Senin, 29 Juli 2024
Utamakanlah diriku di sisa hidupmu
Kamis, 18 Juli 2024
Meski ramainya kota ini terasa begitu sunyi
Aku menggerutu di jalan-jalan panjang, aspal kering yang riuh oleh pejalan. Pejalan yang menghabiskan keluh kesah dengan bersembunyi dari segala pekik di rumah jauh. Kalau boleh kubilang, kebohongan apa saja yang melelahkanmu tak akan mungkin membuatku kesah. Sebab telah kusaksikan sisa-sisa bathin manusia, yang bermuka dua dan berjejal dengki. Kebohongan tentang hidup hype yang dibikin rumit. Kendaraan lalu lalang di sepanjang tubuhku. Aku tak akan mengutuk temenku apalagi matahari. Doa-doa akan kubawa dalam diam, dalam ucapan yang kosong. Sehingga ketika menggerutu itu makin mendesah menjadi tangis bayi, kau tak akan membayangkan lagi bagaimana seseorang itu akan hamil. Aku adalah jalan dengan umur yang tak lagi kuhitung, seperti wajah-wajah itu pun, serta kurekam dalam kemuliaan. Dalam rekaman yang macam-macam. Mungkin saja mendung takkan datang di besok lusa tapi kesedihan tak akan pergi dari situ. Kota ini mungkin akan terus tumbuh, dan aku tak mungkin akan menyalahkanmu. Menyalak-nyalak seperti piaraan yang oren itu. Percayalah.
Cinta mungkin akan mempertemukan kita lagi. Malam dingin menciptakan teh panas yang pahit, barangkali tahu goreng dengan cabe rawit paling sempurna akan membawa ranjang kepada kita. Di sana kita akan menempelkan nama-nama negara dari dada sampai rongga-rongga yang membuatmu geli itu. Lalu akan kubisikkan satu mantra dalam cerita orang-orang dulu, teriakan yang menggetirkan cinta-cinta pujangga. Akan kutempelkan aku dalam dirimu, sampai kau mengerang aku, menjadi aku, menjadi jalan yang abadi.
![]() |
Ditulis: Fanni Indra Pratama
Sabtu, 06 Juli 2024
Dibalik hujan ini masih menunggu kabar baik
Tiap orang punya rahasianya masing-masing
Sesuatu paling sunyi dalam ceruk jiwa mereka, yang bahkan bumbu kuning pun tidak boleh busuk
Untuk semua itu, dalam dirimu, dan juga jiwamu
Aku akan setia senantiasa menunggu di luar pintu
Di ujung rindu
Di tempat yang aku tak akan menciummu dengan sengaja
Dan cinta, seperti yang kamu bayangkan dan kita kenang dengan segala yang kita inginkan
Adalah air hujan
Yang tetap jatuh
Dalam kawanan gumpal awan
Ditulis: Fanni Indra Pratama
Selasa, 25 Juni 2024
Terima kasih Kabupaten Lebong
Jangan marah apalagi mengumpat
Sebab kemarahanmu akan mengurangi
Rindumu pelan-pelan
Seperti akan melupakan
Kabupaten ini
Dan pergi
Kabupaten ini, adalah aku
Aku telah memberi banyak kenang
Dan sekian kemungkinan
Beberapa jalan cinta tercipta untuk dikerjakan
Sedikit demi sedikit yang mesti kita tahu
Kamu tidak akan percaya
Bahwa aku bisa tinggal di kabupaten ini
Selama 8 bulan yang pendek
Dan rindu yang panjang
Tapi begitulah kabupaten kecil ini
Dia suka buat dada kita bergetar
Lebih keras dari biasanya
Membuang rindu dan mengemis ketabahan
Seraya berbisik
Bahwa kenyataan itu,
Adalah sebenar-benar semaian rasa
Yang perlu kita tuai betul-betul
Di kabupaten Lebong yang kecil
Biarlah perasaan kita kecil juga
Oleh sajak-sajak yang bikin rindu
Di irisan tipis bait-bait puisi ini
Oleh jarak marah dan rindu diam-diam
Sekali lagi
Terima kasih, Lebong
Ditulis: Fanni Indra Pratama
Rabu, 19 Juni 2024
Getir menjadi tawa bila kubersamanya
Dia menangis. Dia marah. Dia menangis lagi. Marah lagi dari kamarnya yang singup. Dia luntang lantung dan mati gaya. Tapi memang tak ada lagi yang bisa dilakukannya untuk keluar dari cerita cinta yang sangat kelam. Cerita cintanya kelewat susah, tidak bisa ditebak. Kekasihnya mengatakan padanya bahwa tidak akan menulis lagi untuknya, itu artinya, kekasihnya sudah tidak ada rasa cinta dan kasih sayang (Sebenarnya bukan begitu)
Hujanpun berangsur reda, tapi petir dan geletar halilintar belum juga berhenti. Setelah lelah dan penat dan luntang lantung, dia memilih menyendiri di kamarnya yang mungil.
