Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Rabu, 17 Mei 2023

Semoga segala hal yang baik selalu hadir

Hallo Rahmi Maiyunda, sudah lama aku tidak menulis surat untukmu, aku ingin merayakan ulangtahun mu di tengah cuaca yg akhir-akhir ini sangat panas. 

Kamu gimana kabarnya? Semoga selalu baik dalam lindungan allah ya rah, kalo aku bertanya tentangmu rasanya tulisanku engga akan muat deh karena kamu selalu membuat aku berdiksi disepanjang pikiranku.

Kamu sehat-sehat aja kan? Jangan sakit-sakit ya rah, soalnya cuaca di kota kelahiran kita lagi tidak bersahabat, suhu panas merajalela bak seperti lingkaran api.

***

Aku di sini hanya ingin menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan, tapi sebelumnya aku minta maaf kalau tulisan ini menyinggungmu. 

Menurutku kamu ini orang yang unik. Kamu jenis orang yang ketika selesai hujan meminta Tuhan mengulangnya dari awal. Kamu bisa sedih hanya mendengarkan lagu-lagu melow kpop kesukaanmu. Kenangan buruk terpacak di situ tapi kamu pandai meredakan diri sendiri. Kamu pandai berkelit dari kepedihan. Menjadikannya sesuatu yang lumrah, tapi tak kapok. Oh, itu kamu sekali. Aku tahu itu.

Kamu selalu menyukai malam, karena di sana banyak kenangan yang kamu ingat. Malam adalah ibu kedua bagi pikiran kusut, sebab itulah kamu merasa dekat. Aku selalu berpikir kenapa kamu terus saja bersikap cuek terhadapku? Apa yang salah dariku? Ini seperti tidak adil. Tapi bodohnya aku terus saja membayangkanmu, Rahmi. Aku hanya ingin kamu mengerti, aku selalu sayang kamu, rasaku belum bisa berubah untuk siapapun masih kamu yang paling melekat sampai detik ini. 

Terakhir, aku berdoa semoga kamu selalu diberi kekuatan untuk mengampuni mereka yang menyakitimu, semoga kamu diberikan ketabahan untuk memaafkan mereka yang tidak mampu mengucap maaf kepadamu. Aku selalu mendoakan banyak hal baik dan kebahagiaan serta perlindungan untukmu.

Sekali lagi, aku minta maaf kalau terlalu bawel dalam tulisan ini, aku hanya ingin menyampaikan apa yang ingin disampaikan. 

Selamat ulangtahun Rahmi Maiyunda Sari, lekas menjadi manusia yang baik untuk dirimu dan segala apa yang tumbuh bersamamu. Cheers 🥂


Ditulis: Fanni Indra Pratama



Kamis, 11 Mei 2023

Banyak kehilangan tak bisa dihindari dan dari situlah kamu bisa mengukur diri.

Perpisahan dan kehilangan, dua kata yang tidak pernah mengenakkan. Mau bentuknya apapun, apalagi untuk orang yang sedang berkabung seluruh dan seutuhnya. 

Aku berdoa tiada Tuhan selain Allah dan semua apa yang menjadi takdirnya semoga itu yang terbaik sebagai hamba yang hanya dititipkan sementara di dunia yang kecil ini. 

Peluk hangat untuk ayah mu Rizka. Surga Firdaus untuk ayah dan segala isi di dalamnya.
Paragraf pertama adalah bagian suka duka terdalam untuk seorang teman yang kehilangan orang yang tersayang dan paling berharga dalam hidupnya.

Tapi tulisan ini mencuat karena semua perkara "kehilangan"

Ku ceritakan sedikit tentang apa yang menjadi "kehilangan" Dan bagaimana pengorbanan sebagai ayah.

Temanku pernah bilang "kalau ingin jadi ayah harus siap mental dan finansial, Fan" Dia berbicara seperti ini setelah mendapat rezeki yang sudah diujung tanduk akan doa yang mulai pupus dan mata yang menahan tangis oleh sembap.

Tiba-tiba minggu pagi itu dia menghubungiku dan mengatakan 
"Fan, ada sedikit proyek kecil nih, temenin aku yuk ke pasar Panorama" 

Ternyata ia menjual barang yang lumayan berharga karena prioritasnya bukan lagi sekadar badannya, tapi seluruh badan yang ia hidupi di rumah sederhana berukuran 10x15m.

