Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Senin, 28 Agustus 2023

Fields of Anfield Road

Hari masih terlampau pagi untuk aku yang seharusnya masih terlelap di harinya Liverpool. Nanti malam adalah pertandingan yang ditunggu-tunggu setelah sekian lamanya. Dan Liverpool sudah dirindukan sejatinya sepakbola di rumah sendiri. Beberapa hari sebelum ini, pesan-pesan kerinduan tentang pertandingan sudah kebak di lini masa. Sungguh, teman, hari libur sepakbola sama seperti anak SMA menunggu hasil ujian nasional.

Menonton Liverpool malam ini adalah seperti datang menonton sepakbola dengan pengalaman baru yang bisa dikabarkan ke sanak keluarga tidak dengan malu-malu, dan ini berita paling bagus dari sekian tahun ini. Dari layar pc,smartphone dan tv ada keasyikan yang beda dengan cara mendukung tim kebanggaan. Dengan chants dari rumah kerumah itu yang membuat kita sebagai Liverpool fans selalu semangat untuk mendukung tim kebanggaan. Dan dari situlah kita tahu bahwa mereka yang bermain di lapangan juga sedang dikobar semangatnya.

Anfield, Anfield, Anfield kamu tampak megah di lihat dari sudut mata yang merah ini, aku begitu mengagumimu dalam banyak hal. Kamu adalah perwujudan animisme dan dinamisme sekaligus. Anfield menghadirkan roh-roh kejayaan Liverpool. Segala terekam di Anfield seperti air terjun yang deras arusnya. Ia bisa saja menyegarkan, bisa saja menggelamkan. Anfield selalu menjadi bagian dari bagiamana fans Liverpool mengukir langkahnya.

Selayaknya pertunjukan komedi, Anfield seperti ada di ruang gelap dengan sorot lampu. Ia meraba hendak kemana sementara audiens menertawakan kebingungannya. Ia selalu begitu. Untung saja selalu ada para pendukung yang mendekor petunjukkan dengan apik, mempersiapkan mikrofon terbaik, dengan sorot lampu termegah. Selayaknya pula pertunjukan  komedi, sekeras apapun tawa para penonton akan berakhir dengan riuh tepuk tangan karna pertunjukan berhasil. Seperti itulah Anfield

You'll Never Walk Alone!


Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama


Kamis, 17 Agustus 2023

Tempat terbaik untuk bertemu

Sejatinya warung kopi atau lebih disingkat warkop tersedia untuk mereka yang haus dan lapar. Obrolan dibutuhkan untuk mengisi keringnya dahaga alih-alih es teh dapat memainkan perannya untuk memenuhi semua itu. Mie rebus dan mie goreng selalu menyapa dengan riang, bakwan dan tahu goreng pun serupa, mengisi setiap kesepian diseluruh resah umat manusia. Secara luas manusia di bumi, dan secara sempit manusia-manusia yang selalu datang di warkop pinggir gang dekat rumah Bung Karno.

Setiap tempat pasti akan meninggalkan suatu bekas yang akhirnya menjadi sesuatu yang asik untuk diceritakan. Maka kali ini aku akan certikan sesuatu yang memiliki pengaruh besar bagi anak-anak muda kelurahan Anggut. Sebuah tempat yang selalu memberikan ide dan gagasan untuk anak-anak muda, serta memikirkan "apo yo enak gawe malam ko?" atau "kemano toboko malam ko idak ngumpul siko?" Tempat itu adalah tempat yang dari dulu menjadi tempat terbaik untuk bertemu bagi masyarakat muda Anggut. Dan tempat ini juga menjadi icon nongkrong buat anak-anak Anggut untuk sekedar melegakan penat setelah aktivitas kerja, kuliah dan sekolah yang menurut beberapa dari kami menjadi sebuah rutinitas yang membosankan. Segala keluh kesah, guyonan jenaka serta pembahasan politik menjadi hal menarik ditempat ini. Tempat ini bernama warkop Kang Iwan.

