Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Kamis, 29 Agustus 2024

Senja menghilang di jam 18.00 Wib

Setelah pulang kerja aku melihat langit sore, lama menatap langit, tampaknya sore ini pun tak lagi membawakan senja. Aku heran, kemana senja itu hilang? Bukankah dulu senja selalu datang?

Akupun melanjutkan perjalanan, berjalan di setapak yang selalu dilewati saat senja datang menemui. Aku mengingat moment dengan senja yang datang dengan senyuman, sesekali dia mendekap, hangat, dan ciuman itu. Manis, tak pernah terlupakan. Dihadapan lautan biru di depan pasir putih begitu muram, tak ada lampu jalan, hanya pohon yang daunnya mulai berguguran, berserakan.

Ada yang hilang dalam dirinya, sebuah bejana yang tempo hari senja bawakan, bejana yang membiru. "Marah setiap hari" begitu katanya, sambil tersenyum. Dan Ia kini kehausan.. Haus.. Bahkan ludahnya pun mengering..

Di hadapannya ada selembar kertas, dan pensil di tangan kanannya. "Kamu yakin akan mengatakan itu?" tanya dirinya yang lain. Dia diam. "Susah sekali mengerti perasaanmu" dia melanjutkan. "Aku tidak peduli” jawabnya. 

Dilipatkan surat itu menjadi pesawat kertas. Dia menatap langit sore dalam-dalam, Dia lemparkan pesawat itu kuat-kuat. Terbang… Pesawat itu terbang menjauh dari keramain. Dia tidak tahu apa surat itu akan dibaca oleh senja atau malah ditemukan oleh pekatnya malam.. Lalu dibuang…

Dia tetap berjalan, melewati dedaunan berserakan, dahan pohon yang mengering. Dan sore yang tak lagi membawa senja..


Ditulis: Fanni Indra Pratama

Sabtu, 03 Agustus 2024

Di bawah langit tuhan bintangpun bermunculan

Sudah lupa sejak kapan aku menikmati waktu  menyendiri seperti ini. Lupa apa yang terjadi sehingga kesendirian ini menjadi candu untukku. Kesendirian emang membiarkan banyak tempat kosong tanpa emosi, tidak senang, tidak sedih, tidak pula marah, semua terasa hampa, dan itu candu

Di bawah langit Tuhan 03 Agustus 2024, aku merasakan lagi momen seperti ini. Sendirian dalam kesunyian. 



Senin, 29 Juli 2024

Utamakanlah diriku di sisa hidupmu

Kamu masuk SMA kan baru 7 tahun lalu, katamu. Hahaha ya itu sepertiga umurku sekarang, dasar 😁. Kita tidak tahu dan, kecuali ada serangan zombi dari planet lain mungkin tak akan pernah tahu bagaimana rasanya punya dunia yang hanya punya dua jumlah penghuni. Aku dan kamu saja, seperti misalnya kita berada dalam film The Last Man On Earth. Tanpa orang lain, tanpa keriuhan, tanpa perempuan, tanpa sesuatu selain kita yang kita perlu payah-payah memusingkan. Dunia ini selalu menawarkan hal-hal di luar aku dan dirimu, kadang menjengkelkan dan meremukkan. Tapi biar kuberitahu padamu malam ini di malam yang sangat Say You Will And We’ll See Every Dream Come True, bahwa cinta ini cukup, selalu lebih dari cukup. Dan kita akan menaklukkan setiap yang kita takutkan, apapun rupanya. 

