Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Selasa, 26 Mei 2026

Empat warna kehidupanku


Sepanjang hidup aku punya empat warna favorit.

Pertama adalah putih, warna yang selalu mengingatkanku kepada kematian.

Warna putih bagiku sangat personal, iya selalu memberiku garis batas pengingat tentang siapa aku dan seberapa kecil aku di dunia ini. Bahkan, sebagai laki-laki pada umumnya, selain mendominasi isi lemariku dengan kaos berwarna hitam, hampir sepertiga warna pakaianku adalah putih. 

Kedua, aku suka warna kuning, karena tak kalah personal untukku. Kuning mengingatkanku pada momen patah hati ketika baru lulus sekolah.

Dulu, setelah putus dengan kekasih pertamaku, aku memutuskan untuk membeli sepasang ikan cupang bewarna kuning untuk menghibur diri yang berbulan-bulan kemudian baru kusadari ternyata dua-duanya berkelamin jantan. Meski begitu konyol, ini menjadi salah satu kisah paling memilukan sepanjang hidupku.

Ketiga adalah warna hitam, warna yang memang sudah sewajarnya disukai laki-laki. Jika kalian bertanya apa alasanku menyukai warna hitam, dengan mantap aku akan menjawab, "Aku menyukai band rock Jepang "One Ok Rock". Karena band itu identik dengan warna hitam.

Nah, yang terakhir sudah barang tentu dan tak boleh terlewatkan bahwa aku mengidolakan warna merah.

Sebenarnya ada banyak alasan kenapa aku menyukainya, yang mungkin jika ku jelaskan satu persatu akan terlalu panjang. Tapi, aku menyukai warna merah karena ia adalah representasi klub sepakbola favoritku. Liverpool. Selain itu warna merah menurutku sebagai warna keberanian. Lebih dari itu, warna merah bagiku adalah satu-satunya warna paling menenangkan dan warna paling dekat dengan pengorbanan. Pengorbanan dalam segala hal.

Oh ya, konon katanya, warna merah adalah satu-satunya pula warna yang setelah dibakar bisa berubah menjadi bentuk yang lebih indah. Aku sih percaya - percaya aja, ya.


Ditulis: Fanny Indra Pratama

Selasa, 12 Mei 2026

Bintang malam ini bangus banget, Nak. Tetaplah disamping Ayah, ya..

 


Nak, tulisan ini sebagai pengingat, malam ini Bintang di atas rumah kita indah banget. Indah seperti wajahmu, indah seperti wajah Ibumu. 

Nak, Bintang yang kamu lihat malam ini adalah ia yang terbakar dan menyala sejak ratus jutaan tahun yang lalu. Artinya, cahaya yang kamu terima malam ini adalah hasil dari perjalanan cahaya yang ber-ratus-juta-an tahun ke belakang. Itu jarak.

Nak, mungkin Bintang yang kamu lihat malam ini, ia sudah lenyap. Hangus membakar dirinya sendiri. Atau sudah berpindah dari posisinya sejak ia mengirim cahaya.

Nak, sadarkah, dari cahaya Bintang itu, kamu sudah melipat satu dimensi. Masa lalu.

Nak, bukankah butuh kesabaran yang amat panjang dan tekun untuk tetap meneruskan cahaya?

Nak, rumahmu adalah Bumi, adalah Bimasakti, adalah Gugus Virgo, dan Gugus Besar Laniakea. Pergilah sampai kemana saja, itu rumahmu. Berfikirlah kemana pun mau, itu juga rumahmu.

Nak, Bintang itu besar. Menjadi kecil karena jarak. Sebab kamu akan lebur hancur jika semakin dekat.

Nak, Bintang itu bukan sekadar amat banyak menghias angkasa. Tak perlu terbang ke sana ke tempatnya berada. Itu percuma. Ia sudah tiada.

Nak, seperti Bintang, bersabarlah oleh tiga hal;

1. Cahayamu butuh waktu untuk sampai kepada manusia, 2. Dan relakanlah cahayamu dinikmati manusia yang cuma tahu soal menyanyi tentang ingin terbang tinggi ke tempatmu berada, dan yang terakhir, 3. Ayah mengajakmu melihat Bintang malam ini supaya kamu tahu bahwa meskipun kita hanya bagian kecil dari alam semesta yang sangat luas, kita tetap memiliki kemampuan untuk menciptakan makna. Kehidupan manusia dapat dipahami melalui pencarian dan pengalaman yang kita jalani, serta bagaimana kita berinteraksi dengan dunia sekitar. 

Nak, begitulah hebatnya ciptaan Tuhan yang bisa membuat Bintang malam ini begitu indah dan menakjubkan. 

Oh ya satu lagi, Bintang malam ini lebih banyak, lebih luas dari apa yang kita ketahui. Tak terhitung, menyimpan jutaan misteri, ketakutan, keindahan dan hal-hal luar biasa yang tak mampu kita bayangkan sebelumnya.

Manusia hanyalah setitik kecil bagian dari Bintang itu. Ibarat bola basket, manusia adalah sebutir debu nano yang menempel pada permukaan bola tersebut. Sangat amat kecil, bukan? 