Kang Iwan yang sudah aku anggap sebagai bapaknya anak-anak muda anggut, bapaknya Anggut Boys kalau aku dan teman-teman bilang. Walaupun Kang Iwan bukan asli Anggut, namun Kang Iwan dengan senang hati mendengarkan keluh kesah kami dan memberikan kami solusi atas apa yang kami lakukan, dari masalah curhat pribadi maupun tentang asmara. Tidak hanya itu, Kang Iwan juga sering memberikan motivasi pada kami agar tetap memikirkan masa depan. Di tempat ini pula di kala tanggal tua dan dompet menipis, Kang Iwan tak segan segan memberi hutangan agar perut kami tidak melilit. Bahkan ketika ada sisa menjelang tutup pun kami sering diberikan cuma-cuma untuk menghabiskan dagangannya.

                                                                Warkop Kang Iwan 2018


Bagai durian yang  tidak lepas dari makanan khas Bengkulu "lempuk", aku dan teman-teman pun juga sulit lepas dari tempat ini. Tapi siapa sangka sejak awal pandemi tiga tahun lalu warkop Kang Iwan tutup, dikarenakan 3 bulan terakhir pemasukan warkopnya sangat menurun. Aaarrrghhhhh dengar kabar buruk itu rasanya kesal sekali. Kami sebagai penunggu wakop itu sangat sedih mendengarnya. Terbesit juga dipikiran kami ingin membantu, tapi perasaan kami mengatakan bantuan ini pasti di tolak, karena kami tahu betul sifat Kang Iwan yang selalu menolak bantuan.

***

Hmmm beberapa saat tanganku berhenti sejenak di atas keyboard pc sambil memejamkan mata, dan membayangkan betapa indahnya kenangan yang ada di warkop itu. Rasanya ingin sekali memutar waktu ke masa-masa indah itu. Sebagian waktu tersita di sini dan aku pun sangat beruntung hadirnya warkop ini. Warkop ini jadi tempat ternyaman untuk betegur sapa, menanyakan kabar dan selalu menjadi tempat terbaik untuk bertemu.

Aku membuka mata setelah beberapa saat terpejam, masih di siang hari bersama pisang goreng dan es kopi, ada kenyataan yang masuk di dalam pikiran aku; Warkop Kang Iwan bukanlah warkop  besar, bukanlah warkop yang ada wifi nya. Warkop kang Iwan adalah rumah. Ia adalah tempatnya pulang. Kadang aku setiap pulang kerja selalu mampir di sini. Hanya demi pertemuan dengan kawan dan saudara, berkumpul dan menyanyikan lagu kesukaan kami, dan kita. Inilah warkop Kang Iwan yang menetap dalam pikiran aku, sebuah warkop bagi segala musim. Baik yang kemarau atau penghujan, yang mana saja asal kami bisa kembali berkumpul.

Beserta tulisan ini, aku hanya bisa berharap beliau baik-baik saja di sana. Oh keadaan lekaslah membaik, izinkan kami berjumpa kembali sesegera mungkin.


Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama






Kamis, 27 Juli 2023

Menolak untuk mengagumimu dalam diam

Jordan Brian Henderson atau lebih dikenal Hendo, ia adalah nama yang kerap luput dari lidah orang ketika membicarakan tentang Liverpool. Tak salah juga, memang ia tak terlalu begitu di perhitungkan di kalangan pemain liverpool lainnya. 

Mudah untuk mengingat gol yang tercipta dan cerita heroik bagaimana pertahanan lawan dengan mudahnya ditembus. Namun susah untuk mengingat tekel krusial dan intersep yang membuat jala gawang tetap diam. 

Buatku ia bukan gelandang biasa, ia mempunyai jiwa leadership yang bagus, spirit fighting yang bagus dan juga motivasi di lapangan dalam memimpin rekan-rekanya.

Ia konstan dalam setiap tonggak perjalanan Liverpool. Ia ada ketika di bawah maupun di atas, ia tetap ada meskipun dari tahun ke tahun satu per satu temannya pergi, entah karena tergoda akan kemewahan yang ditawarkan club lain atau karena kualitas yang mulai tak sejalan.

Baginya, komplimen senyap dan kesederhanaan di club ini sudah cukup. Mengabaikan setiap penghargaan yang sepadan dengan talentanya.

Jendral lapangan tengah Liverpool itu pernah mendapatkan rekor melakukan 172 sentuhan terhadap bola dalam satu pertandingan. Menurut Goal.com jumlah tersebut menjadi yang terbanyak dari seorang pemain di enam kompetensi elit Eropa. 