Selamat ulang tahun ya, aku tahu, mama papa tidak pernah berharap ada hal lebih baik untuk terjadi pada mereka hari itu selain bahwa pekik tangis di sudut kamar pandang dari bayi perempuan mereka akan tumbuh segar menjadi tawa-tawa gembira sepanjang musim: Aku mencoba menyelaminya hari ini. Jl bhakti mulia no 4a. Setelah tulisan ini rampung, aku akan mendoa hal yang mirip-mirip. Semoga hari ini di umurmu yang dua tiga, setiap keluh darimu sepanjang waktu tumbuh mekar jadi sukaria, sukacita, sehat dan panjang umur. Kamu tahu bahwa aku mengasihimu super sekali- tanpa perlu kutulis dan kukatakan 1000010 juta kilometer/jam hehehe..
Ditulis: Fanni Indra Pratama

Kamis, 18 Juli 2024

Meski ramainya kota ini terasa begitu sunyi

Aku menggerutu di jalan-jalan panjang, aspal kering yang riuh oleh pejalan. Pejalan yang menghabiskan keluh kesah dengan bersembunyi dari segala pekik di rumah jauh. Kalau boleh kubilang, kebohongan apa saja yang melelahkanmu tak akan mungkin membuatku kesah. Sebab telah kusaksikan sisa-sisa bathin manusia, yang bermuka dua dan berjejal dengki. Kebohongan tentang hidup hype yang dibikin rumit. Kendaraan lalu lalang di sepanjang tubuhku. Aku tak akan mengutuk temenku apalagi matahari. Doa-doa akan kubawa dalam diam, dalam ucapan yang kosong. Sehingga ketika menggerutu itu makin mendesah menjadi tangis bayi, kau tak akan membayangkan lagi bagaimana seseorang itu akan hamil. Aku adalah jalan dengan umur yang tak lagi kuhitung, seperti wajah-wajah itu pun, serta kurekam dalam kemuliaan. Dalam rekaman yang macam-macam. Mungkin saja mendung takkan datang di besok lusa tapi kesedihan tak akan pergi dari situ. Kota ini mungkin akan terus tumbuh, dan aku tak mungkin akan menyalahkanmu. Menyalak-nyalak seperti piaraan yang oren itu. Percayalah.

Cinta mungkin akan mempertemukan kita lagi. Malam dingin menciptakan teh panas yang pahit, barangkali tahu goreng dengan cabe rawit paling sempurna akan membawa ranjang kepada kita. Di sana kita akan menempelkan nama-nama negara dari dada sampai rongga-rongga yang membuatmu geli itu. Lalu akan kubisikkan satu mantra dalam cerita orang-orang dulu, teriakan yang menggetirkan cinta-cinta pujangga. Akan kutempelkan aku dalam dirimu, sampai kau mengerang aku, menjadi aku, menjadi jalan yang abadi.


Ditulis: Fanni Indra Pratama

Sabtu, 06 Juli 2024

Dibalik hujan ini masih menunggu kabar baik

 

Tiap orang punya rahasianya masing-masing

Sesuatu paling sunyi dalam ceruk jiwa mereka, yang bahkan bumbu kuning pun tidak boleh busuk

Untuk semua itu, dalam dirimu, dan juga jiwamu

Aku akan setia senantiasa menunggu di luar pintu

Di ujung rindu

Di tempat yang aku tak akan menciummu dengan sengaja

Dan cinta, seperti yang kamu bayangkan dan kita kenang dengan segala yang kita inginkan

Adalah air hujan
Yang tetap jatuh
Dalam kawanan gumpal awan


Ditulis: Fanni Indra Pratama


Selasa, 25 Juni 2024

Terima kasih Kabupaten Lebong

 

Jangan marah apalagi mengumpat
Sebab kemarahanmu akan mengurangi
Rindumu pelan-pelan
Seperti akan melupakan
Kabupaten ini
Dan pergi

Kabupaten ini, adalah aku
Aku telah memberi banyak kenang
Dan sekian kemungkinan
Beberapa jalan cinta tercipta untuk dikerjakan
Sedikit demi sedikit yang mesti kita tahu

Kamu tidak akan percaya
Bahwa aku bisa tinggal di kabupaten ini
Selama 8 bulan yang pendek
Dan rindu yang panjang

Tapi begitulah kabupaten kecil ini
Dia suka buat dada kita bergetar
Lebih keras dari biasanya
Membuang rindu dan mengemis ketabahan
Seraya berbisik
Bahwa kenyataan itu,
Adalah sebenar-benar semaian rasa
Yang perlu kita tuai betul-betul