Aku yang memang senang dengan jalan-jalan alih-alih mengusir kesuntukan yang menghantam kepala setiap saat. Disepanjang jalan kita banyak melakukan haha hihi dan disetiap tikungan jalan kita banyak menceritakan tentang kisah yang pernah kita alami.

Aku nyeletuk "eh di lampu merah ini biasanya aku belok nih, terus disahuti oleh temanku, ini yang dulu mantanmu yang sulit dilupakan itu ya Fan hahaha"

Aku cuman senyum sepanjang jalan dan mulai menapaki diri mencapai pasar Panorama. 
Setelah obrolan mulai mendalam, lupa sejak kapan kita bergeming dan aku mulai menceritakan bagaimana hebatnya ibuku yang kalau dia bukan "ibuku" Mungkin aku akan habis di kota kecil ini.

Lagipula sebaik-baiknya menjadi orangtua (ibu) yang mendahului keperluan anaknya, mau itu merenggut kebahagiannya sekalipun.

Ditulis: Fanni indra pratama


Sabtu, 06 Mei 2023

Kenangan itu

Kamu kokang rindu kosong
dengan hati yang penuh dendam
Amarah dan tangismu
seperti alarm
atas ketidakpedulianku

Ini malam minggu di mana
kesunyian terasa hampa
bahkan di muka
tepi jalan

Kamu boleh, mungkin saja,
menganggap ini kenyataan
atau kesungguhan.
Sebab rutin telah membuat kita lupa
pada cinta dan kesudahan


1.
Oh. Malam penuh kerinduan ini hujan
kamu tahu tuhan, kamu ciptakan itu
terus menerus
selalu silih berganti
pagi panas dan sore hujan
ini hujan, tuhan


2.
Apakah perempuan itu di dalam mimpi
akan membayangkanku
yang sedang rapuh
baik raga maupun rasanya
baik cium maupun peluknya


Di balik awan, kekasihku
sayangku yang lucu, ngeselin dan
berjejal acuh
bolehkah, bolehkah,
kita simpan lebih banyak


Kenangan-kenangan itu.



Ditulis: Fanni Indra Pratama


Kamis, 27 April 2023

Kita rayakan bersama saat semua telah usai

Hey kamu, sini, kemarilah. Duduk sini disebelahku dihadapan meja yang penuh kesepian, agar sepasang mata kita sama terjaga.. 

Masih ingatkan permainan dadu yang sering kita mainkan dulu? Masih ingatkan? Ditanganku ini ada sebuah dadu yg ingin kumainkan denganmu.

***

Masih ingatkan aturan mainnya? Yaudah kalau lupa aku jelasin lagi aturan mainnya begini, ketika dadu ini keluar genap, aku punya kesempatan untuk bertanya, tetapi ketika dadu ini keluar ganjil, aku akan jawab apapun pertanyaanmu. Apapun.

Gimana? Cukup adilkan?

Oke, kita mulai! 

Kukocok dadu ini, aku pandangi matamu lama-lama dengan perasaan yang sama.

***

Genap, berarti ini giliranku.

Aku sudah tidak sabar untuk bertanya, sebab kita sudah lama tak bersua, dan kabar di antara kita cuma mampir seperti hujan panas yang turun hanya di bulan Oktober.

"Kenapa."

Kenapa satu kata ini selalu keluar sejak awal pertanyaan. Kenapa ini terus saja mengganggu pikiranku tentang kamu.

Kenapa, jika kamu memang menyayangi aku, sampai semuanya itu kita tempuh, kamu memilih menyudahinya baik-baik? Bukankah, bila kita menyudahinya baik-baik, ada yang tak akan hilang di antara mata kita ini.

Bukankah, menyudahinya buruk-buruk justru akan membunuh kisah di ingatan kita sejak menit pertama kita memutuskannya? Paling-paling kita hanya akan bersedih dengan kenangan manis, sesudah itu bangkit lagi menuju realita hidup yang lebih nyata. Dan kita akan lebih sejahtera di jiwa dan di batin setidaknya ada yang lebih tepat di situ."