"Kenapa kamu tidak mau menulis lagi untukku? Sedangkan kamu bilang tiap tulisan mewakili banyak perasaan kasih sayang."
Kata-kata kekasihnya tak pernah benar-benar menjadi sebuah pertanyaan. Terhadap takdir, dia tahu betul bahwa pilihan tak begitu banyak dihadapannya.
Suatu siang yang sangat panas dan tak banyak omong, kekasihnya sudah berkali-kali meyakinkan bahwa rasa cinta ini akan bermuara di pelabuhan cinta, pelabuhan yang ada hanya dia dan kekasihnya. Tapi keyakinan perlu kehendak kuat, juga kehendak Tuhan, kekasihnya tahu betul soal ini. Kepergian terjauhnya adalah ke rumah temennya, dia bercerita, tertawa, dan melepas rasa beban yang begitu berat.
Semua orang tahu orang yang menanggung beban berat adalah orang yang siap menghadapi cobaan, dan hidup seseorang tak pernah lepas dari ini, seberapa pun dan beruntungnya seseorang.
"Kenapa kamu tidak mau menulis lagi untukku?"
Kekasihnya bingung dengan pertanyaan yang diulang, sedangkan jawaban dari pertanyaan kemarin belum juga mampir ke benaknya.
Dia menikmati sepi kamarnya dengan getir, dengan kesedihan dan muka linglung, dengan kopi sachet yang kebanyakan air, dan dengan air matanya sendiri.
Dia tahu kekasihnya ini keras kepala, batu. Sudah beberapa kali bardebat tapi tetap percaya sama pendiriannya. Hal-hal semacam ini lumrah sekaligus tak bisa dihindari. Dia bertahan. Air menggenang di setiap hilir kali, di setiap diri dan nadi. Di pikirannya apalagi, dia sungguh tak bisa berbuat apapun yang spektakuler untuk mengubah suasana. Derit kursi dan cinta-cinta murah, demi itu semua segalanya memang manis.
"Kalau saja kamu mau menulis lagi untukku… aku akan… "
"Akan apa?"
"Akan selalu mencintaimu sampai di keabadian tidak ada siapapun lagi"
"Tapi kamu tahu bahwa seratus persen cinta di hati ini tak sepenuhnya milik kamu, kubagi padamu sembilan puluh persen, bahkan sepersen pun kamu bilang cukup untuk membikin kamu yakin."
Dia dan kekasihnya tak pernah betul-betul bertengkar. Dia tahu kesedihan mesti disimpan sendiri dan sebaik-baiknya. Di hadapan banyak orang, mukamu harus segar dan tak boleh muram, tak boleh tertekuk apalagi mendung. Inilah yang paling vital sebagai manusia, dia tahu bahwa kamu harus hidup dengan citra sebaik-baiknya. Kekasihnya tetap diajak ngobrol, video call dan zoom bareng, cintanya masih dijaga sama besar, tapi…
Apa yang paling kuat dari kata tapi? Satu kata ini bisa membalikkan keadaan baik jadi kritis, dan keadaan buruk jadi melegahkan.
Tapi, cinta yang dia pegang itu menyusut seminggu belakangan. Dia tak bisa lagi menulis kata-kata romantis seperti: Aku aku aku aku cinta cinta cinta cinta kamu kamu kamu, apapun apapun, sedalam sedalam sedalam, apapun apapun, pada siapapun, kau melabuhkan rindu. kumpulan kata-kata ini ditulis di blog pribadinya.
Kamar kecil yang buat dia menangis memang aneh. Penghuninya aneh. Dia tahu kalau dia aneh. Seleranya pada laki-laki penulis juga selalu diolok-olok oleh kawan-kawannya. Dia banyak temen dekat. Di sekitarnya banyak tumbuh harapan dan kenyataan. Dia sangat membenci malam. Membenci sekaligus menyukainya malu-malu.
"Malam cuma membawakan pada dia dua hal: tangisan dan suara dengkur (ngorok) ."
"Aku tak menyukai suara tangisan, apalagi dengkur. Keduanya begitu lalim dan tak punya pengertian.
"Percayakah kamu, bahwa ada manusia hidup seperti malaikat?"