Tak cuma itu yang jadi catatan apik Henderson. Gelandang Timnas Inggris tersebut melakukan 165 operan dalam satu pertandingan, di mana 151 berhasil tepat sasaran. Itu artinya 91 persen sukses.

Walaupun lini tengah banyak dihuni pemain muda top Eropa dan membuat posisinya rapuh, ia tetap teguh pada titiknya. Hanya intervensi yang mampu menyingkirkannya. Ia tak perlu menunjuk angka statistik maupun mulut orang jabatan untuk membelanya.

Ia percaya akan persepsi objektif tentang dirinya selama di Liverpool. Beban di pundaknya setiap kali menuntun rekannya keluar dari lorong stadion pun tak ia rasakan. Ia terima setiap mata penuh kegusaran yang menyaksikan. 

Baginya kegelisahan suporter miliknya juga. Kegelisahan suporter ia pilih bayar dengan kinerjanya. Liverpool telah menjadi bagian dari dirinya. Ia pantas mendapatkan lebih dari yang selama ini ditawarkan.

Untuk setiap ide lawan yang berubah ketika bola berada di area tengah lapangan pertahanan Liverpool, ia selalu siap menjaga lini tengah dengan gagah berani, kali ini aku menolak untuk mengagumimu dalam diam.

Terima kasih atas segalanya buat Liverpool. Perjalanan panjang 12 tahun yang tak pernah dilupakan. Aku akan ingat selalu kisah- kisah yang pernah kamu ciptakan di Anfield. Sekali lagi, Terima kasih. 

Hari ini kucukupkan tulisan untukmu, esok kutuliskan lagi ntah itu tulisan sedih, senang atau rindu, yang pasti menyebut namamu dalam pujian adalah hutang yang perlu dibayarkan kepada kebajikannya. Jordan Henderson! 


Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama

Selasa, 18 Juli 2023

Aku khawatir

Hujan yang tak kunjung henti membuatku untuk menetap di sini. Ayam subuh mulai berkokok di seputaran depan warkop. Berhubung adzan subuh sudah berkumandang, sontak aku diajak kawanku untuk menjalankan dua rakaat yang mustajab.

Shalat subuh pun dilakukan dengan khusyu. Ini dikerjakan setelah melalui tahap basuh badan dengan perlahan dan menenangkan hati dan pikiran. Setelah mengerjakan ibadah yang penuh nikmat aku sebagai hambanya memanjatkan do'a-do'a yang paling baik agar sampai ke arasy. 

Salah satu doaku adalah "ya Allah semoga engkau selalu dekatkan aku dengan orang-orang yang terkasih dan tersayang sebagaimana engkau mengasihi ku sebagai hamba dan semoga engkau juga terus memberi kesehatan dan rezeki yang berlimpah kepadanya perempuan yang telah membuat hari-hari ku selalu tersenyum di penghujung malam seperti pantulan cahaya siang dan malam yang menuju kepadanya, aku hanya hamba yang maha pecinta dan peminta kepadamu ya Allah."

Beres-beres sajadah dan peci yang ku pinjam di musholla belakang warkop favorit tempat biasa bercengkrama, lalu kawanku bertanya "siapa perempuan yang akhirnya membuat hariku tersenyum kembali dan tidak murung seperti setiap hari menjalani hari yang jengkel?"
Aku hanya menjawab "ia adalah perempuan yang tahu dan paham keadaan baik dan buruk ku."

Lalu kemarin tlah lewat dan hari ini subuh itu terulang, aku sholat sendiri dengan perasaan yang tak menentu.

Tiap bait lafadz Allah tersengguk-sengguk kuucapkan aku hanya menahan tangis dan isak tentang apa yang kudapati pemberitahuan mengejutkan di antara hujan dan baris kolom chatting yang terlihat. Ritual pun sudah selesai dan tangan ini mengadu kepadanya. 

"Ya Allah ya rabb" Jika apa yang kuyakini itu bersebrangan dengan apa yang menjadi ketetapanmu, aku hanya meminta agar akhiri  kisah cintaku ini kepada hambamu, kaum hawa yang membuatku sakit badan, sakit hati. 

