Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Kamis, 27 April 2023

Kita rayakan bersama saat semua telah usai

Hey kamu, sini, kemarilah. Duduk sini disebelahku dihadapan meja yang penuh kesepian, agar sepasang mata kita sama terjaga.. 

Masih ingatkan permainan dadu yang sering kita mainkan dulu? Masih ingatkan? Ditanganku ini ada sebuah dadu yg ingin kumainkan denganmu.

***

Masih ingatkan aturan mainnya? Yaudah kalau lupa aku jelasin lagi aturan mainnya begini, ketika dadu ini keluar genap, aku punya kesempatan untuk bertanya, tetapi ketika dadu ini keluar ganjil, aku akan jawab apapun pertanyaanmu. Apapun.

Gimana? Cukup adilkan?

Oke, kita mulai! 

Kukocok dadu ini, aku pandangi matamu lama-lama dengan perasaan yang sama.

***

Genap, berarti ini giliranku.

Aku sudah tidak sabar untuk bertanya, sebab kita sudah lama tak bersua, dan kabar di antara kita cuma mampir seperti hujan panas yang turun hanya di bulan Oktober.

"Kenapa."

Kenapa satu kata ini selalu keluar sejak awal pertanyaan. Kenapa ini terus saja mengganggu pikiranku tentang kamu.

Kenapa, jika kamu memang menyayangi aku, sampai semuanya itu kita tempuh, kamu memilih menyudahinya baik-baik? Bukankah, bila kita menyudahinya baik-baik, ada yang tak akan hilang di antara mata kita ini.

Bukankah, menyudahinya buruk-buruk justru akan membunuh kisah di ingatan kita sejak menit pertama kita memutuskannya? Paling-paling kita hanya akan bersedih dengan kenangan manis, sesudah itu bangkit lagi menuju realita hidup yang lebih nyata. Dan kita akan lebih sejahtera di jiwa dan di batin setidaknya ada yang lebih tepat di situ."

Matamu kuat. Dua matamu tak berkaca-kaca sedikit pun dengan pertanyaanku, sama kuatnya dengan mulutmu yang manis itu. Pandanganmu fokus, tidak ada kesan gelisah apalagi gugup. Kamu, kuakui, sehari lebih serius dari biasanya, dua hari lebih dewasa dari biasanya, dan dua tahun lebih jauh dari biasanya.

Kemudian kamu mulai bicara..

"Fan, kamu pernah bilang, bahwa cinta itu berlaku hari ini dan seterusnya. Kamu adalah episode cinta yang panjang, tapi bukan episode yang terus menerus. Aku menghargai puisi-puisi dan lagu-lagu yang kamu buatkan untukku, tapi aku harus jujur, aku tidak bisa hidup di cinta yang kelewat melankolis. Aku tidak bisa Fan. Sebenarnya sudah lama mau mengutarakan ini tapi belum ada keberanian. 

Kamu sendiri pernah bilang bahwa cinta di antara kita ini sederhana. Pokoknya, di antara kita tidak perlu ada yang diperjelas. Kenapa aku harus mengatakan ini? Karena kamu tahu, bahwa aku bukan orang yang mudah mati rasa. Aku bisa sewaktu-waktu peduli lagi, dan bisa mampir kepadamu tanpa membangun cerita lagi. Tapi, aku egois dan kamu tahu ini. Kamu sendiri yang mengajariku untuk berlaku tidak adil."

***

Aku senang dengan jawaban dan kejujuranmu. Aku menghargai itu. Kamu memang perempuan yang selalu serius. Kamu adalah sesuatu yang lain, perempuan pintar yang sulit di atur. Dan lebih penting dari itu, aku bersyukur kita masih punya waktu untuk bertemu begini. Bertukar dendam secara baik-baik. Bukankah itu hal yang magis?

***

Sekarang giliranmu mengocok dadu, kamu menahannya agak lama di tangan kananmu. Kamu melakukannya sambil menggumam lagu ONE OK ROCK "Heartache" yang dulu sering kita nyanyikan. 

Genap lagi, giliranku lagi, apakah adil? Aku punya banyak pertanyaan, sih? Masa dari tadi kocokan ini tidak ganjil?

Tapi kita sudah menyepakati permainan ini sejak awal. Kamu menyuruhku bertanya lagi, maka aku akan bertanya dengan senang hati. 