Matamu kuat. Dua matamu tak berkaca-kaca sedikit pun dengan pertanyaanku, sama kuatnya dengan mulutmu yang manis itu. Pandanganmu fokus, tidak ada kesan gelisah apalagi gugup. Kamu, kuakui, sehari lebih serius dari biasanya, dua hari lebih dewasa dari biasanya, dan dua tahun lebih jauh dari biasanya.

Kemudian kamu mulai bicara..

"Fan, kamu pernah bilang, bahwa cinta itu berlaku hari ini dan seterusnya. Kamu adalah episode cinta yang panjang, tapi bukan episode yang terus menerus. Aku menghargai puisi-puisi dan lagu-lagu yang kamu buatkan untukku, tapi aku harus jujur, aku tidak bisa hidup di cinta yang kelewat melankolis. Aku tidak bisa Fan. Sebenarnya sudah lama mau mengutarakan ini tapi belum ada keberanian. 

Kamu sendiri pernah bilang bahwa cinta di antara kita ini sederhana. Pokoknya, di antara kita tidak perlu ada yang diperjelas. Kenapa aku harus mengatakan ini? Karena kamu tahu, bahwa aku bukan orang yang mudah mati rasa. Aku bisa sewaktu-waktu peduli lagi, dan bisa mampir kepadamu tanpa membangun cerita lagi. Tapi, aku egois dan kamu tahu ini. Kamu sendiri yang mengajariku untuk berlaku tidak adil."

***

Aku senang dengan jawaban dan kejujuranmu. Aku menghargai itu. Kamu memang perempuan yang selalu serius. Kamu adalah sesuatu yang lain, perempuan pintar yang sulit di atur. Dan lebih penting dari itu, aku bersyukur kita masih punya waktu untuk bertemu begini. Bertukar dendam secara baik-baik. Bukankah itu hal yang magis?

***

Sekarang giliranmu mengocok dadu, kamu menahannya agak lama di tangan kananmu. Kamu melakukannya sambil menggumam lagu ONE OK ROCK "Heartache" yang dulu sering kita nyanyikan. 

Genap lagi, giliranku lagi, apakah adil? Aku punya banyak pertanyaan, sih? Masa dari tadi kocokan ini tidak ganjil?

Tapi kita sudah menyepakati permainan ini sejak awal. Kamu menyuruhku bertanya lagi, maka aku akan bertanya dengan senang hati. 

"Jadi, apa yang kamu maksud dengan cinta yang sebenarnya? Misal, seandainya kamu merasa sudah menemukannya tapi kemudian sadar bahwa itu adalah cinta yang salah, dan sialnya aku akan menolak jika kamu kembali?"

Kamu tersenyum, tidak menampakkan muka cemas atau gugup, kamu hanya menunjukan senyuman manismu, seolah-olah ini pertanyaan biasa yang bisa muncul kapan saja di hidupmu, dan kuyakin betul kamu menganggapnya begitu. Kamu mulai menjawab lagi.

"Pertanyaan yang berat amat fan, jujur, kamu menonjokku tepat di tenggorokan, jadi aku agak kurang siap dengan posisiku sekarang ini, tapi tentu akan kujawab pertanyaanmu"

"Menurutku cinta adalah proses pengalaman yang bijak, kamu hanya bisa menjawab ketika kamu sedang meraskannya. Aku sudah curiga, sejak awal pertanyaanmu, aku yakin kamu hanya mau menjebak saja, kamu tahu kalau cinta itu tidak pernah ada deskripsinya di kamus kita yang serba terbatas. Aku sudah menemukan pria yang kurasa jauh lebih menyenangkan darimu, jauh lebih cerdas darimu, jauh lebih sabar darimu, dan jauh lebih paham situasi darimu, dan jauh lebih dekat darimu. 

Jauh lebih semuanya daripada kamu. lagi pun ini penting, jauh lebih dekat. Dari semua hal, ini paling penting. Aku bukan perempuan yang bisa menahan rindu lama-lama, sementara kamu terus meyakinkanku untuk bertahan dengan puisi romantismu. Tai kucing, kan?

Aku tahu kamu anak pertama, punya watak yang keras dan tak mau kalah, aku juga sama. Aku yakin, jika kita tahu bahwa cinta ini sungguhan, di antara kita tetap akan memilih diam. Iya, kan? Aku tahu kamu, tahu sekali. 