Hanya padamu hati ini berserah dan segala upaya yang kuusahakan hanya kau yang maha memberi, penyayang, dan pengasih, itu pula tentang cinta dan sayang kepada umat mu.
Ibadah selesai dan hujan subuh semakin deras. Aku keluar perlahan dari musholla yang sepi dan nyaman. Ku pegang payung dengan sangat keras agar hujan tak mengenai badan. Lalu aku teringat antaraku kamu dan rabb hanyalah seumpama agar manusia tidak pernah berburuk sangka kepada cara kerja cintamu untuk sang hamba. 

Aku meliputi rasa tak karuan disetiap jalan subuh yang masih membiru ini. Aku tidak tahu bagian mana perasaan ini tak enak dan sejak kapan aku tahu bahwa ku menyayangimu.


Ditulis: Fanni Indra Pratama



Sabtu, 24 Juni 2023

Rinduku dari sini

Tentu, ada jarak
yang tak mungkin ditempuh
jarak yang begitu jauh
bersebrangan pulau

Musim hujan telah datang
di antara
kesepian
kerinduan
dan keresahan

Kota-kota itu seperti
hendak memakanmu
tapi pasti kamu lebih gampang
jumpa sambal rawit dan nasi
yang sering kamu makan
dan lalap kemangi dan lauk lengkap

Pada rindu-rindu kecil
kita menyimpan
belasan kenangan
dan surat balasan
dalam kantung baju
kita yang mungil
biar kekal di situ

Malam akan lewat
macam-macam hal pun begitu
senyummu dari kejauhan
sangat gemilang
seperti kotamu
atas nama semua itu
kita bersyukur
pertemuan akan segera tiba

Salam.
Di Bengkulu, musim hujan datang terlalu dini
Rinduku dari sini.



Ditulis: Fanni Indra Pratama

Sabtu, 17 Juni 2023

Mungkin Hidup Hanya Butuh Sabar

Ada masa di mana abang joy ini dagangannya sepi, sepi karena pandemi. Aku beberapa kali mampir di pertengahan pandemi, dan biasanya cuma aku yang beli, mungkin ada beberapa orang lain, tapi di lain waktu, ya mungkin.

Kira-kira 2 tahun berselang sejak itu, pandemi mulai mereda, semua orang disuruh vaksin, vaksin mulai bekerja, dan orang-orang mulai ada. Parkiran si abang Joy mulai penuh, waktu tunggu mulai menjadi lama, bahkan sudah ada tukang parkirnya.

Mungkin hidup emang cuma butuh sabar, ya ketika susah sabar aja gitu, nanti juga ada jalannya. Mungkin kalau si bang Joy engga sabar dan menyerah, parkiran ini engga akan sepenuh sekarang, eh bisa jadi tetap penuh, tapi bukan untuk beli martabak.



Ditulis: Fanni Indra Pratama

Rabu, 17 Mei 2023

Semoga segala hal yang baik selalu hadir

Hallo Rahmi Maiyunda, sudah lama aku tidak menulis surat untukmu, aku ingin merayakan ulangtahun mu di tengah cuaca yg akhir-akhir ini sangat panas. 

Kamu gimana kabarnya? Semoga selalu baik dalam lindungan allah ya rah, kalo aku bertanya tentangmu rasanya tulisanku engga akan muat deh karena kamu selalu membuat aku berdiksi disepanjang pikiranku.

Kamu sehat-sehat aja kan? Jangan sakit-sakit ya rah, soalnya cuaca di kota kelahiran kita lagi tidak bersahabat, suhu panas merajalela bak seperti lingkaran api.

***

Aku di sini hanya ingin menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan, tapi sebelumnya aku minta maaf kalau tulisan ini menyinggungmu. 

Menurutku kamu ini orang yang unik. Kamu jenis orang yang ketika selesai hujan meminta Tuhan mengulangnya dari awal. Kamu bisa sedih hanya mendengarkan lagu-lagu melow kpop kesukaanmu. Kenangan buruk terpacak di situ tapi kamu pandai meredakan diri sendiri. Kamu pandai berkelit dari kepedihan. Menjadikannya sesuatu yang lumrah, tapi tak kapok. Oh, itu kamu sekali. Aku tahu itu.

