagai bukti bahwa aku pernah mencoba menjadi utuh meski lewat huruf yang bergetar.
Ditulis: Fanny Indra Pratama

Tidak ada komentar :
Posting Komentar