Selama ini pun kita tak pernah membahas hal ini setiap pertemuan, kita memikirkan apa yang terjadi besoknya. Whatsapp, video call dan surat, sudah berhasil menciptakan kita jadi robot. Robot yang dingin dan tak peka. dan ketakpekaan ini kurasa adil. Kita memang tak punya rasa sayang yang besar dan seluas itu. Kalaupun ada, aku memilih menenggelamkannya pada nasib. Aku tak akan mencarimu, sampai sini paham?"

***

Wow, nada bicaramu sudah meninggi. Hmmm asal kamu tahu aku jatuh cinta padamu bukan tanpa sebab. Aku jatuh cinta padamu sebab alasan yang banyak: Sebab kamu lucu, sebab kamu pintar, sebab kamu anak pertama yang manja. Perempuan manja selalu di kangenin. Mendampingi perempuan manja, kurasa akan membuatku nampak seperti pahlawan yang siap menjaga orang yang di cintainya. 

Tapi kamu benar. Nasib adalah kata-kata paling puncak sejak ratusan tahun lalu. Sejak bumi ini masih hijau, dan kita akhirnya bertemu di sini, di tempat yang sering kita kunjungi dan kita memang mengisi ketersambungan nasib sejak dunia dijadikan.

Sepertinya kamu sudah lelah dengan dua kali permainan dadu ini. Aku pun belum punya lagi pertanyaan. Dan kamu sepertinya tak peduli pada fakta bahwa kamu belum bertanya apa-apa padaku. Tapi jujur, aku takut ditanya, aku takut tak punya jawaban sebaik jawabanmu.

Tapi yasudahlah kita selesaikan permainan dadu ini seperti hubungan kita. Eh bukannya hubungan kita sudah lama selesai? Maksudku kenangan kita. 

Oh ya undangan pernikahanmu sudah kuterima tapi belum kubaca, aku belum siap untuk kecewa kedua kalinya. Doaku masih sama, semoga pernikahanmu lancar tanpa hambatan, dan dia selalu menjagamu. Sampai kapanpun

Sekarang pulanglah, langit sudah merah malam pun mulai mengintai dan dia sudah menunggumu. 

Aku pamit ya, sampai bertemu di lain waktu.

Dokpri

Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama




Selasa, 04 April 2023

Dirgahayu ya bu, udah itu aja

"Pergi kemano dang?"

"Baliknyo jangan malam-malam"

"Jangan lupo bawa kunci belakang"

"Hati-hati"


Empat kalimat ini adalah hafalan luar kepala ibu ketika aku sibuk ubak-ubek di kamar di waktu-waktu acak karena ibu tahu aku segera berangkat tidak lama. Ibu balik piring dan meletakannya di meja seperti yang sudah-sudah bahwa aku ditunggu di rumah untuk makan malam berikutnya, secepatnya. Pertanyaan ibu bisa datang kapan saja sewaktu ibu ngapain aja, entah itu mencuci piring, setrika di dekat ruang tamu atau merapikan isi rak-rak yang selalu terlihat berantakan di mata ibu, atau kadang sambil menonton tutorial masak di youtube Chef Arnold dengan separuh headshet yang menggantung: membagi suara yang ibu denger dari telepon seluler dan jawaban-jawabanku.

Beberapa kali ibu mengingatkanku tentang bahaya di luar sana dan kerasnya dunia malam ditambah berita di media online terutama Instagram "Bengkulu Info" yang tiap malam selalu update tentang kecelakaan, pembegalan, dan hal-hal buruk. Ibu pengen memastikan apa aku baik-baik saja, biasanya hanya kelelahan dan tidur seharian. Kadang aku bangun tengah siang dan ibu memberikan kabar apapun tentang kejadian yang ada di "Bengkulu Info" bahkan sebelum aku tahu, walaupun aku jarang peduli. Tapi ibu selalu begitu.

***

Aku masih ingat waktu smp dulu aku selalu minta buku yang bergambar Naruto, One Piece atau berbau Jepang, segala isi kamar yang sebisa mungkin ada poster anime, bahkan tanpa diminta aku selalu mendapatkan komik One Piece, anime kesukaanku. Bahkan dengan bangganya ibu menceritakan kisahku yang suka menonton anime berjam-jam ke tetangga sebelah rumah tanpa aku sadari. Aku selalu tersenyum kalau mengingat cerita itu.