"Jadi, apa yang kamu maksud dengan cinta yang sebenarnya? Misal, seandainya kamu merasa sudah menemukannya tapi kemudian sadar bahwa itu adalah cinta yang salah, dan sialnya aku akan menolak jika kamu kembali?"

Kamu tersenyum, tidak menampakkan muka cemas atau gugup, kamu hanya menunjukan senyuman manismu, seolah-olah ini pertanyaan biasa yang bisa muncul kapan saja di hidupmu, dan kuyakin betul kamu menganggapnya begitu. Kamu mulai menjawab lagi.

"Pertanyaan yang berat amat fan, jujur, kamu menonjokku tepat di tenggorokan, jadi aku agak kurang siap dengan posisiku sekarang ini, tapi tentu akan kujawab pertanyaanmu"

"Menurutku cinta adalah proses pengalaman yang bijak, kamu hanya bisa menjawab ketika kamu sedang meraskannya. Aku sudah curiga, sejak awal pertanyaanmu, aku yakin kamu hanya mau menjebak saja, kamu tahu kalau cinta itu tidak pernah ada deskripsinya di kamus kita yang serba terbatas. Aku sudah menemukan pria yang kurasa jauh lebih menyenangkan darimu, jauh lebih cerdas darimu, jauh lebih sabar darimu, dan jauh lebih paham situasi darimu, dan jauh lebih dekat darimu. 

Jauh lebih semuanya daripada kamu. lagi pun ini penting, jauh lebih dekat. Dari semua hal, ini paling penting. Aku bukan perempuan yang bisa menahan rindu lama-lama, sementara kamu terus meyakinkanku untuk bertahan dengan puisi romantismu. Tai kucing, kan?

Aku tahu kamu anak pertama, punya watak yang keras dan tak mau kalah, aku juga sama. Aku yakin, jika kita tahu bahwa cinta ini sungguhan, di antara kita tetap akan memilih diam. Iya, kan? Aku tahu kamu, tahu sekali. 

Selama ini pun kita tak pernah membahas hal ini setiap pertemuan, kita memikirkan apa yang terjadi besoknya. Whatsapp, video call dan surat, sudah berhasil menciptakan kita jadi robot. Robot yang dingin dan tak peka. dan ketakpekaan ini kurasa adil. Kita memang tak punya rasa sayang yang besar dan seluas itu. Kalaupun ada, aku memilih menenggelamkannya pada nasib. Aku tak akan mencarimu, sampai sini paham?"

***

Wow, nada bicaramu sudah meninggi. Hmmm asal kamu tahu aku jatuh cinta padamu bukan tanpa sebab. Aku jatuh cinta padamu sebab alasan yang banyak: Sebab kamu lucu, sebab kamu pintar, sebab kamu anak pertama yang manja. Perempuan manja selalu di kangenin. Mendampingi perempuan manja, kurasa akan membuatku nampak seperti pahlawan yang siap menjaga orang yang di cintainya. 

Tapi kamu benar. Nasib adalah kata-kata paling puncak sejak ratusan tahun lalu. Sejak bumi ini masih hijau, dan kita akhirnya bertemu di sini, di tempat yang sering kita kunjungi dan kita memang mengisi ketersambungan nasib sejak dunia dijadikan.

Sepertinya kamu sudah lelah dengan dua kali permainan dadu ini. Aku pun belum punya lagi pertanyaan. Dan kamu sepertinya tak peduli pada fakta bahwa kamu belum bertanya apa-apa padaku. Tapi jujur, aku takut ditanya, aku takut tak punya jawaban sebaik jawabanmu.

Tapi yasudahlah kita selesaikan permainan dadu ini seperti hubungan kita. Eh bukannya hubungan kita sudah lama selesai? Maksudku kenangan kita. 

Oh ya undangan pernikahanmu sudah kuterima tapi belum kubaca, aku belum siap untuk kecewa kedua kalinya. Doaku masih sama, semoga pernikahanmu lancar tanpa hambatan, dan dia selalu menjagamu. Sampai kapanpun

Sekarang pulanglah, langit sudah merah malam pun mulai mengintai dan dia sudah menunggumu. 

Aku pamit ya, sampai bertemu di lain waktu.

Dokpri

Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama




Selasa, 04 April 2023

Dirgahayu ya bu, udah itu aja

"Pergi kemano dang?"