"Di lorong-lorong gang, orang mabuk pun bisa merasa suci. Di motel-motel reyot, para pelacur punya niat baik. Lantas apa yang kamu harapkan, kekasihku?"
"Percayakah kau, bahwa ada cinta tanpa mengharap imbal balik?"
Kekasih yang keras kepala, tidurlah. Tidurlah. Di sampingmu ada laki-laki Jawa yang sama keras kepala juga, harapannya semoga tidak ada lagi pertengkaran yang melibatkan perasaan yang jauh. Sudah cukup. Batinnya tersiksa, mungkin dia juga. Satu hal yang kamu ketahui, kekasihmu tidak akan meninggalkan mu. Mau seburuk apapun itu.
Tulisan panjang ini mungkin tidak akan sampai di mana pun dia berada sekarang. Tapi dia tahu kemana semua doa dialamatkan.
Ditulis: Fanni Indra Pratama
Selasa, 11 Juni 2024
Lembahyung Senja di GBK
Bergegaskah kita menanti malam yang panjang
Rutuk-rutuk gelisah
meniru klakson yang bersahutan di sore Senayan
Padat dan berjejal
dan terburu dan parau dan berisik sebab maghrib segera tiba.
Padahal rumah masih
jauh diseberang pulau
Dijebak yang fana
dan yang riil
Sementara
Soto Betawi tadi pagi segera basi
Aku hanya ingin
mengecup sore segera mungkin dari balik senja itu
Sunsetmu, suara dan pasi wajahku
Mengerang paling panjang dalam ejakulasi paling rindu
(dalam goal paling lesak ke gawang Philippines)
Padahal rumah masih jauh diseberang
pulau
Dijebak yang fana dan yang riil
Dan
Merayakanlah kita
Jakarta dini hari, 11-06-24
Ditulis: Fanni Indra Pratama
Senin, 03 Juni 2024
Selamat Ulang Tahun
Heey, Liverpool, sudah lama aku tidak menulis untukmu. Mungkin dengan tulisan ini kita bakal jadi lebih dekat..
Apakah dirimu sudah mulai berubah, berharap cemas tak terulang, hari-hari menyebalkan yang terus datang, dan obrolan tentangmu yang tak pernah hilang.
Setiap pertandingan kamu pasti memiliki cerita, kegembiraan atau tangisan yang akan terus ada, tidak bisa menghilangkan pemikiran jika dirimu adalah rumah. Tempat banyak orang untuk pulang, bertemu dengan kawan lama, tertawa, bahagia dan bersama tanpa adanya beban.
Dengan istirahat liga saat ini membuat kebingungan, macam romusha tanpa adanya hiburan semata, video-video lama terkadang menjadi alprazolam tiap harinya, gumpalan pikiran yang menjadi alasan anggur yang diteguk tiap malamnya.
Hari ditulisnya bacaan ini ketika dirimu telah bertambah umur, sebuah klub pelabuhan yang menjadi pemberhentian terakhir dari semua kesibukan yang ada, menjadi tempat 90 menit untuk dipaksa menangis atau bergembira. Rasa cinta ini kami berikan tanpa henti, warna merah yang tidak berganti, dan Liverpool sampai berjumpa dikemudian hari.
Liverpool memang tidak menjanjikan surga, namun seperti agama, ia memberikan jalan keluarnya dari keresahan di dunia..
Minggu, 26 Mei 2024
Melawan Keterbatasan walau sedikit kemungkinan
Tentu saja aku merindukannya
Senyum dalam percakapan lama tak bertemu
Ketawa kecil dalam riang yang membuatku kagum
Dalam beberapa waktu kenang setelah the rain was bad
Apakah kamu mau siap-siap kujemput
Pada percakapan yang kunikmati jalan-jalan gelap
Tidak ada yang berubah
Hanya suasana yang saja yang berbeda
Bukankah yang berlalu diam-diam lebih enak seperti itu
Dalam diam yang tak pernah tersampaikan
Dan good luck good luck deh yang sedikit malu dan lowong belaka
Apakah semuanya cukup?