Hari ini tanggal 4 April, hari kelahiran ibu, hari lahirnya ibu di bumi. Banyak sekali perjalanan manis pahit yang sudah ibu lalui, banyak cerita-cerita keluh kesah yang belum ibu ceritakan ke anakmu ini. Aku ingin mendengarnya, ingin aku pasangkan telinga menunggu cerita-cerita ibu tentang bahtera yang terambing di samudra, yang aku belum berani mengarunginya. Aku berdiri di bibir pantai menyaksikan ibu berlayar dengan gagah berani.

Selamat ulang tahun ya bu, maaf kalo aku selalu merepotkan ibu, belum bisa bahagiakan keluarga. Tapi aku janji secepatnya akan mengabulkan permintaan ibu. Semoga di umur sekarang ibu selalu sehat. Selalu. Dan seperti yang sudah-sudah ku harap ibu tidak bosan dengan panjangnya jawabanku saat aku masuk rumah tampak lesu dengan pertanyaan ibu, 

"Sudah makan dang?"



Ditulis: Fanni Indra Pratama





Jumat, 17 Maret 2023

Kota dan kita-kita

Apa yang kurang tepat dari sebuah hari penuh kekhawatiran? Sementara, mungkin saja setiap kota memiliki ribuan isi kepala yang tersambung dengan hati secara demikian. Bengkulu kota kecil yang paling cocok untuk pusing, dan dari sana komuni kepusingan itu dibagi.

Mungkin saja begitu masif dan segera kepada kota-kota lain, yang lambat dan tak menghasilkan bisa jadi diajak juga; orang-orangnya, mau dan tidak menanggapi itu sungguh jadi urusan mereka masing-masing.

Namun bisakah kepada kekosongan kita menghindar?

Kepada rahim ibu kita menghindar?

Kepada kehilangan kita menghindar?  

Ada, maka ada. Jadi, maka jadi

Ya Tuhan

Kepadamu kuberikan ini semua

Kota berserta isinya

Kota dan kita-kita

Isi kepala juga isi jiwa

Hati yang patah dan remuk tak kaupandang hinai

Dirgahayu Kota kelahiranku, Bengkulu. Semoga namamu menjadi alasan tersenyum bagi seluruh orang yang menyayangimu. 


Ditulis: Fanni Indra Pratama

Selasa, 14 Maret 2023

Menciummu di mimpi menjelang subuh

Jika kamu percaya pada Tuhan, kamu percaya juga bahwa kesedihan dan amarahmu minggu lalu sudah di tentukan jauh sebelum air mata pertamamu jatuh. 

Air mata pertama itu jatuh ketika kita mendengarkan lagu ONE OK ROCK "Pearce" di sudut teras rumahmu. Itu lagu yang cengeng, tapi berkali-kali lebih berkesan ketika kamu marah dengan cara marah yang aku tak pernah melihat sebelumnya.

Tangismu seperti tangis orang pendendam yang siap membunuhku kapan saja. Tumpah air matamu langsung membuat nyaliku luluh, terlalu ngerinya sehingga aku tak kuat menahan jengkel pada diri sendiri. Puisi, sebagaimana hubungan kita, adalah rangkaian keterlanjuran; Dari kesempatan dan ikatan luas yang dibangun dari lama sekali.

Seandainya kita bisa bersabar sedikit, kita tentu akan sangat menikmati ini, kubayangkan begitu. Namun tidak, kita tidaklah sekuat itu. Hubungan kita retak justru ketika segalanya tampak akan segera baik-baik saja. Kamu tahu, aku jarang menyesal. Penyesalan adalah urusan paling mudah ketika segalanya gagal.

Jerih dan upaya kita begitu samar. tapi setidaknya sekali dalam hidup kita, kita pernah saling mendoakan, saling menguatkan, dan percayalah, upaya-upaya yang kita lalui memiliki keindahannya sendiri.

Untukmu selalu ada ruang kosong untuk cerita yang tidak bisa kubagikan, tapi, kepadamu aku tak pernah sanggup sembunyi. Lewat tulisan ini, aku ingin bicara tak panjang-panjang. Cuma supaya kita sama-sama sadar, bahwa segala yang berlebihan itu memang kadang menyebalkan. 