Kamu selalu menyukai malam, karena di sana banyak kenangan yang kamu ingat. Malam adalah ibu kedua bagi pikiran kusut, sebab itulah kamu merasa dekat. Aku selalu berpikir kenapa kamu terus saja bersikap cuek terhadapku? Apa yang salah dariku? Ini seperti tidak adil. Tapi bodohnya aku terus saja membayangkanmu, Rahmi. Aku hanya ingin kamu mengerti, aku selalu sayang kamu, rasaku belum bisa berubah untuk siapapun masih kamu yang paling melekat sampai detik ini. 

Terakhir, aku berdoa semoga kamu selalu diberi kekuatan untuk mengampuni mereka yang menyakitimu, semoga kamu diberikan ketabahan untuk memaafkan mereka yang tidak mampu mengucap maaf kepadamu. Aku selalu mendoakan banyak hal baik dan kebahagiaan serta perlindungan untukmu.

Sekali lagi, aku minta maaf kalau terlalu bawel dalam tulisan ini, aku hanya ingin menyampaikan apa yang ingin disampaikan. 

Selamat ulangtahun Rahmi Maiyunda Sari, lekas menjadi manusia yang baik untuk dirimu dan segala apa yang tumbuh bersamamu. Cheers 🥂


Ditulis: Fanni Indra Pratama



Kamis, 11 Mei 2023

Banyak kehilangan tak bisa dihindari dan dari situlah kamu bisa mengukur diri.

Perpisahan dan kehilangan, dua kata yang tidak pernah mengenakkan. Mau bentuknya apapun, apalagi untuk orang yang sedang berkabung seluruh dan seutuhnya. 

Aku berdoa tiada Tuhan selain Allah dan semua apa yang menjadi takdirnya semoga itu yang terbaik sebagai hamba yang hanya dititipkan sementara di dunia yang kecil ini. 

Peluk hangat untuk ayah mu Rizka. Surga Firdaus untuk ayah dan segala isi di dalamnya.
Paragraf pertama adalah bagian suka duka terdalam untuk seorang teman yang kehilangan orang yang tersayang dan paling berharga dalam hidupnya.

Tapi tulisan ini mencuat karena semua perkara "kehilangan"

Ku ceritakan sedikit tentang apa yang menjadi "kehilangan" Dan bagaimana pengorbanan sebagai ayah.

Temanku pernah bilang "kalau ingin jadi ayah harus siap mental dan finansial, Fan" Dia berbicara seperti ini setelah mendapat rezeki yang sudah diujung tanduk akan doa yang mulai pupus dan mata yang menahan tangis oleh sembap.

Tiba-tiba minggu pagi itu dia menghubungiku dan mengatakan 
"Fan, ada sedikit proyek kecil nih, temenin aku yuk ke pasar Panorama" 

Ternyata ia menjual barang yang lumayan berharga karena prioritasnya bukan lagi sekadar badannya, tapi seluruh badan yang ia hidupi di rumah sederhana berukuran 10x15m.

Aku yang memang senang dengan jalan-jalan alih-alih mengusir kesuntukan yang menghantam kepala setiap saat. Disepanjang jalan kita banyak melakukan haha hihi dan disetiap tikungan jalan kita banyak menceritakan tentang kisah yang pernah kita alami.

Aku nyeletuk "eh di lampu merah ini biasanya aku belok nih, terus disahuti oleh temanku, ini yang dulu mantanmu yang sulit dilupakan itu ya Fan hahaha"

Aku cuman senyum sepanjang jalan dan mulai menapaki diri mencapai pasar Panorama. 
Setelah obrolan mulai mendalam, lupa sejak kapan kita bergeming dan aku mulai menceritakan bagaimana hebatnya ibuku yang kalau dia bukan "ibuku" Mungkin aku akan habis di kota kecil ini.

Lagipula sebaik-baiknya menjadi orangtua (ibu) yang mendahului keperluan anaknya, mau itu merenggut kebahagiannya sekalipun.