Namun, tahukah kamu betapa beruntungnya Ayah karena dipertemukan dengan seseorang yang tanpa Ayah sadari telah menjadi pusat kehidupan Ayah, KAMU.

Yaudah, nak. Ayo kita masuk, ini sudah terlalu malam. Ibu sudah menunggu kita di dalam. Kalau besok langit sedang bagus, Ayah akan ceritakan lebih detail luasnya Alam Semesta yang buat kamu akan takjub indahnya ciptaan Tuhan.

Tidurlah di malam yang gelap.

Ditulis: Fanny Indra Pratama

Senin, 04 Mei 2026

Kurangnya konsistensi adalah kelemahan yang dimiliki oleh Fanny Indra Pratama



Kenapa ya masa kecil itu rasanya unik banget? Engga banyak yang harus dipikirin dan dipusingin. Aku engga pernah ngerti, kenapa hampir setiap orang tua pengin anaknya cepat dewasa, membiarkan semua berjalan sesuai dengan waktunya itu rasanya lebih menyenangkan ga sih? 

Masa kecilku penuh dengan banyak hal dan banyak cita-cita. Aku menghabiskan masa kecilku dengan main bola di lapangan tanah merah bersama temen-temen dekat rumahku dulu, saking cintanya aku sama sepak bola aku pernah dulu bercita-cita jadi pemain bola. Tentang bermain warnet, ada masa di mana aku rela engga jajan dan nabung uang saku sekolah cuma buat main warnet, aku pernah gila banget main warnet. Kalau aja dulu e-sports sudah sebesar dan se-menjanjikan sekarang untuk dijadikan sebagai karir, kayanya aku dulu bakal milih main game aja seumur hidup.

Ada masanya aku berhenti main warnet dan mulai iseng-iseng nge-band, sekitar akhir SMP setiap malem aku sering nyewa studio buat iseng cover-cover lagu Green Day, Blink-182, Ramones, macem-macem. Terus ngeband ini sempet hiatus karena temen-temen band dan aku akhirnya punya kesibukan masing-masing. Ada lagi masanya aku suka banget main Mobil Remote Control (RC), aku sampe ikut lomba RC tingkat nasional di tiga Kota besar.  Di tingkat daerah sudah beberapa kali naik podium dan masuk tiga besar. Aku berhenti bermain RC sehabis kalah lomba tingkat nasional itu, patah hati lalu berhenti, sekarang kalo liat Mobil RC bawaanya pengin aku telen aja tuh Mobil.

Aku kadang iri banget sama orang-orang yang bisa konsisten dan disiplin sama jalan hidupnya. Aku iri sama orang-orang yang dari kecil emang udah tau mereka besar mau ngapain, ada temenku yang dari kecil udah jatuh cinta dengan tentara, dia tetep disiplin dan konsisten buat jadi tentara dan akhirnya saat dewasa cita-citanya tercapai. Ada juga temenku yang dari kecil hobi banget main basket dan konsisten terus, meskipun dia sekarang tidak bekerja sebagai pemain basket di klub besar, tapi dia sekarang kerja menjadi tim marketing di salah satu klub basket besar di Indonesia. Aku yakin kedua temenku ini sangat mencintai pekerjaanya dan hidupnya.

Aku iri banget sama orang yang konsisten dan disiplin di satu bidang dan menjadi hebat banget di salah satu bidang itu. Aku tuh anaknya banyak banget mau-nya dan susah buat konsisten, ambil contoh aja dari semua kegiatan yang aku lakuin, kalau aja ada satu hobby yang aku lakukan dengan konsisten dan disiplin mungkin aku bisa menjadikan itu karir dan aku akan mencintai banget hidupku. Terus apa cinta dan suka banget sama banyak hal ini justru yang ngebuat aku engga konsisten? Aku pernah bekerja sebagai pegawai Toko Buku,  sebagai Admin Operator, bahkan pernah hampir menjadi Pedagang. Hidupku bener-bener random banget dan engga saling bersinggungan antara satu dengan yang lainnya.

Hidup itu kan didesain agar ia dapat digunakan, ditinggali, dirasakan, dimaknai dan ditinggalkan. Aku sampai sekarang masih belum merasakan hidup yang sebenarnya, aku sering ngerasa engga yakin siapa diriku dan mau apa aku sebenernya cuman ya aku selalu berusaha nyembunyiin di belakang kepala; keluar dari deretan “hal-hal apa lagi yang harus aku lakuin?”

Siang ini aku lagi ngantuk banget di kantor dan akhirnya coba deh dikit-dikit ngetik blog lagi biar engga ngantuk-ngantuk banget, sambil ngetik ini aku mikir, kita tuh sebagai manusia hanya bisa berusaha mengisi hidup dengan segala kesalahan dan keajaiban yang mampu kita ciptakan dan kemudian di satu waktu yang tepat, kita meninggalkannya. Kita sebagai manusia, merasa hidup kita menjadi begitu sangat berharga meskipun dengan segala ke-randoman yang kita ciptakan itu ya karena kita tau kalau hidup itu, terlampau singkat.


Ditulis: Fanny Indra Pratama