Sebagai kawan kita tak pernah begitu peduli pada cinta mana yang kira-kira sanggup membuat kita bertahan. Sebagai pecinta, kita untuk pertama kali merasakan kecanggungan yang susah dimengerti. Namun sebagai laki-laki dalam tulisan ini, aku ingin mengatakan rindu yang selalu ada buatmu. Rindu yang kupendam dalam dua bulan paling panjang dalam setahun ini, bulan ketika segala cemburu begitu cepat merampas keindahanmu. 

Semoga musim hujan segera berlalu, dan sisa anginnya menerbangkan wajah kita sampai berkerut, kisut, dan tetap saling bisu. Sampai istana di mimpi-mimpi kita jadi. Sampai kita sanggup mengetawai naskah drama ini. Sampai kita terdampar di pulau tanpa berpenghuni pada suatu malam yang tak akan kita lupa. Sampai anak-anak kita berlarian mengitari kita yang sedang bertukar masa susah. Sampai kita sanggup menertawakan hal-hal kecil yang buat kita senang. 

Apabila kamu menemukan tulisan ini dan membacanya dalam pikiranmu atau lewat satu mimpi di tidurmu menjelang subuh, kirimlah balik padaku. Kutunggu balasanmu, balasan yang apa saja. Balasan tentang di mana kamu dan siapa dirimu, atau kamu mau jelaskan padaku kenapa kamu pergi padahal tak pernah datang? Sedang aku terus saja dipaksa membayangkan.

                        

Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama



Sabtu, 11 Februari 2023

Hujan tipis pun turun pelan-pelan di sabtu sore

Pukul empat sore hujan turun tanpa permisi yang sopan. Langit gelap sudah jauh terlihat sejak kami meninggalkan rumah, tapi sewajarnya manusia tamasya mantra harapan “Please, jangan hujan dulu.” Dirapal cepat-cepat sepanjang jalan. Beruntung, sayur asam sudah singgah di lambung. Ponakan juga baru saja melahap bubur racikan neneknya yang dipersiapkan sejak pagi. Tinggal separuh gelas es teh yang tersisa di meja, dicicip pelan-pelan demi menjaga manis di bibir.

Daun goyang-goyang kena rintik. Dalam satu peluk, ponakan masuk dalam gendongan. Kubawa ia ke tepi sudut pintu arah selatan sambil melihat anak-anak bermain hujan. Kulirik arah belakang, neneknya selesai beberes alat makan, duduk menyender dan menghabiskan es teh. Dalam bisik isyarat bibirnya bertanya “tidur?”

Kutengok sedikit arah bawah, ponakan terpejam dan nafasnya pelan teratur.

Alhamdulillah.

 

Malam yang panjang untukmu Zea

Beruntung oom mu seorang pembual

Malam itu kuceritakan apa-apa saja

Yang kami bisa lihat di teras

Sebab dinginnya hujan menahan langkah

 

Kenapa ada hujan

Cicak yang tiada lelah

Berjalan di atap rumah

Suara jangkrik yang rajin bikin bising telinga

 

Kutanya pada ponakanku, “apa itu cinta?”

Awawawawawawawawa jawabnya

Lugas

Tapi kami mengerti

 

Ditulis: Fanni Indra Pratama






Senin, 06 Februari 2023

Mencintaimu meski tak seberapa

Bagaimana cinta yang sebenarnya?

Pertanyaan itu selalu terlintas saat pertandingan liverpool tiba. Melihat gemuruh Anfield yang dipenuhi fans Liverpool membuat aku semakin iri. Mereka bersorak sesuka hati sedangkan aku harus gigit jari melihatmu di layar kaca.

Bukan aku namanya jika tidak menjurus ke dalam hati, menjadikan Liverpool sebagai kekasih, mungkin aku sebagian dari mereka yang menjadikan Liverpool adalah segalanya, dulunya. 

Kini seketika terpaksa teredam karena ada yang lebih penting dari mencintai Liverpool sampai tak masuk di logika, semakin tua dan semakin tahu, Liverpool itu selamanya dan bukanlah segalanya.

Hingga detik ini, aku mencintai Liverpool dengan caraku sendiri. Lewat tulisan ini aku ingin membuktikan betapa besarnya perasaanku terhadapmu. Tapi ada satu hal yang buatku ganjal terhadap isu fans loyal sama fans musiman.