"Baliknyo jangan malam-malam"

"Jangan lupo bawa kunci belakang"

"Hati-hati"


Empat kalimat ini adalah hafalan luar kepala ibu ketika aku sibuk ubak-ubek di kamar di waktu-waktu acak karena ibu tahu aku segera berangkat tidak lama. Ibu balik piring dan meletakannya di meja seperti yang sudah-sudah bahwa aku ditunggu di rumah untuk makan malam berikutnya, secepatnya. Pertanyaan ibu bisa datang kapan saja sewaktu ibu ngapain aja, entah itu mencuci piring, setrika di dekat ruang tamu atau merapikan isi rak-rak yang selalu terlihat berantakan di mata ibu, atau kadang sambil menonton tutorial masak di youtube Chef Arnold dengan separuh headshet yang menggantung: membagi suara yang ibu denger dari telepon seluler dan jawaban-jawabanku.

Beberapa kali ibu mengingatkanku tentang bahaya di luar sana dan kerasnya dunia malam ditambah berita di media online terutama Instagram "Bengkulu Info" yang tiap malam selalu update tentang kecelakaan, pembegalan, dan hal-hal buruk. Ibu pengen memastikan apa aku baik-baik saja, biasanya hanya kelelahan dan tidur seharian. Kadang aku bangun tengah siang dan ibu memberikan kabar apapun tentang kejadian yang ada di "Bengkulu Info" bahkan sebelum aku tahu, walaupun aku jarang peduli. Tapi ibu selalu begitu.

***

Aku masih ingat waktu smp dulu aku selalu minta buku yang bergambar Naruto, One Piece atau berbau Jepang, segala isi kamar yang sebisa mungkin ada poster anime, bahkan tanpa diminta aku selalu mendapatkan komik One Piece, anime kesukaanku. Bahkan dengan bangganya ibu menceritakan kisahku yang suka menonton anime berjam-jam ke tetangga sebelah rumah tanpa aku sadari. Aku selalu tersenyum kalau mengingat cerita itu.

Hari ini tanggal 4 April, hari kelahiran ibu, hari lahirnya ibu di bumi. Banyak sekali perjalanan manis pahit yang sudah ibu lalui, banyak cerita-cerita keluh kesah yang belum ibu ceritakan ke anakmu ini. Aku ingin mendengarnya, ingin aku pasangkan telinga menunggu cerita-cerita ibu tentang bahtera yang terambing di samudra, yang aku belum berani mengarunginya. Aku berdiri di bibir pantai menyaksikan ibu berlayar dengan gagah berani.

Selamat ulang tahun ya bu, maaf kalo aku selalu merepotkan ibu, belum bisa bahagiakan keluarga. Tapi aku janji secepatnya akan mengabulkan permintaan ibu. Semoga di umur sekarang ibu selalu sehat. Selalu. Dan seperti yang sudah-sudah ku harap ibu tidak bosan dengan panjangnya jawabanku saat aku masuk rumah tampak lesu dengan pertanyaan ibu, 

"Sudah makan dang?"



Ditulis: Fanni Indra Pratama





Jumat, 17 Maret 2023

Kota dan kita-kita

Apa yang kurang tepat dari sebuah hari penuh kekhawatiran? Sementara, mungkin saja setiap kota memiliki ribuan isi kepala yang tersambung dengan hati secara demikian. Bengkulu kota kecil yang paling cocok untuk pusing, dan dari sana komuni kepusingan itu dibagi.

Mungkin saja begitu masif dan segera kepada kota-kota lain, yang lambat dan tak menghasilkan bisa jadi diajak juga; orang-orangnya, mau dan tidak menanggapi itu sungguh jadi urusan mereka masing-masing.

Namun bisakah kepada kekosongan kita menghindar?

Kepada rahim ibu kita menghindar?

Kepada kehilangan kita menghindar?  

Ada, maka ada. Jadi, maka jadi

Ya Tuhan

Kepadamu kuberikan ini semua

Kota berserta isinya

Kota dan kita-kita

Isi kepala juga isi jiwa

Hati yang patah dan remuk tak kaupandang hinai

Dirgahayu Kota kelahiranku, Bengkulu. Semoga namamu menjadi alasan tersenyum bagi seluruh orang yang menyayangimu. 


Ditulis: Fanni Indra Pratama

Selasa, 14 Maret 2023

Menciummu di mimpi menjelang subuh

Jika kamu percaya pada Tuhan, kamu percaya juga bahwa kesedihan dan amarahmu minggu lalu sudah di tentukan jauh sebelum air mata pertamamu jatuh. 