Ditulis: Fanni indra pratama


Sabtu, 06 Mei 2023

Kenangan itu

Kamu kokang rindu kosong
dengan hati yang penuh dendam
Amarah dan tangismu
seperti alarm
atas ketidakpedulianku

Ini malam minggu di mana
kesunyian terasa hampa
bahkan di muka
tepi jalan

Kamu boleh, mungkin saja,
menganggap ini kenyataan
atau kesungguhan.
Sebab rutin telah membuat kita lupa
pada cinta dan kesudahan


1.
Oh. Malam penuh kerinduan ini hujan
kamu tahu tuhan, kamu ciptakan itu
terus menerus
selalu silih berganti
pagi panas dan sore hujan
ini hujan, tuhan


2.
Apakah perempuan itu di dalam mimpi
akan membayangkanku
yang sedang rapuh
baik raga maupun rasanya
baik cium maupun peluknya


Di balik awan, kekasihku
sayangku yang lucu, ngeselin dan
berjejal acuh
bolehkah, bolehkah,
kita simpan lebih banyak


Kenangan-kenangan itu.



Ditulis: Fanni Indra Pratama


Kamis, 27 April 2023

Kita rayakan bersama saat semua telah usai

Hey kamu, sini, kemarilah. Duduk sini disebelahku dihadapan meja yang penuh kesepian, agar sepasang mata kita sama terjaga.. 

Masih ingatkan permainan dadu yang sering kita mainkan dulu? Masih ingatkan? Ditanganku ini ada sebuah dadu yg ingin kumainkan denganmu.

***

Masih ingatkan aturan mainnya? Yaudah kalau lupa aku jelasin lagi aturan mainnya begini, ketika dadu ini keluar genap, aku punya kesempatan untuk bertanya, tetapi ketika dadu ini keluar ganjil, aku akan jawab apapun pertanyaanmu. Apapun.

Gimana? Cukup adilkan?

Oke, kita mulai! 

Kukocok dadu ini, aku pandangi matamu lama-lama dengan perasaan yang sama.

***

Genap, berarti ini giliranku.

Aku sudah tidak sabar untuk bertanya, sebab kita sudah lama tak bersua, dan kabar di antara kita cuma mampir seperti hujan panas yang turun hanya di bulan Oktober.

"Kenapa."

Kenapa satu kata ini selalu keluar sejak awal pertanyaan. Kenapa ini terus saja mengganggu pikiranku tentang kamu.

Kenapa, jika kamu memang menyayangi aku, sampai semuanya itu kita tempuh, kamu memilih menyudahinya baik-baik? Bukankah, bila kita menyudahinya baik-baik, ada yang tak akan hilang di antara mata kita ini.

Bukankah, menyudahinya buruk-buruk justru akan membunuh kisah di ingatan kita sejak menit pertama kita memutuskannya? Paling-paling kita hanya akan bersedih dengan kenangan manis, sesudah itu bangkit lagi menuju realita hidup yang lebih nyata. Dan kita akan lebih sejahtera di jiwa dan di batin setidaknya ada yang lebih tepat di situ."

Matamu kuat. Dua matamu tak berkaca-kaca sedikit pun dengan pertanyaanku, sama kuatnya dengan mulutmu yang manis itu. Pandanganmu fokus, tidak ada kesan gelisah apalagi gugup. Kamu, kuakui, sehari lebih serius dari biasanya, dua hari lebih dewasa dari biasanya, dan dua tahun lebih jauh dari biasanya.

Kemudian kamu mulai bicara..

"Fan, kamu pernah bilang, bahwa cinta itu berlaku hari ini dan seterusnya. Kamu adalah episode cinta yang panjang, tapi bukan episode yang terus menerus. Aku menghargai puisi-puisi dan lagu-lagu yang kamu buatkan untukku, tapi aku harus jujur, aku tidak bisa hidup di cinta yang kelewat melankolis. Aku tidak bisa Fan. Sebenarnya sudah lama mau mengutarakan ini tapi belum ada keberanian. 

Kamu sendiri pernah bilang bahwa cinta di antara kita ini sederhana. Pokoknya, di antara kita tidak perlu ada yang diperjelas. Kenapa aku harus mengatakan ini? Karena kamu tahu, bahwa aku bukan orang yang mudah mati rasa. Aku bisa sewaktu-waktu peduli lagi, dan bisa mampir kepadamu tanpa membangun cerita lagi. Tapi, aku egois dan kamu tahu ini. Kamu sendiri yang mengajariku untuk berlaku tidak adil."