Di kabupaten Lebong yang kecil
Biarlah perasaan kita kecil juga
Oleh sajak-sajak yang bikin rindu
Di irisan tipis bait-bait puisi ini
Oleh jarak marah dan rindu diam-diam
Sekali lagi
Terima kasih, Lebong


Ditulis: Fanni Indra Pratama

Rabu, 19 Juni 2024

Getir menjadi tawa bila kubersamanya

Dia menangis. Dia marah. Dia menangis lagi. Marah lagi dari kamarnya yang singup. Dia luntang lantung dan mati gaya. Tapi memang tak ada lagi yang bisa dilakukannya untuk keluar dari cerita cinta yang sangat kelam. Cerita cintanya kelewat susah, tidak bisa ditebak. Kekasihnya mengatakan padanya bahwa tidak akan menulis lagi untuknya, itu artinya, kekasihnya sudah tidak ada rasa cinta dan kasih sayang (Sebenarnya bukan begitu)

Hujanpun berangsur reda, tapi petir dan geletar halilintar belum juga berhenti. Setelah lelah dan penat dan luntang lantung, dia memilih menyendiri di kamarnya yang mungil.

"Kenapa kamu tidak mau menulis lagi untukku? Sedangkan kamu bilang tiap tulisan mewakili banyak perasaan kasih sayang."

Kata-kata kekasihnya tak pernah benar-benar menjadi sebuah pertanyaan. Terhadap takdir, dia tahu betul bahwa pilihan tak begitu banyak dihadapannya.

Suatu siang yang sangat panas dan tak banyak omong, kekasihnya sudah berkali-kali meyakinkan bahwa rasa cinta ini akan bermuara di pelabuhan cinta, pelabuhan yang ada hanya dia dan kekasihnya. Tapi keyakinan perlu kehendak kuat, juga kehendak Tuhan, kekasihnya tahu betul soal ini. Kepergian terjauhnya adalah ke rumah temennya, dia bercerita, tertawa, dan melepas rasa beban yang begitu berat. 

Semua orang tahu orang yang menanggung beban berat adalah orang yang siap menghadapi cobaan, dan hidup seseorang tak pernah lepas dari ini, seberapa pun dan beruntungnya seseorang.

"Kenapa kamu tidak mau menulis lagi untukku?"

Kekasihnya bingung dengan pertanyaan yang diulang, sedangkan jawaban dari pertanyaan kemarin belum juga mampir ke benaknya.
Dia menikmati sepi kamarnya dengan getir, dengan kesedihan dan muka linglung, dengan kopi sachet yang kebanyakan air, dan dengan air matanya sendiri.

Dia tahu kekasihnya ini keras kepala, batu. Sudah beberapa kali bardebat tapi tetap percaya sama pendiriannya. Hal-hal semacam ini lumrah sekaligus tak bisa dihindari. Dia bertahan. Air menggenang di setiap hilir kali, di setiap diri dan nadi. Di pikirannya apalagi, dia sungguh tak bisa berbuat apapun yang spektakuler untuk mengubah suasana. Derit kursi dan cinta-cinta murah, demi itu semua segalanya memang manis.

"Kalau saja kamu mau menulis lagi untukku… aku akan… "

"Akan apa?"

"Akan selalu mencintaimu sampai di keabadian tidak ada siapapun lagi"

"Tapi kamu tahu bahwa seratus persen cinta di hati ini tak sepenuhnya milik kamu, kubagi padamu sembilan puluh persen, bahkan sepersen pun kamu bilang cukup untuk membikin kamu yakin."

Dia dan kekasihnya tak pernah betul-betul bertengkar. Dia tahu kesedihan mesti disimpan sendiri dan sebaik-baiknya. Di hadapan banyak orang, mukamu harus segar dan tak boleh muram, tak boleh tertekuk apalagi mendung. Inilah yang paling vital sebagai manusia, dia tahu bahwa kamu harus hidup dengan citra sebaik-baiknya. Kekasihnya tetap diajak ngobrol, video call dan zoom bareng, cintanya masih dijaga sama besar, tapi…

Apa yang paling kuat dari kata tapi? Satu kata ini bisa membalikkan keadaan baik jadi kritis, dan keadaan buruk jadi melegahkan. 