Air mata pertama itu jatuh ketika kita mendengarkan lagu ONE OK ROCK "Pearce" di sudut teras rumahmu. Itu lagu yang cengeng, tapi berkali-kali lebih berkesan ketika kamu marah dengan cara marah yang aku tak pernah melihat sebelumnya.

Tangismu seperti tangis orang pendendam yang siap membunuhku kapan saja. Tumpah air matamu langsung membuat nyaliku luluh, terlalu ngerinya sehingga aku tak kuat menahan jengkel pada diri sendiri. Puisi, sebagaimana hubungan kita, adalah rangkaian keterlanjuran; Dari kesempatan dan ikatan luas yang dibangun dari lama sekali.

Seandainya kita bisa bersabar sedikit, kita tentu akan sangat menikmati ini, kubayangkan begitu. Namun tidak, kita tidaklah sekuat itu. Hubungan kita retak justru ketika segalanya tampak akan segera baik-baik saja. Kamu tahu, aku jarang menyesal. Penyesalan adalah urusan paling mudah ketika segalanya gagal.

Jerih dan upaya kita begitu samar. tapi setidaknya sekali dalam hidup kita, kita pernah saling mendoakan, saling menguatkan, dan percayalah, upaya-upaya yang kita lalui memiliki keindahannya sendiri.

Untukmu selalu ada ruang kosong untuk cerita yang tidak bisa kubagikan, tapi, kepadamu aku tak pernah sanggup sembunyi. Lewat tulisan ini, aku ingin bicara tak panjang-panjang. Cuma supaya kita sama-sama sadar, bahwa segala yang berlebihan itu memang kadang menyebalkan. 

Sebagai kawan kita tak pernah begitu peduli pada cinta mana yang kira-kira sanggup membuat kita bertahan. Sebagai pecinta, kita untuk pertama kali merasakan kecanggungan yang susah dimengerti. Namun sebagai laki-laki dalam tulisan ini, aku ingin mengatakan rindu yang selalu ada buatmu. Rindu yang kupendam dalam dua bulan paling panjang dalam setahun ini, bulan ketika segala cemburu begitu cepat merampas keindahanmu. 

Semoga musim hujan segera berlalu, dan sisa anginnya menerbangkan wajah kita sampai berkerut, kisut, dan tetap saling bisu. Sampai istana di mimpi-mimpi kita jadi. Sampai kita sanggup mengetawai naskah drama ini. Sampai kita terdampar di pulau tanpa berpenghuni pada suatu malam yang tak akan kita lupa. Sampai anak-anak kita berlarian mengitari kita yang sedang bertukar masa susah. Sampai kita sanggup menertawakan hal-hal kecil yang buat kita senang. 

Apabila kamu menemukan tulisan ini dan membacanya dalam pikiranmu atau lewat satu mimpi di tidurmu menjelang subuh, kirimlah balik padaku. Kutunggu balasanmu, balasan yang apa saja. Balasan tentang di mana kamu dan siapa dirimu, atau kamu mau jelaskan padaku kenapa kamu pergi padahal tak pernah datang? Sedang aku terus saja dipaksa membayangkan.

                        

Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama



Sabtu, 11 Februari 2023

Hujan tipis pun turun pelan-pelan di sabtu sore

Pukul empat sore hujan turun tanpa permisi yang sopan. Langit gelap sudah jauh terlihat sejak kami meninggalkan rumah, tapi sewajarnya manusia tamasya mantra harapan “Please, jangan hujan dulu.” Dirapal cepat-cepat sepanjang jalan. Beruntung, sayur asam sudah singgah di lambung. Ponakan juga baru saja melahap bubur racikan neneknya yang dipersiapkan sejak pagi. Tinggal separuh gelas es teh yang tersisa di meja, dicicip pelan-pelan demi menjaga manis di bibir.

Daun goyang-goyang kena rintik. Dalam satu peluk, ponakan masuk dalam gendongan. Kubawa ia ke tepi sudut pintu arah selatan sambil melihat anak-anak bermain hujan. Kulirik arah belakang, neneknya selesai beberes alat makan, duduk menyender dan menghabiskan es teh. Dalam bisik isyarat bibirnya bertanya “tidur?”

Kutengok sedikit arah bawah, ponakan terpejam dan nafasnya pelan teratur.

Alhamdulillah.