***

Aku senang dengan jawaban dan kejujuranmu. Aku menghargai itu. Kamu memang perempuan yang selalu serius. Kamu adalah sesuatu yang lain, perempuan pintar yang sulit di atur. Dan lebih penting dari itu, aku bersyukur kita masih punya waktu untuk bertemu begini. Bertukar dendam secara baik-baik. Bukankah itu hal yang magis?

***

Sekarang giliranmu mengocok dadu, kamu menahannya agak lama di tangan kananmu. Kamu melakukannya sambil menggumam lagu ONE OK ROCK "Heartache" yang dulu sering kita nyanyikan. 

Genap lagi, giliranku lagi, apakah adil? Aku punya banyak pertanyaan, sih? Masa dari tadi kocokan ini tidak ganjil?

Tapi kita sudah menyepakati permainan ini sejak awal. Kamu menyuruhku bertanya lagi, maka aku akan bertanya dengan senang hati. 

"Jadi, apa yang kamu maksud dengan cinta yang sebenarnya? Misal, seandainya kamu merasa sudah menemukannya tapi kemudian sadar bahwa itu adalah cinta yang salah, dan sialnya aku akan menolak jika kamu kembali?"

Kamu tersenyum, tidak menampakkan muka cemas atau gugup, kamu hanya menunjukan senyuman manismu, seolah-olah ini pertanyaan biasa yang bisa muncul kapan saja di hidupmu, dan kuyakin betul kamu menganggapnya begitu. Kamu mulai menjawab lagi.

"Pertanyaan yang berat amat fan, jujur, kamu menonjokku tepat di tenggorokan, jadi aku agak kurang siap dengan posisiku sekarang ini, tapi tentu akan kujawab pertanyaanmu"

"Menurutku cinta adalah proses pengalaman yang bijak, kamu hanya bisa menjawab ketika kamu sedang meraskannya. Aku sudah curiga, sejak awal pertanyaanmu, aku yakin kamu hanya mau menjebak saja, kamu tahu kalau cinta itu tidak pernah ada deskripsinya di kamus kita yang serba terbatas. Aku sudah menemukan pria yang kurasa jauh lebih menyenangkan darimu, jauh lebih cerdas darimu, jauh lebih sabar darimu, dan jauh lebih paham situasi darimu, dan jauh lebih dekat darimu. 

Jauh lebih semuanya daripada kamu. lagi pun ini penting, jauh lebih dekat. Dari semua hal, ini paling penting. Aku bukan perempuan yang bisa menahan rindu lama-lama, sementara kamu terus meyakinkanku untuk bertahan dengan puisi romantismu. Tai kucing, kan?

Aku tahu kamu anak pertama, punya watak yang keras dan tak mau kalah, aku juga sama. Aku yakin, jika kita tahu bahwa cinta ini sungguhan, di antara kita tetap akan memilih diam. Iya, kan? Aku tahu kamu, tahu sekali. 

Selama ini pun kita tak pernah membahas hal ini setiap pertemuan, kita memikirkan apa yang terjadi besoknya. Whatsapp, video call dan surat, sudah berhasil menciptakan kita jadi robot. Robot yang dingin dan tak peka. dan ketakpekaan ini kurasa adil. Kita memang tak punya rasa sayang yang besar dan seluas itu. Kalaupun ada, aku memilih menenggelamkannya pada nasib. Aku tak akan mencarimu, sampai sini paham?"

***

Wow, nada bicaramu sudah meninggi. Hmmm asal kamu tahu aku jatuh cinta padamu bukan tanpa sebab. Aku jatuh cinta padamu sebab alasan yang banyak: Sebab kamu lucu, sebab kamu pintar, sebab kamu anak pertama yang manja. Perempuan manja selalu di kangenin. Mendampingi perempuan manja, kurasa akan membuatku nampak seperti pahlawan yang siap menjaga orang yang di cintainya. 

Tapi kamu benar. Nasib adalah kata-kata paling puncak sejak ratusan tahun lalu. Sejak bumi ini masih hijau, dan kita akhirnya bertemu di sini, di tempat yang sering kita kunjungi dan kita memang mengisi ketersambungan nasib sejak dunia dijadikan.