Tapi, cinta yang dia pegang itu menyusut seminggu belakangan. Dia tak bisa lagi menulis kata-kata romantis seperti: Aku aku aku aku cinta cinta cinta cinta kamu kamu kamu, apapun apapun, sedalam sedalam sedalam, apapun apapun, pada siapapun, kau melabuhkan rindu. kumpulan kata-kata ini ditulis di blog pribadinya. 

Kamar kecil yang buat dia menangis memang aneh. Penghuninya aneh. Dia tahu kalau dia aneh. Seleranya pada laki-laki penulis juga selalu diolok-olok oleh kawan-kawannya. Dia banyak temen dekat. Di sekitarnya banyak tumbuh harapan dan kenyataan. Dia sangat membenci malam. Membenci sekaligus menyukainya malu-malu.

"Malam cuma membawakan pada dia dua hal: tangisan dan suara dengkur (ngorok) ."

"Aku tak menyukai suara tangisan, apalagi dengkur. Keduanya begitu lalim dan tak punya pengertian.

"Percayakah kamu, bahwa ada manusia hidup seperti malaikat?"

"Di lorong-lorong gang, orang mabuk pun bisa merasa suci. Di motel-motel reyot, para pelacur punya niat baik. Lantas apa yang kamu harapkan, kekasihku?"

"Percayakah kau, bahwa ada cinta tanpa mengharap imbal balik?"

Kekasih yang keras kepala, tidurlah. Tidurlah. Di sampingmu ada laki-laki Jawa yang sama keras kepala juga, harapannya semoga tidak ada lagi pertengkaran yang melibatkan perasaan yang jauh. Sudah cukup. Batinnya tersiksa, mungkin dia juga. Satu hal yang kamu ketahui, kekasihmu tidak akan meninggalkan mu. Mau seburuk  apapun itu. 

Tulisan panjang ini mungkin tidak akan sampai di mana pun dia berada sekarang. Tapi dia tahu kemana semua doa dialamatkan.



Ditulis: Fanni Indra Pratama

Selasa, 11 Juni 2024

Lembahyung Senja di GBK

Bergegaskah kita menanti malam yang panjang

Rutuk-rutuk gelisah meniru klakson yang bersahutan di sore Senayan

Padat dan berjejal dan terburu dan parau dan berisik sebab maghrib segera tiba.

Padahal rumah masih jauh diseberang pulau

Dijebak yang fana dan yang riil

Sementara

Soto Betawi tadi pagi segera basi

Aku hanya ingin mengecup sore segera mungkin dari balik senja itu

Sunsetmu, suara dan pasi wajahku
Mengerang paling panjang dalam ejakulasi paling rindu
(dalam goal paling lesak ke gawang Philippines)

Padahal rumah masih jauh diseberang pulau

Dijebak yang fana dan yang riil

Dan

Merayakanlah kita

 

Jakarta dini hari, 11-06-24

Ditulis: Fanni Indra Pratama

 


 


Senin, 03 Juni 2024

Selamat Ulang Tahun

Heey, Liverpool, sudah lama aku tidak menulis untukmu. Mungkin dengan tulisan ini kita bakal jadi lebih dekat.. 

Apakah dirimu sudah mulai berubah, berharap cemas tak terulang, hari-hari menyebalkan yang terus datang, dan obrolan tentangmu yang tak pernah hilang.

Setiap pertandingan kamu pasti memiliki cerita, kegembiraan atau tangisan yang akan terus ada, tidak bisa menghilangkan pemikiran jika dirimu adalah rumah. Tempat banyak orang untuk pulang, bertemu dengan kawan lama, tertawa, bahagia dan bersama tanpa adanya beban.

Dengan istirahat liga saat ini membuat kebingungan, macam romusha tanpa adanya hiburan semata, video-video lama terkadang menjadi alprazolam tiap harinya, gumpalan pikiran yang menjadi alasan anggur yang diteguk tiap malamnya. 