 

Malam yang panjang untukmu Zea

Beruntung oom mu seorang pembual

Malam itu kuceritakan apa-apa saja

Yang kami bisa lihat di teras

Sebab dinginnya hujan menahan langkah

 

Kenapa ada hujan

Cicak yang tiada lelah

Berjalan di atap rumah

Suara jangkrik yang rajin bikin bising telinga

 

Kutanya pada ponakanku, “apa itu cinta?”

Awawawawawawawawa jawabnya

Lugas

Tapi kami mengerti

 

Ditulis: Fanni Indra Pratama






Senin, 06 Februari 2023

Mencintaimu meski tak seberapa

Bagaimana cinta yang sebenarnya?

Pertanyaan itu selalu terlintas saat pertandingan liverpool tiba. Melihat gemuruh Anfield yang dipenuhi fans Liverpool membuat aku semakin iri. Mereka bersorak sesuka hati sedangkan aku harus gigit jari melihatmu di layar kaca.

Bukan aku namanya jika tidak menjurus ke dalam hati, menjadikan Liverpool sebagai kekasih, mungkin aku sebagian dari mereka yang menjadikan Liverpool adalah segalanya, dulunya. 

Kini seketika terpaksa teredam karena ada yang lebih penting dari mencintai Liverpool sampai tak masuk di logika, semakin tua dan semakin tahu, Liverpool itu selamanya dan bukanlah segalanya.

Hingga detik ini, aku mencintai Liverpool dengan caraku sendiri. Lewat tulisan ini aku ingin membuktikan betapa besarnya perasaanku terhadapmu. Tapi ada satu hal yang buatku ganjal terhadap isu fans loyal sama fans musiman.

Ingin ku ajukan pertanyaan padamu, ini dari aku yang tidak selalu menonton pertandingan tapi selalu mencuri waktu untuk tetap bisa menonton pertandinganmu. Aku tak selalu bersorak selama 90 menit ketika melihatmu berlaga, tapi doaku selalu mengalir lebih dari itu.

Tolong jawab aku, sama atau bedakah cinta seorang suporter loyal dengan mereka yang suporter musiman? Lebih setia siapakah diantara kita berdua? Bisakah kita duduk berdampingan tanpa merisaukan hal tersebut?

Sekali saja, aku ingin membuktikan cintaku terhadap club kebangaan Liverpool meski tak seberapa.

You'll Never Walk Alone


Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama








Sabtu, 14 Januari 2023

Setidaknya perpisahan tidak mengajarkan untuk saling melupakan

Surat kecil itu terselip di saku celanaku. Ia memberi itu ketika kami baru saja berpisah dan ia marah besar. Di antara kami tak ada dendam yang terus atau rasa pahit yang panjang. Tapi seperti semua kisah kasih, ia pergi jauh setelah kami berpisah. Ia enggan membalas whatsapp ku, enggan mengangkat telponku, aku juga kecewa dengan perpisahan. Seperti kekecewaanku pada semua ucapan selamat tinggal. 

Sejauh kamu mengayuh sepeda tua, sejauh itu pula kamu akan menemukan rumah baruku. Rumah luas di sekitaran hutan, jauh dari keramaian, jauh dari peradaban, termasuk kegelisahanmu yang luar biasa sengit. Aku tinggal di rumah yang jauh sekarang, sejak perpisahan kami, segalanya tampak jauh lebih biasa dari apapun sebelumnya.

Sejak malam itu, aku dan dia tidak pernah berkirim kabar lagi. Kami dulu sering video call tiap malam, bercerita, tertawa dan bersenang menjelang terangnya bulan purnama. Jauh sebelum beberapa hari sebelum perpisahan kami, ia mencoba mengucap kata-kata sederhana. ''Aku akan selalu mencintaimu, akan selalu begitu.''

Kamu tahu, ia punya suara lebih halus dari batik sutra yang biasa dibeli ibu di pasar pagi dekat rumah. Walaupun sudah lama tak berkomunikasi, dia tetap menggelisahkan, mengecewakan, dan menyakitkan. Lebih menakutkan dari macan manapun yang akan kamu temui di hutan. Aku terlanjur ingin melupakannya dan sebisa mungkin membuang wajah dan ceritanya jauh-jauh dari pembuangan sampah paling jauh yang mungkin kamu jangkau. Tapi itu tak bisa, tak semudah itu, dan sulit. Menjelang perpisahan kami, ia bisu. Ia memang tak banyak bicara, suka memandang bintang ketika orangtuanya sudah terlelap, atau ketika orang-orang kampung selesai ronda malam. Mungkin ini pertanda bahwa hubungan yang rumit ini harus diselesaikan. 