In fact, kamu bisa stay lebih lama dan kita bisa
lebih banyak ngobrol
In fact, kita tidak punya apapun yang bisa dibicarakan selain Pantai sore menuju senja
Ya, gitu deh
Semoga kamu tahu
Kamis, 23 Mei 2024
Penghujung bulan penuh berkat
Ikan dan si ayam
Menerima nasib dilahirkan
Pada puluhan abad yang lalu
Pada tahun-tahun yang berdempetan
Dan simbol-simbol yang bersebelahan
Si ikan akan menelusuri lautan paling
Dalam di jiwanya sendiri
Si ayam terjaga dalam subuh pagi
Yang masih membiru
Bulan mei ialah bulan yang terang
Berpijar seperti kandilion yang
Tak pernah padam
Atau pun surut dari goda-goda
Hingar bingar bianglala di pasar malam
Si ayam menjaga si ikan
Sebagaimana persaudaraan
Diikat di sebatang pohon cinta paling kekal
Begitu pula sebaliknya
Sebab kata bapak dan ibu,
Cuma ketulusanlah
Yang membikin syukur terus dinyalakan
Beruntunglah ikan
Si ayam adalah
Pengembara dengan sayang
Paling malu-malu
(juga) beruntunglah ayam
Si ikan adalah syair
Dari doa-doa padang pasir
Atau kau boleh menyebut juga
Air di teruk nasib hari esok
Mei, Mei, Mei
Bulan yang baik tidak pernah
Satu kali saja ingkar
Kata mereka di sebuah percakapan
Penuh lika liku
Di rahim milkyway
Dunia yang luas
Beranak segala nasib
Dari bintang redup yang bercumbu
Kelelahan
( blarblarblar..)
Ayam dan ikan ini
Sepertinya suka bersyukur dari balik
Puisi atau sajak romantis
Sebagaimana setiap narasi
Yang tiap kali datang
Kepadamu ketika duduk-duduk
Santai di bawah pohon kelapa
Siang-siang hari
Mei, Mei, Mei
Kepada nasib baiklah kita bersender
Menggelayutkan hari baik di sebalik obrolan Pendek
P.S: Tulisan ini merupakan kolaborasiku dengan Adikku sebagai ucapan maturnuwun kepada Bulan Mei yang memungkinkan kami merayakan banyak hal dengan kedekatan yang begitu itu. Dan tentu, karena kesibukanku dan adiku, tulisan ini baru sempat dipos pada penghujung Mei. Semoga kamu suka.
Ditulis: Fanni Indra Pratama & Bella Indah Permata Sari
Kamis, 16 Mei 2024
Manusia paling keren setongkrongan Anggut
16 Mei 2024, jam 1 lebih 15 menit, Kabupaten Lebong, Bengkulu.
Ntah apa yang membuat aku masih terjaga di malam yang dingin ini, grup percakapan pekerjaan akhirnya berhenti berdentang, tapi rasa kantuk belum juga datang, akhirnya aku membaca apa yang apa yang pernah aku tuliskan.
Membaca tulisan lama, rasanya seperti menyelami diri aku sendiri, rasanya aku yang sekarang, begitu berbeda dengan yang dulu. Aku yang dulu rasanya punya keseruannya sendiri, walaupun mungkin untuk orang lain tidak seru sama sekali, dan ternyata aku menulis dari hal-hal sederhana sampai pikiran gilaku, dari kecerian masa kecil sampai kegalauan tentang cinta.
Aku yang dulu, rasanya memang bukan aku yang sekarang, ntahlah kemana dia, sudah hilang dan tenggelam ditelan bumi. Waktu cepat sekali berlalu yah, akan jadi seperti apa aku yang sekarang?
Ya, tetap jadi manusia paling keren setongkrongan Anggut. Tentunya.
Ditulis: Fanni Indra Pratama
Sabtu, 11 Mei 2024
Menciummu pelan-pelan
Sayangku,
Sore ini mas memandang fotomu
Tidak perlu bicara
Mari mas peluk lama-lama
langit-langit kamar dan di mana kita
Mas peluk erat-erat
Rambutmu yang gelombang
Enak lihat dipandang
Mana keningmu?
Mas ingin menciumnya
Jangan bibir
Nanti dulu
Kita masih jauh dari panas
jangan ke bawah-bawah, belum perlu
"Ah, yang bener?"
Katamu
Mari bicara tentang kita
Apa yang membuatmu yakin ke mas?
Apa yang membuatmu jatuh cinta ke mas?
Apa yang membuatmu yakin kalo mas jadi pelabuhan terakhirmu?
Dan apa yang membuatmu bisa mencintai mas secara tulus tanpa sebab?
Apa sayang?
Apa?
Obrolan semakin panas
Sekarang mas mau mencium bibirmu
Mencium dengan perasaan
Pelan-pelan
Hingga mata tertutup
Dan kembali buka dalam cinta yang panjang
Suka?
Sekarang kita tidur
sampai pagi menjelang
sampai siang sore kemudian
sampai dunia ini sepi hunian
Sampai kecup kening tanpa batas
Baru deh
Kita bangun dan boleh bertanya
Apakah ini mimpi?
hhehehe
Ditulis: Fanni Indra Pratama