Hari ditulisnya bacaan ini ketika dirimu telah bertambah umur, sebuah klub pelabuhan yang menjadi pemberhentian terakhir dari semua kesibukan yang ada, menjadi tempat 90 menit untuk dipaksa menangis atau bergembira. Rasa cinta ini kami berikan tanpa henti, warna merah yang tidak berganti, dan Liverpool sampai berjumpa dikemudian hari.

Liverpool memang tidak menjanjikan surga, namun seperti agama, ia memberikan jalan keluarnya dari keresahan di dunia..



Ditulis: Fanni Indra Pratama

Minggu, 26 Mei 2024

Melawan Keterbatasan walau sedikit kemungkinan

Tentu saja aku merindukannya

Senyum dalam percakapan lama tak bertemu

Ketawa kecil dalam riang yang membuatku kagum

Dalam beberapa waktu kenang setelah the rain was bad

 

Apakah kamu mau siap-siap kujemput

Pada percakapan yang kunikmati jalan-jalan gelap

Tidak ada yang berubah

Hanya suasana yang saja yang berbeda

Bukankah yang berlalu diam-diam lebih enak seperti itu

Dalam diam yang tak pernah tersampaikan

Dan good luck good luck deh yang sedikit malu dan lowong belaka

 

Apakah semuanya cukup?

In fact, kamu bisa stay lebih lama dan kita bisa lebih banyak ngobrol

In fact, kita tidak punya apapun yang bisa dibicarakan selain Pantai sore menuju senja

 

Ya, gitu deh

Semoga kamu tahu

 


Ditulis: Fanni Indra Pratama

Kamis, 23 Mei 2024

Penghujung bulan penuh berkat

 

Ikan dan si ayam
Menerima nasib dilahirkan
Pada puluhan abad yang lalu
Pada tahun-tahun yang berdempetan
Dan simbol-simbol yang bersebelahan

Si ikan akan menelusuri lautan paling
Dalam di jiwanya sendiri
Si ayam terjaga dalam subuh pagi
Yang masih membiru
Bulan mei ialah bulan yang terang
Berpijar seperti kandilion yang
Tak pernah padam
Atau pun surut dari goda-goda
Hingar bingar bianglala di pasar malam

Si ayam menjaga si ikan
Sebagaimana persaudaraan
Diikat di sebatang pohon cinta paling kekal
Begitu pula sebaliknya
Sebab kata bapak dan ibu,
Cuma ketulusanlah
Yang membikin syukur terus dinyalakan

Beruntunglah ikan
Si ayam adalah
Pengembara dengan sayang
Paling malu-malu
(juga) beruntunglah ayam
Si ikan adalah syair
Dari doa-doa padang pasir
Atau kau boleh menyebut juga
Air di teruk nasib hari esok

Mei, Mei, Mei
Bulan yang baik tidak pernah
Satu kali saja ingkar
Kata mereka di sebuah percakapan
Penuh lika liku

Di rahim milkyway
Dunia yang luas
Beranak segala nasib
Dari bintang redup yang bercumbu
Kelelahan
( blarblarblar..)

Ayam dan ikan ini
Sepertinya suka bersyukur dari balik
Puisi atau sajak romantis
Sebagaimana setiap narasi
Yang tiap kali datang
Kepadamu ketika duduk-duduk 
Santai di bawah pohon kelapa
Siang-siang hari

Mei, Mei, Mei
Kepada nasib baiklah kita bersender
Menggelayutkan hari baik di sebalik obrolan Pendek



P.S: Tulisan ini merupakan kolaborasiku dengan Adikku sebagai ucapan maturnuwun kepada Bulan Mei yang memungkinkan kami merayakan banyak hal dengan kedekatan yang begitu itu. Dan tentu, karena kesibukanku dan adiku, tulisan ini baru sempat dipos pada penghujung Mei. Semoga kamu suka.


Ditulis: Fanni Indra Pratama & Bella Indah Permata Sari