Beberapa bulan setelah perpisahan, kami dipertemukan lagi pada siang yang panas, ketika para ibu melarang anak-anaknya minum es coklat tapi mereka sendiri melanggarnya.  Sejak perpisahan itu aku membencinya, sangat membencinya. Kamu tahu, akan sulit memaafkan kekasih yang tiba-tiba pergi sedang ia sadar kamu masih mencintainya. Tentu, aku masih mencintainya ketika kami berpisah. Ia sangat tahu hal ini.

Sebenarnya aku tak langsung bisa melupakannya. Aku rajin pergi ke pameran buku, membeli beberapa buku motivasi cinta dengan judul yang memberimu harapan untuk bangkit. Bangkit dari Keterpurukan, Lekas sembuh dari luka hati, Sebuah seni untuk bersikap bodo amat, dsb. Dari semua itu, aku paling suka "Cara berkomunikasi lewat Bathin." Aku gemar berdo'a, menyukai do'a sejak kecil. Sebab lewat do'a, aku percaya bahwa segala harapan dan umpatan banyak orang bisa sampai kepada siapa saja yang mendengarnya. Entah itu jin, hantu dan malaikat, dan segala hal yang gaib. 

Sejak aku merasa diri paling berdosa, aku tak pernah menganggap do'a ku langsung sampai ke telinga Tuhan. Paling tidak atas ketabahan mengharap sesuatu, pesan itu disimpan dulu oleh malaikat dan entah disampaikan pada Tuhan beberapa saat kemudian. Tapi itulah, buku komunikasi bathin ini mengingatkanku pada do'a. Katanya, yang perlu kamu lakukan adalah menyebut nama kekasihmu secara berulang, nanti suaramu akan sampai juga pada orang yang kamu cinta. Ini hal yang penting, pikirku.

Sampai sekarang aku suka menyebut nama kekasihku dalam hati, sebelum akhirnya kami bertemu hari kemarin. Biasanya, penyebutan nama ini akan berefek langsung hari itu juga, detik itu juga, dan siang itu juga. Tapi kemarin ini tak biasa. Kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat pantai tengah kota. Kedai yang tak lekang di makan zaman sejak masa kami pacaran. Di sana muda-mudi biasa beradu pikir. Wajahnya masih sama, matanya masih coklat dan bibirnya yang menyenangkan juga tetap tinggal. Aku ada di antara rasa-rasa semrawut, gelisah, tak karuan. Setelah beberapa tahun aku cuma menghubunginya lewat bathin.

Mantan kekasihku masih sama seperti dulu. Sendirian saja bersama senyuman kecil. Aku memberanikan diri menyapanya. “Kamu tahu, wajahmu banyak berubah setelah kita berpisah.” Aku basa-basi membuka percakapan sambil memandang matanya jauh ke dalam, seakan-akan beberapa tahun di antara kami hanyalah peristiwa barusan. 
"Kamu masih saja tak sopan seperti dulu, Fan." Ia membalas pembukaanku dengan suara lirihnya yang khas. Ia adalah perpaduan Bengkulu-Lebong yang meledak-ledak sekaligus halus. Ingin diakui sekaligus tak ingin pamer. Aku maklum, keluarganya memang berasal dari keturunan raden. Kami berbincang di meja kecil setelah obrolan kami tadi. Belakangan ku tahu dia sudah punya pacar, pacarnya seorang pegawai bumn di Ibu Kota. Untuk menjadi pacar yang baik, kamu cuma perlu setia dan bekerja. Lagian, siapa mau diberi makan cinta?

Ia kubiarkan tak tahu soal hidupku. Di umurku sekarang ini, aku takut mencintai orang yang salah. Aku selalu pergi ke tempat sepi yang tidak ada keramaian, hanya untuk berdo'a kepada tuhanku. Supaya aku bisa lupa segala hal yang membuatku sedih dan terpuruk, tapi percuma, ku kira, aku tak perlu lagi terasing dan mengurung diri untuk melupakan sesuatu. Aku cuma sulit memaafkan diriku dan dirinya yang ketika itu tak buru-buru berusaha bertahan. Bertahan dari segala hal yang masih tinggal.