Sepertinya kamu sudah lelah dengan dua kali permainan dadu ini. Aku pun belum punya lagi pertanyaan. Dan kamu sepertinya tak peduli pada fakta bahwa kamu belum bertanya apa-apa padaku. Tapi jujur, aku takut ditanya, aku takut tak punya jawaban sebaik jawabanmu.

Tapi yasudahlah kita selesaikan permainan dadu ini seperti hubungan kita. Eh bukannya hubungan kita sudah lama selesai? Maksudku kenangan kita. 

Oh ya undangan pernikahanmu sudah kuterima tapi belum kubaca, aku belum siap untuk kecewa kedua kalinya. Doaku masih sama, semoga pernikahanmu lancar tanpa hambatan, dan dia selalu menjagamu. Sampai kapanpun

Sekarang pulanglah, langit sudah merah malam pun mulai mengintai dan dia sudah menunggumu. 

Aku pamit ya, sampai bertemu di lain waktu.

Dokpri

Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama




Selasa, 04 April 2023

Dirgahayu ya bu, udah itu aja

"Pergi kemano dang?"

"Baliknyo jangan malam-malam"

"Jangan lupo bawa kunci belakang"

"Hati-hati"


Empat kalimat ini adalah hafalan luar kepala ibu ketika aku sibuk ubak-ubek di kamar di waktu-waktu acak karena ibu tahu aku segera berangkat tidak lama. Ibu balik piring dan meletakannya di meja seperti yang sudah-sudah bahwa aku ditunggu di rumah untuk makan malam berikutnya, secepatnya. Pertanyaan ibu bisa datang kapan saja sewaktu ibu ngapain aja, entah itu mencuci piring, setrika di dekat ruang tamu atau merapikan isi rak-rak yang selalu terlihat berantakan di mata ibu, atau kadang sambil menonton tutorial masak di youtube Chef Arnold dengan separuh headshet yang menggantung: membagi suara yang ibu denger dari telepon seluler dan jawaban-jawabanku.

Beberapa kali ibu mengingatkanku tentang bahaya di luar sana dan kerasnya dunia malam ditambah berita di media online terutama Instagram "Bengkulu Info" yang tiap malam selalu update tentang kecelakaan, pembegalan, dan hal-hal buruk. Ibu pengen memastikan apa aku baik-baik saja, biasanya hanya kelelahan dan tidur seharian. Kadang aku bangun tengah siang dan ibu memberikan kabar apapun tentang kejadian yang ada di "Bengkulu Info" bahkan sebelum aku tahu, walaupun aku jarang peduli. Tapi ibu selalu begitu.

***

Aku masih ingat waktu smp dulu aku selalu minta buku yang bergambar Naruto, One Piece atau berbau Jepang, segala isi kamar yang sebisa mungkin ada poster anime, bahkan tanpa diminta aku selalu mendapatkan komik One Piece, anime kesukaanku. Bahkan dengan bangganya ibu menceritakan kisahku yang suka menonton anime berjam-jam ke tetangga sebelah rumah tanpa aku sadari. Aku selalu tersenyum kalau mengingat cerita itu.

Hari ini tanggal 4 April, hari kelahiran ibu, hari lahirnya ibu di bumi. Banyak sekali perjalanan manis pahit yang sudah ibu lalui, banyak cerita-cerita keluh kesah yang belum ibu ceritakan ke anakmu ini. Aku ingin mendengarnya, ingin aku pasangkan telinga menunggu cerita-cerita ibu tentang bahtera yang terambing di samudra, yang aku belum berani mengarunginya. Aku berdiri di bibir pantai menyaksikan ibu berlayar dengan gagah berani.

Selamat ulang tahun ya bu, maaf kalo aku selalu merepotkan ibu, belum bisa bahagiakan keluarga. Tapi aku janji secepatnya akan mengabulkan permintaan ibu. Semoga di umur sekarang ibu selalu sehat. Selalu. Dan seperti yang sudah-sudah ku harap ibu tidak bosan dengan panjangnya jawabanku saat aku masuk rumah tampak lesu dengan pertanyaan ibu, 

"Sudah makan dang?"



Ditulis: Fanni Indra Pratama