Ingin ku ajukan pertanyaan padamu, ini dari aku yang tidak selalu menonton pertandingan tapi selalu mencuri waktu untuk tetap bisa menonton pertandinganmu. Aku tak selalu bersorak selama 90 menit ketika melihatmu berlaga, tapi doaku selalu mengalir lebih dari itu.

Tolong jawab aku, sama atau bedakah cinta seorang suporter loyal dengan mereka yang suporter musiman? Lebih setia siapakah diantara kita berdua? Bisakah kita duduk berdampingan tanpa merisaukan hal tersebut?

Sekali saja, aku ingin membuktikan cintaku terhadap club kebangaan Liverpool meski tak seberapa.

You'll Never Walk Alone


Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama








Sabtu, 14 Januari 2023

Setidaknya perpisahan tidak mengajarkan untuk saling melupakan

Surat kecil itu terselip di saku celanaku. Ia memberi itu ketika kami baru saja berpisah dan ia marah besar. Di antara kami tak ada dendam yang terus atau rasa pahit yang panjang. Tapi seperti semua kisah kasih, ia pergi jauh setelah kami berpisah. Ia enggan membalas whatsapp ku, enggan mengangkat telponku, aku juga kecewa dengan perpisahan. Seperti kekecewaanku pada semua ucapan selamat tinggal. 

Sejauh kamu mengayuh sepeda tua, sejauh itu pula kamu akan menemukan rumah baruku. Rumah luas di sekitaran hutan, jauh dari keramaian, jauh dari peradaban, termasuk kegelisahanmu yang luar biasa sengit. Aku tinggal di rumah yang jauh sekarang, sejak perpisahan kami, segalanya tampak jauh lebih biasa dari apapun sebelumnya.

Sejak malam itu, aku dan dia tidak pernah berkirim kabar lagi. Kami dulu sering video call tiap malam, bercerita, tertawa dan bersenang menjelang terangnya bulan purnama. Jauh sebelum beberapa hari sebelum perpisahan kami, ia mencoba mengucap kata-kata sederhana. ''Aku akan selalu mencintaimu, akan selalu begitu.''

Kamu tahu, ia punya suara lebih halus dari batik sutra yang biasa dibeli ibu di pasar pagi dekat rumah. Walaupun sudah lama tak berkomunikasi, dia tetap menggelisahkan, mengecewakan, dan menyakitkan. Lebih menakutkan dari macan manapun yang akan kamu temui di hutan. Aku terlanjur ingin melupakannya dan sebisa mungkin membuang wajah dan ceritanya jauh-jauh dari pembuangan sampah paling jauh yang mungkin kamu jangkau. Tapi itu tak bisa, tak semudah itu, dan sulit. Menjelang perpisahan kami, ia bisu. Ia memang tak banyak bicara, suka memandang bintang ketika orangtuanya sudah terlelap, atau ketika orang-orang kampung selesai ronda malam. Mungkin ini pertanda bahwa hubungan yang rumit ini harus diselesaikan. 

Beberapa bulan setelah perpisahan, kami dipertemukan lagi pada siang yang panas, ketika para ibu melarang anak-anaknya minum es coklat tapi mereka sendiri melanggarnya.  Sejak perpisahan itu aku membencinya, sangat membencinya. Kamu tahu, akan sulit memaafkan kekasih yang tiba-tiba pergi sedang ia sadar kamu masih mencintainya. Tentu, aku masih mencintainya ketika kami berpisah. Ia sangat tahu hal ini.

Sebenarnya aku tak langsung bisa melupakannya. Aku rajin pergi ke pameran buku, membeli beberapa buku motivasi cinta dengan judul yang memberimu harapan untuk bangkit. Bangkit dari Keterpurukan, Lekas sembuh dari luka hati, Sebuah seni untuk bersikap bodo amat, dsb. Dari semua itu, aku paling suka "Cara berkomunikasi lewat Bathin." Aku gemar berdo'a, menyukai do'a sejak kecil. Sebab lewat do'a, aku percaya bahwa segala harapan dan umpatan banyak orang bisa sampai kepada siapa saja yang mendengarnya. Entah itu jin, hantu dan malaikat, dan segala hal yang gaib. 