Semoga akhirnya kamu bisa membayangkan, seberapa sulit untuk melupakanmu. Sepasang mata yang gelisah menahan sesuatu. Kupandang terus hari itu. Sampai matanya tertutup rapat, begitu gelap. Dalam sejam ia jadi patung yang terbentuk secara sumir. Di kedai kopi ia jadi manekin paling cantik untuk edisi bulan Januari. Dan diriku, seperti banyak orang tahu, masih jadi orang gila yang menghabiskan sisa hidupnya untuk kesia-siaan yang tak banyak orang tahu. Aku tak tahu lagi berapa umurku, apalagi cara mengukur satuan waktu. Seperti kucing di sampingku ini, setia.

 
Ditulis: Fanni Indra Pratama
















Minggu, 08 Januari 2023

Januari dalam malam semenit mengenangmu

Malam sudah menyapa
Dingin pun mulai berdatangan
Langit gelap sedang berdoa
Di antara dua insan sedang memandang nasib

Maafkan aku
ampunilah aku
sengaja maupun tidak
Di dunia yang tidak adil ini
aku mencintaimu
menyayangimu
mengasihimu
sebagaimana itu semua

Sekarang pejamkanlah matamu
Berdoalah kepada tuhanmu
Dan lupakan kerumitan hari ini
Percayalah, esok pagi akan menjadi lebih baik



Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama

Sabtu, 31 Desember 2022

Tahun kedua puluh dua di abad dua satu

Menurutku puisi merupakan perayaan. Aku mengatakannya padamu bukan kali ini tapi sering. Sering banget. 

Tahun kedua puluh dua di abad dua satu, kamu segera pergi dan aku tak perlu cemas menahanmu. Aku tahu ini kedua kalinya kamu pergi meninggalkanku. Beruntungnya aku masih punya puisi yang bisa menyelamatkanku dari tindakan murah macam itu.

Akan kukenang kamu seperti bintang di langit gelap yang mati lama sekali sebelum kutulis ini. "Aku tak lagi punya perasaan yang besar seperti dulu."

Kembang api sudah menyala dari sudut gang rumahku, pertanda malam pergantian tahun akan segera tiba. Selamat tahun baru, kata puisi. Di tahun ini semua orang memanggul tahun yang berat berharap tahun besok mereka lebih kuat, katanya lagi.

Untuk malam ini biar kunyalakan kembang api di antara puisi-puisi yang sedang kutulis ini. Untukmu, sampai jumpa.


Aku tak lagi punya perasaan yang besar seperti dulu

Di malam pergantian tahun baru

Ada kembang api

Dalam diriku dan pikiranmu

Yang selalu kusebut sebelum tahun berganti

Luasnya samudra Hindia

Terbentang khatulistiwa

Hujan malam hari terus menerpa

Malam ini malamnya berpisah

Terima kasih atas segalanya 

Di tahun sebelumnya


Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama








Jumat, 23 Desember 2022

Apa rindu masih pantas disebut rindu jika yang merasakannya seorang diri?

Tulisan sederhana yang sulit diungkapkan

Begitulah kenapa aku suka menulis. Kamu benar, aku selalu gagal serius ketika melihat matamu yang coklat itu. Aku gagal membaca arah mata angin dalam perbincangan kita yang selalu berakhir ketawa satu sama lain. Namun itulah juga, bunga, yang mengekalkan kangenku di antara kebencian yang mengubun. 

Aku sudah lama tak menulis lagu, puisi, dan surat untukmu, tentu juga karena aku sangat sibuk dan tak setiap waktu rindu. Selepas kamu sibuk dengan kesibukanmu, aku tentu tahu, menulis surat dan megutarakan rindu tak akan semudah kemarin-kemarin sore.

Sebenarnya aku ingin memulai tulisanku dengan pertanyaan-pertanyaan basa-basi, seperti: Hi There! Apa kabar bunga? Kuharap kamu baik-baik saja dan bola matamu tetap coklat dan suaramu tetap seperti BCL! Hahaha tapi kok aku rasa itu justru akan membuatmu membuang kertas suratku tepat setelah kamu membacanya. 

Mungkin aku hanya menduga karena aku sering merasa tak aman, dan kamu tahu kalau dugaanku memang sering sembilan puluh persen meleset. Di samping itu, aku mulai menggerakkan jariku diatas keyboard PC dengan ditemani lagu-lagu ONE OK ROCK yang kamu tak begitu suka itu. Jadi, aku tak perlu memulainya dengan lagu yang kamu suka, kan?

Bunga, apakah Papa masih suka bermain badminton tiap minggu pagi sekitar jam delapan? Aku tak pernah berkomentar tentang ini, tapi itu adalah segambar kecil yang selalu kuingat dari papa. Kuharap ia selalu diberi sehat, dan mama selalu diantarkan ke mana-mana, terutama kalau mama sedang dirundung mendung dan ingin berdoa. 

Mereka pasangan yang imut, dan kupikir keimutan itu tak datang tiba-tiba pada mereka juga padamu. Kamu dapat keimutan dari mereka, dan mereka barangkali dapat keimutan itu dari waktu yang menumbuhkan cinta mereka.

Kalau kabarmu sendiri? Hehe aku dengar kamu sekarang sudah punya pacar ya? Selamat ya bunga, akhirnya kamu menemukan pelabuhan cinta yang kamu rindukan itu. Kuharap semuanya baik, dan ia menjagamu dengan sebaik-baik mungkin

Di Bengkulu kemarin hujan deras, kalau ingat hujan aku jadi ingat perjalanan kita sepulang jogging di bawah langit tuhan yang gelap itu. Dimana air hujan membasahi kita berdua Hahaha itu moment yang tidak pernah aku lupakan, maka ketika sedang mendengarkan lagu lagu OOR tadi, aku kok jadi merasa ingin menulis surat padamu. Tak dibalas tak apa, dibalas ya syukur, semoga kalau dibaca pacarmu surat ini tak langsung dibuang. Pacarmu bukan pencemburu, kan? Semoga.

Aku belum benar-benar menutup surat ini, sebab seperti biasa, aku masih suka menulis lagu, puisi dan memberikannya padamu cuma-cuma. Semoga kamu masih suka.


Senyuman Manis di Pantai Panjang

Sore itu perjalanan melelahkan

Menikmati indahnya pantai panjang

Dua insan sedang bahagia di samudra lautan

Di atas pasir putih dan ombak karang


Sore itu matahari sore melihatmu

Dengan senyuman manis yang kuinginkan 

Kenangan itu tak akan pernah aku lupakan 

Di pantai ini kamu selalu ku kenang


Semua yang aku lakukan hanya untukmu

Dari hati yang tulus beserta isinya

Senyuman manismu itu tak kan kulupakan

Senyuman itu selalu ku kenang 

Bengkulu, 20 Juni 2020


Puisi 

Rindu kamu dan semuanya

Hujan sore tadi begitu mirip dirimu

Suka membawa rasa sedih 

dan tawa ke mana-mana

Rintikan hujan kedengaran 

lewat kuping, 

lewat nyanyi

lewat angin

lewat doa-doa

lewat segalanya

Mengendapkan mata-mata kucing

mata-mata aku 

mata-mata angin

mata-mata haru 

dan binar-binar matamu

Pulanglah, pulanglah aku rindu 

Bengkulu, 05 September 2020


Aku menulis begini padamu pada malam jam 23.50 menuju pergantian hari, membayangkan dinginnya kota Bengkulu dan kangenku pada dirimu. Malam ini begitu tenang dan percayalah kalau kamu ada di sini bersamaku meminum bandrek paling sempurna ini, kamu bisa tertawa, dan memelihara pertanyaan seperti memelihara ingatan adalah hal yang seringkali subtil. Itulah kenapa aku suka menulis, supaya kamu tahu, aku ada bahan bercerita, menciptakan ruang kosong yang lain lagi denganmu.


Dokpri

https://soundcloud.com/fanny-indrapratama/senyuman-manis-dipantai?si=b2c09075b08e42329a3554c39891cb63&utm_source=clipboard&utm_medium=text&utm_campaign=social_sharing

Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama




Senin, 12 Desember 2022

Mendungnya di hari senin

Senin sedang mendung-mendungnya di Bengkulu

Dan hujan mengguyur kota tanpa permisi

Pekerja harian macam saya mudah sekali mengutuk hujan

Terkadang hujan menjadi lebat tiba-tiba saat menjelang pulang kerja

Jas hujan murahan tak seberapa awet dan kaos mulai basah meresap di dada

Dua helai tahu goreng yang mampir di lambung kurang cukup menjadi pondasi melawan dingin

Ohh hujan, berhentilah

Berhentilah

Makhluk Tuhan yang sedang galau ini mau pulang.. 


Ditulis: Fanni Indra Pratama