Sejak aku merasa diri paling berdosa, aku tak pernah menganggap do'a ku langsung sampai ke telinga Tuhan. Paling tidak atas ketabahan mengharap sesuatu, pesan itu disimpan dulu oleh malaikat dan entah disampaikan pada Tuhan beberapa saat kemudian. Tapi itulah, buku komunikasi bathin ini mengingatkanku pada do'a. Katanya, yang perlu kamu lakukan adalah menyebut nama kekasihmu secara berulang, nanti suaramu akan sampai juga pada orang yang kamu cinta. Ini hal yang penting, pikirku.

Sampai sekarang aku suka menyebut nama kekasihku dalam hati, sebelum akhirnya kami bertemu hari kemarin. Biasanya, penyebutan nama ini akan berefek langsung hari itu juga, detik itu juga, dan siang itu juga. Tapi kemarin ini tak biasa. Kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat pantai tengah kota. Kedai yang tak lekang di makan zaman sejak masa kami pacaran. Di sana muda-mudi biasa beradu pikir. Wajahnya masih sama, matanya masih coklat dan bibirnya yang menyenangkan juga tetap tinggal. Aku ada di antara rasa-rasa semrawut, gelisah, tak karuan. Setelah beberapa tahun aku cuma menghubunginya lewat bathin.

Mantan kekasihku masih sama seperti dulu. Sendirian saja bersama senyuman kecil. Aku memberanikan diri menyapanya. “Kamu tahu, wajahmu banyak berubah setelah kita berpisah.” Aku basa-basi membuka percakapan sambil memandang matanya jauh ke dalam, seakan-akan beberapa tahun di antara kami hanyalah peristiwa barusan. 
"Kamu masih saja tak sopan seperti dulu, Fan." Ia membalas pembukaanku dengan suara lirihnya yang khas. Ia adalah perpaduan Bengkulu-Lebong yang meledak-ledak sekaligus halus. Ingin diakui sekaligus tak ingin pamer. Aku maklum, keluarganya memang berasal dari keturunan raden. Kami berbincang di meja kecil setelah obrolan kami tadi. Belakangan ku tahu dia sudah punya pacar, pacarnya seorang pegawai bumn di Ibu Kota. Untuk menjadi pacar yang baik, kamu cuma perlu setia dan bekerja. Lagian, siapa mau diberi makan cinta?

Ia kubiarkan tak tahu soal hidupku. Di umurku sekarang ini, aku takut mencintai orang yang salah. Aku selalu pergi ke tempat sepi yang tidak ada keramaian, hanya untuk berdo'a kepada tuhanku. Supaya aku bisa lupa segala hal yang membuatku sedih dan terpuruk, tapi percuma, ku kira, aku tak perlu lagi terasing dan mengurung diri untuk melupakan sesuatu. Aku cuma sulit memaafkan diriku dan dirinya yang ketika itu tak buru-buru berusaha bertahan. Bertahan dari segala hal yang masih tinggal.

Semoga akhirnya kamu bisa membayangkan, seberapa sulit untuk melupakanmu. Sepasang mata yang gelisah menahan sesuatu. Kupandang terus hari itu. Sampai matanya tertutup rapat, begitu gelap. Dalam sejam ia jadi patung yang terbentuk secara sumir. Di kedai kopi ia jadi manekin paling cantik untuk edisi bulan Januari. Dan diriku, seperti banyak orang tahu, masih jadi orang gila yang menghabiskan sisa hidupnya untuk kesia-siaan yang tak banyak orang tahu. Aku tak tahu lagi berapa umurku, apalagi cara mengukur satuan waktu. Seperti kucing di sampingku ini, setia.

 
Ditulis: Fanni Indra Pratama
















Minggu, 08 Januari 2023

Januari dalam malam semenit mengenangmu

Malam sudah menyapa
Dingin pun mulai berdatangan
Langit gelap sedang berdoa
Di antara dua insan sedang memandang nasib

Maafkan aku
ampunilah aku
sengaja maupun tidak
Di dunia yang tidak adil ini
aku mencintaimu
menyayangimu
mengasihimu
sebagaimana itu semua

Sekarang pejamkanlah matamu
Berdoalah kepada tuhanmu
Dan lupakan kerumitan hari ini
Percayalah, esok pagi akan menjadi lebih baik



Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama