Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Sabtu, 14 Januari 2023

Setidaknya perpisahan tidak mengajarkan untuk saling melupakan

Surat kecil itu terselip di saku celanaku. Ia memberi itu ketika kami baru saja berpisah dan ia marah besar. Di antara kami tak ada dendam yang terus atau rasa pahit yang panjang. Tapi seperti semua kisah kasih, ia pergi jauh setelah kami berpisah. Ia enggan membalas whatsapp ku, enggan mengangkat telponku, aku juga kecewa dengan perpisahan. Seperti kekecewaanku pada semua ucapan selamat tinggal. 

Sejauh kamu mengayuh sepeda tua, sejauh itu pula kamu akan menemukan rumah baruku. Rumah luas di sekitaran hutan, jauh dari keramaian, jauh dari peradaban, termasuk kegelisahanmu yang luar biasa sengit. Aku tinggal di rumah yang jauh sekarang, sejak perpisahan kami, segalanya tampak jauh lebih biasa dari apapun sebelumnya.

Sejak malam itu, aku dan dia tidak pernah berkirim kabar lagi. Kami dulu sering video call tiap malam, bercerita, tertawa dan bersenang menjelang terangnya bulan purnama. Jauh sebelum beberapa hari sebelum perpisahan kami, ia mencoba mengucap kata-kata sederhana. ''Aku akan selalu mencintaimu, akan selalu begitu.''

Kamu tahu, ia punya suara lebih halus dari batik sutra yang biasa dibeli ibu di pasar pagi dekat rumah. Walaupun sudah lama tak berkomunikasi, dia tetap menggelisahkan, mengecewakan, dan menyakitkan. Lebih menakutkan dari macan manapun yang akan kamu temui di hutan. Aku terlanjur ingin melupakannya dan sebisa mungkin membuang wajah dan ceritanya jauh-jauh dari pembuangan sampah paling jauh yang mungkin kamu jangkau. Tapi itu tak bisa, tak semudah itu, dan sulit. Menjelang perpisahan kami, ia bisu. Ia memang tak banyak bicara, suka memandang bintang ketika orangtuanya sudah terlelap, atau ketika orang-orang kampung selesai ronda malam. Mungkin ini pertanda bahwa hubungan yang rumit ini harus diselesaikan. 

Beberapa bulan setelah perpisahan, kami dipertemukan lagi pada siang yang panas, ketika para ibu melarang anak-anaknya minum es coklat tapi mereka sendiri melanggarnya.  Sejak perpisahan itu aku membencinya, sangat membencinya. Kamu tahu, akan sulit memaafkan kekasih yang tiba-tiba pergi sedang ia sadar kamu masih mencintainya. Tentu, aku masih mencintainya ketika kami berpisah. Ia sangat tahu hal ini.

Sebenarnya aku tak langsung bisa melupakannya. Aku rajin pergi ke pameran buku, membeli beberapa buku motivasi cinta dengan judul yang memberimu harapan untuk bangkit. Bangkit dari Keterpurukan, Lekas sembuh dari luka hati, Sebuah seni untuk bersikap bodo amat, dsb. Dari semua itu, aku paling suka "Cara berkomunikasi lewat Bathin." Aku gemar berdo'a, menyukai do'a sejak kecil. Sebab lewat do'a, aku percaya bahwa segala harapan dan umpatan banyak orang bisa sampai kepada siapa saja yang mendengarnya. Entah itu jin, hantu dan malaikat, dan segala hal yang gaib. 

Sejak aku merasa diri paling berdosa, aku tak pernah menganggap do'a ku langsung sampai ke telinga Tuhan. Paling tidak atas ketabahan mengharap sesuatu, pesan itu disimpan dulu oleh malaikat dan entah disampaikan pada Tuhan beberapa saat kemudian. Tapi itulah, buku komunikasi bathin ini mengingatkanku pada do'a. Katanya, yang perlu kamu lakukan adalah menyebut nama kekasihmu secara berulang, nanti suaramu akan sampai juga pada orang yang kamu cinta. Ini hal yang penting, pikirku.

Sampai sekarang aku suka menyebut nama kekasihku dalam hati, sebelum akhirnya kami bertemu hari kemarin. Biasanya, penyebutan nama ini akan berefek langsung hari itu juga, detik itu juga, dan siang itu juga. Tapi kemarin ini tak biasa. Kami bertemu di sebuah kedai kopi dekat pantai tengah kota. Kedai yang tak lekang di makan zaman sejak masa kami pacaran. Di sana muda-mudi biasa beradu pikir. Wajahnya masih sama, matanya masih coklat dan bibirnya yang menyenangkan juga tetap tinggal. Aku ada di antara rasa-rasa semrawut, gelisah, tak karuan. Setelah beberapa tahun aku cuma menghubunginya lewat bathin.

Mantan kekasihku masih sama seperti dulu. Sendirian saja bersama senyuman kecil. Aku memberanikan diri menyapanya. “Kamu tahu, wajahmu banyak berubah setelah kita berpisah.” Aku basa-basi membuka percakapan sambil memandang matanya jauh ke dalam, seakan-akan beberapa tahun di antara kami hanyalah peristiwa barusan. 
"Kamu masih saja tak sopan seperti dulu, Fan." Ia membalas pembukaanku dengan suara lirihnya yang khas. Ia adalah perpaduan Bengkulu-Lebong yang meledak-ledak sekaligus halus. Ingin diakui sekaligus tak ingin pamer. Aku maklum, keluarganya memang berasal dari keturunan raden. Kami berbincang di meja kecil setelah obrolan kami tadi. Belakangan ku tahu dia sudah punya pacar, pacarnya seorang pegawai bumn di Ibu Kota. Untuk menjadi pacar yang baik, kamu cuma perlu setia dan bekerja. Lagian, siapa mau diberi makan cinta?

Ia kubiarkan tak tahu soal hidupku. Di umurku sekarang ini, aku takut mencintai orang yang salah. Aku selalu pergi ke tempat sepi yang tidak ada keramaian, hanya untuk berdo'a kepada tuhanku. Supaya aku bisa lupa segala hal yang membuatku sedih dan terpuruk, tapi percuma, ku kira, aku tak perlu lagi terasing dan mengurung diri untuk melupakan sesuatu. Aku cuma sulit memaafkan diriku dan dirinya yang ketika itu tak buru-buru berusaha bertahan. Bertahan dari segala hal yang masih tinggal.

Semoga akhirnya kamu bisa membayangkan, seberapa sulit untuk melupakanmu. Sepasang mata yang gelisah menahan sesuatu. Kupandang terus hari itu. Sampai matanya tertutup rapat, begitu gelap. Dalam sejam ia jadi patung yang terbentuk secara sumir. Di kedai kopi ia jadi manekin paling cantik untuk edisi bulan Januari. Dan diriku, seperti banyak orang tahu, masih jadi orang gila yang menghabiskan sisa hidupnya untuk kesia-siaan yang tak banyak orang tahu. Aku tak tahu lagi berapa umurku, apalagi cara mengukur satuan waktu. Seperti kucing di sampingku ini, setia.

 
Ditulis: Fanni Indra Pratama
















Minggu, 08 Januari 2023

Januari dalam malam semenit mengenangmu

Malam sudah menyapa
Dingin pun mulai berdatangan
Langit gelap sedang berdoa
Di antara dua insan sedang memandang nasib

Maafkan aku
ampunilah aku
sengaja maupun tidak
Di dunia yang tidak adil ini
aku mencintaimu
menyayangimu
mengasihimu
sebagaimana itu semua

Sekarang pejamkanlah matamu
Berdoalah kepada tuhanmu
Dan lupakan kerumitan hari ini
Percayalah, esok pagi akan menjadi lebih baik



Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama

Sabtu, 31 Desember 2022

Tahun kedua puluh dua di abad dua satu

Menurutku puisi merupakan perayaan. Aku mengatakannya padamu bukan kali ini tapi sering. Sering banget. 

Tahun kedua puluh dua di abad dua satu, kamu segera pergi dan aku tak perlu cemas menahanmu. Aku tahu ini kedua kalinya kamu pergi meninggalkanku. Beruntungnya aku masih punya puisi yang bisa menyelamatkanku dari tindakan murah macam itu.

Akan kukenang kamu seperti bintang di langit gelap yang mati lama sekali sebelum kutulis ini. "Aku tak lagi punya perasaan yang besar seperti dulu."

Kembang api sudah menyala dari sudut gang rumahku, pertanda malam pergantian tahun akan segera tiba. Selamat tahun baru, kata puisi. Di tahun ini semua orang memanggul tahun yang berat berharap tahun besok mereka lebih kuat, katanya lagi.

Untuk malam ini biar kunyalakan kembang api di antara puisi-puisi yang sedang kutulis ini. Untukmu, sampai jumpa.


Aku tak lagi punya perasaan yang besar seperti dulu

Di malam pergantian tahun baru

Ada kembang api

Dalam diriku dan pikiranmu

Yang selalu kusebut sebelum tahun berganti

Luasnya samudra Hindia

Terbentang khatulistiwa

Hujan malam hari terus menerpa

Malam ini malamnya berpisah

Terima kasih atas segalanya 

Di tahun sebelumnya


Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama








Jumat, 23 Desember 2022

Apa rindu masih pantas disebut rindu jika yang merasakannya seorang diri?

Tulisan sederhana yang sulit diungkapkan

Begitulah kenapa aku suka menulis. Kamu benar, aku selalu gagal serius ketika melihat matamu yang coklat itu. Aku gagal membaca arah mata angin dalam perbincangan kita yang selalu berakhir ketawa satu sama lain. Namun itulah juga, bunga, yang mengekalkan kangenku di antara kebencian yang mengubun. 

Aku sudah lama tak menulis lagu, puisi, dan surat untukmu, tentu juga karena aku sangat sibuk dan tak setiap waktu rindu. Selepas kamu sibuk dengan kesibukanmu, aku tentu tahu, menulis surat dan megutarakan rindu tak akan semudah kemarin-kemarin sore.

Sebenarnya aku ingin memulai tulisanku dengan pertanyaan-pertanyaan basa-basi, seperti: Hi There! Apa kabar bunga? Kuharap kamu baik-baik saja dan bola matamu tetap coklat dan suaramu tetap seperti BCL! Hahaha tapi kok aku rasa itu justru akan membuatmu membuang kertas suratku tepat setelah kamu membacanya. 

Mungkin aku hanya menduga karena aku sering merasa tak aman, dan kamu tahu kalau dugaanku memang sering sembilan puluh persen meleset. Di samping itu, aku mulai menggerakkan jariku diatas keyboard PC dengan ditemani lagu-lagu ONE OK ROCK yang kamu tak begitu suka itu. Jadi, aku tak perlu memulainya dengan lagu yang kamu suka, kan?

Bunga, apakah Papa masih suka bermain badminton tiap minggu pagi sekitar jam delapan? Aku tak pernah berkomentar tentang ini, tapi itu adalah segambar kecil yang selalu kuingat dari papa. Kuharap ia selalu diberi sehat, dan mama selalu diantarkan ke mana-mana, terutama kalau mama sedang dirundung mendung dan ingin berdoa. 

Mereka pasangan yang imut, dan kupikir keimutan itu tak datang tiba-tiba pada mereka juga padamu. Kamu dapat keimutan dari mereka, dan mereka barangkali dapat keimutan itu dari waktu yang menumbuhkan cinta mereka.

Kalau kabarmu sendiri? Hehe aku dengar kamu sekarang sudah punya pacar ya? Selamat ya bunga, akhirnya kamu menemukan pelabuhan cinta yang kamu rindukan itu. Kuharap semuanya baik, dan ia menjagamu dengan sebaik-baik mungkin

Di Bengkulu kemarin hujan deras, kalau ingat hujan aku jadi ingat perjalanan kita sepulang jogging di bawah langit tuhan yang gelap itu. Dimana air hujan membasahi kita berdua Hahaha itu moment yang tidak pernah aku lupakan, maka ketika sedang mendengarkan lagu lagu OOR tadi, aku kok jadi merasa ingin menulis surat padamu. Tak dibalas tak apa, dibalas ya syukur, semoga kalau dibaca pacarmu surat ini tak langsung dibuang. Pacarmu bukan pencemburu, kan? Semoga.

Aku belum benar-benar menutup surat ini, sebab seperti biasa, aku masih suka menulis lagu, puisi dan memberikannya padamu cuma-cuma. Semoga kamu masih suka.


Senyuman Manis di Pantai Panjang

Sore itu perjalanan melelahkan

Menikmati indahnya pantai panjang

Dua insan sedang bahagia di samudra lautan

Di atas pasir putih dan ombak karang


Sore itu matahari sore melihatmu

Dengan senyuman manis yang kuinginkan 

Kenangan itu tak akan pernah aku lupakan 

Di pantai ini kamu selalu ku kenang


Semua yang aku lakukan hanya untukmu

Dari hati yang tulus beserta isinya

Senyuman manismu itu tak kan kulupakan

Senyuman itu selalu ku kenang 

Bengkulu, 20 Juni 2020


Puisi 

Rindu kamu dan semuanya

Hujan sore tadi begitu mirip dirimu

Suka membawa rasa sedih 

dan tawa ke mana-mana

Rintikan hujan kedengaran 

lewat kuping, 

lewat nyanyi

lewat angin

lewat doa-doa

lewat segalanya

Mengendapkan mata-mata kucing

mata-mata aku 

mata-mata angin

mata-mata haru 

dan binar-binar matamu

Pulanglah, pulanglah aku rindu 

Bengkulu, 05 September 2020


Aku menulis begini padamu pada malam jam 23.50 menuju pergantian hari, membayangkan dinginnya kota Bengkulu dan kangenku pada dirimu. Malam ini begitu tenang dan percayalah kalau kamu ada di sini bersamaku meminum bandrek paling sempurna ini, kamu bisa tertawa, dan memelihara pertanyaan seperti memelihara ingatan adalah hal yang seringkali subtil. Itulah kenapa aku suka menulis, supaya kamu tahu, aku ada bahan bercerita, menciptakan ruang kosong yang lain lagi denganmu.


Dokpri

https://soundcloud.com/fanny-indrapratama/senyuman-manis-dipantai?si=b2c09075b08e42329a3554c39891cb63&utm_source=clipboard&utm_medium=text&utm_campaign=social_sharing

Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama




Senin, 12 Desember 2022

Mendungnya di hari senin

Senin sedang mendung-mendungnya di Bengkulu

Dan hujan mengguyur kota tanpa permisi

Pekerja harian macam saya mudah sekali mengutuk hujan

Terkadang hujan menjadi lebat tiba-tiba saat menjelang pulang kerja

Jas hujan murahan tak seberapa awet dan kaos mulai basah meresap di dada

Dua helai tahu goreng yang mampir di lambung kurang cukup menjadi pondasi melawan dingin

Ohh hujan, berhentilah

Berhentilah

Makhluk Tuhan yang sedang galau ini mau pulang.. 


Ditulis: Fanni Indra Pratama

Minggu, 20 November 2022

awasi kami dari surga nanti ya

Kalau ada takdir yang paling setia yang dipegang ciptaannya, mungkin adalah takdirmu untuk menunggu setiap anggota keluarga pulang ke rumah.
 
Mengintip dari sela jendela, mengeong dan mengabari seisi rumah, cepat-cepat makan biar engga dikira bocil bandel kaya empat tahun yang lalu. 

Kamu menua dengan banyak kebijaksanaan dan kesabaran, terutama di porsi mengalah yang lebih muda. Aku coba belajar banyak dari kamu soal keberanian dan kesetiaaan, tapi tentang menunggu kepulanganmu ternyata tidak pernah terjadi. 

Sekarang kamu bisa tidur nyenyak, engga perlu kaget lagi kalo aku pulang ke rumah. Empat tahun sebenarnya engga cukup, tapi seengganya kita udah ketemu di takdir hidup yang ruwet tanpa jawaban. 

Kemarin sudah mandi, kan. Sudah siap ketemu santo di surga. Kalian berdua jagain kami dari sini ya, perjalanan masih panjang. Terima kasih Fou, tidak pernah ninggalin aku di waktu-waktu yang berat. 

Selamat beristirahat 🥺

Ditulis: Fanni Indra Pratama

Senin, 07 November 2022

Melihat rumah Bung Karno dari tempatku berpijak

Aku sendiri selalu terpukau saat memasuki rumah Bung Karno yang masih sepi. Ada kenangan tersendiri yang membuatku ingin berlama-lama di sini. Sejarah menurutku tergambar dari mana ia berasal. Bagi kalangan masyarakat kelurahan Anggut, bangunan yang megah ini cukup menjadi tauladan. Menjelang kokoh dengan berkah udara bersih yang menghidupkan tanah di sekitarnya. Rumah ini jarang sekali menjadi momok, ia justru menjadi sumber keindahan, menjadi anugrah dan sumber harapan.

Rumah pengasingan Bung Karno dan ekosistem di sekitarnya terbentuk atas karakter yang sama dalam pandanganku. Sekalipun sedang buruk, bangunan di tanah ini masih menyisahkan doa. Aku masih akan berada di sana, di tempat biasanya kita bertemu. Aku yakin besok kita bertemu lagi. Dan jika itu terjadi aku akan menceritakan lebih detail kisah romansa yang ada di bangunan ini dengan pengetahuan yang aku miliki. Karna itu yang membuat aku, kamu dan kita semua terus hidup atas berkahnya. 




Ditulis: Fanni Indra Pratama





Minggu, 23 Oktober 2022

Hujan dan mimpi yang tidak diinginkan

Hari minggu dari aku bangun tidur tadi kubuka gorden kamar yang putaran bulat itu. Kuputar kiri kanan. Aku bisa lihat di luar sedang hujan. Di kotaku, Bengkulu, hujan selalu datang seperti ini. Serupa rintikan-rintikan kecil yang turun pelan. Ini tidak sungguh-sungguh hujan, batinku. Ini adalah gerimis yang datang tiba-tiba, seperti dulu ia biasa datang padaku.

Hujan gerimis semakin lama semakin deras. Ia menuntunku seperti aku menuntun bapak tua di persimpangan jalan rumah Bung Karno, dan berbisik: "Terima kasih, nak."

Hari akan jadi panjang, pikirku. Hari ini praktis tidak kulakukan apapun yang berarti selain bermain game. Oh iya lupa, aku punya janji sama dirimu yang tak mungkin kutinggal jam sepuluh pagi ini. Kutolak tidur lagi.  


Langit gelap dan suara gerimis yang tak kunjung henti itu persis sama dengan wajahmu yang sedang murung, wajahmu yang menahan air mata entah karna apa.

Hoaaahm kamu lagi, kamu lagi. Tak terasa sudah lebih dari satu jam dari aku bangun, aku meracau di dalam tulisan-tulisan yang sedang kuceritakan ini. Ya, ini.

Pikiranku sekelebat tentangmu tadi memecah fokusku untuk mengingat sisa-sisa mimpi semalam. Apa ya tadi mimpiku? APA YA?! AAAH !..

Aku melanjutkan rebahan lagi, lihat atas, rebah kiri kanan. Sepertinya semalam aku mimpi... Apa, ya?

Kuputuskan untuk menyudahi mengingat-ingat mimpi. Mimpi itu kejam. Ia datang bawa pesan yang sulit diterjemahkan. Pesanmu, wajahmu, bayanganmu dan gerak-gerikmu. Aaaaaah.. Pikiran ini terlampau cepat. Tulisanku sampai tak sanggup mengikuti. Sialan.

Di pantai panjang yang indah wajahmu selalu jadi pasir yang ditulis-tulis, atau ikan yang lamis amis haha. Sebab sungguh, tiap-tiap aku kesana selalu saja kehilangan layangan yang senantiasa kumainkan sampai senja datang. 

Sudah berkali-kali kukatakan bahwa kehilangan itu wajar. KEHILANGAN ITU WAJAR! Sampai detik ini, aku tetap gagal paham kenapa gerimis jarang datang di kota ini. Pikiranku makin tak jelas pagi ini, tulisanku makin kabur dibawa pikiran yang pergi lari-lari kejauhan. Dari bicara gerimis, mimpi, kamu, kamu lagi. Manusia selalu gitu, ya.

Sampai aku tulis kalimat ini, hujan sudah berhenti turun. Gerimis tinggal sisa harumnya saja. Berapa orang di dunia ini suka bau hujan? Apa hujan ada kenangan yang selalu diingat?  Banyak! Hampir setiap orang yang kutemui. Sebab sungguh, ketika mereka mendekam sendiri di tanah kuburan. Selain bunga-bunga kamboja dan doa-doa yang jarang, sahabat mereka hanyalah air hujan, hujan dan hujan.

Minggu pagi, 23 Oktober 2022

Ditulis: Fanni Indra Pratama





Minggu, 16 Oktober 2022

Surat cinta untuk club kebanggaanku Liverpool

Untukmu Liverpool,

Bagaimana keadaan kalian hari ini? Lebih baik bukan? Tidur kalian juga pasti lebih nyenyak, kan? Hasil Kemenangan rabu kemarin atas Glasgow Rangers pastilah lebih menyenangkan dari sekedar hasil imbang dan kekalahan,bukan? Teruslah pertahankan ya sayang. Aku adalah orang yang beberapa waktu lalu membuat surat kecil saat perfoma kalian lagi terpuruk. Jadi tidak adil rasanya kalau aku tidak menulis surat ini saat kalian menang. Walau hanya untuk mengucapkan terima kasih untuk perjuangan dan kebanggaan yang kalian berikan rabu malam kemarin.

Aku sadar diri rabu malam kemarin kemenangan yang sangat berat buat kalian. Pertandingan yang  begitu dramatis dan menegangkan dimana 90 menit itu kalian tidak pernah lelah untuk tetap berjuang meraih kemenangan. Kemenangan ini kalian persembahkan untuk para fans yang tidak pernah lelah menyemangati kalian disaat sedang terpuruk. Lima pemain dilanda cedera hanya memakai pemain seadanya kalian sudah memberikan permainan yang begitu luar biasa.

Kemenangan ini memang menyenangkan. Tapi tolong jangan terlena Liverpool. Seperti yang sering kalian katakan “there is still magic in the next match”. Ingat kata-kata itu. Artinya masih banyak lawan yang menanti, masih banyak pertandingan yang dimenangi. Ingat juga saat alasan kalian saat tidak mendapatkan hasil maksimal, “this match we were out of luck”. Ingatlah untuk menang tidak cukup hanya dengan keberuntungan.

Aku menulis ini dari jauh. Aku hanya harap kalian tahu ada aku dan orang-orang seperti aku yang begitu gila pada kalian. Orang-orang yang melakukan hal tidak masuk akal demi cinta dan kebanggaan. Aku berharap kalian lihat sedikit kearah kami. Buat kami bangga dengan permainan indah. Aku tidak menuntut kalian menang besar, karna hasil bukan kita yang menentukan. Melihat permainan cantik kalian diatas lapangan sudah buat aku bahagia. Dan hanya itu yang aku minta.

Sekali lagi terima kasih untuk kemenangan dan kebanggaan yang kalian berikan rabu malam kemarin. Teruslah bekerja keras sayang. Buatlah lawan-lawan selanjutnya gentar. Teruslah berlari lebih kencang demi trofi kebangaan kita. Aku begitu mencintai kalian aku harap kalian tahu itu. Bahkan aku lebih dari sekedar cinta. Kalau mau mengikuti kata-kata mereka aku gila. Ya gila karena Liverpool.

Mungkin ini surat terakhirku untuk club kebanggaan, Liverpool.



ditulis: Fanni Indra pratama






Sabtu, 08 Oktober 2022

Bulan purnama di malam minggu

Kota ini berjarak ribuan kilo dari matamu, tapi tak secenti pun pernah kau tempuh aku dari angan-anganmu. Di sini ada pikiran yang koyak tentangmu, suasana hening tanpa kabar, senyuman orang dari lelahnya pulang kerja dan menikmati bulan purnama di taman depan rumah

Waktu bersamamu memberikan kenangan yang baik. Begitu juga dengan cinta, cinta yang datang diantara kebahagiaan dan kesedihan, dan ketika mencintai menjadi kuat, di antara kesedihan ia datang dan menguatkan, di antara kebahagian ia memberikan.


Juga ketulusan. Ia memberiku satu periuk nasi, tiga tahu susur, dan semangkok soup ayam. 

Biarkan aku simpan kangen, dusta dan mimpi-mimpi di bawah bantal, biar kubawa dalam tidur dan ciuman kepadamu di mimpi menjelang subuh.


ditulis: Fanni Indra Pratama

Sabtu, 01 Oktober 2022

Oktober, kita bertemu lagi

Kepada Yth 

Fanni Indra Pratama                                                                         

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap tanggal satu Oktober aku akan menulis untukmu. Sebab melalui ini kita bisa berbagi cerita, serta saling mengerti tentang apa yang bagus dan apa yang kurang. Lagipula ini tanggal 30 September jam 23.50 wib, sebentar lagi maksudnya.

Pertama, aku ingin mengatakan hal ini, semakin tua kamu semakin bodoh saja. Kedua, semakin kemari kamu tampak semakin bingung pada pendirianmu seperti bunglon yang sering berganti warna kapan saja. Dan yang terakhir kamu masih jomblo sampai sekarang haha mana pacarmu?

Di antara itu kamu masih saja menulis, percaya sekali bahwa puisi bisa menyelamatkanmu dari banyak hal. Yaudahlahya, menurutku sih itu bagus sekali. Bukankah dari situ orang akan bisa membaca pikiranmu sekaligus tidak mudah menduga orang seperti bagaimana sebenarnya kamu ini? Kamu ini.. Haduh. Susah mau dijelaskan.

Sebelum aku menulis panjang lebar tentangmu waktu sekarang sudah menunjukan jam 00.02 WIB, jadi hari sudah berganti tanggal satu Oktober hahaha. 

Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun Fanni Indra Pratama, aku tidak pernah membayangkan itu. Kamu ingat betul gemilangnya Jordan Henderson di Liverpool yang begitu bagus permainannya waktu kamu masih SMA dulu. Sekarang dia sudah tua sama sepertimu wkwkwk.

Fan, tahun ini Oktober menyapamu lagi seperti laki-laki keren yang butuh teman, teman untuk sekedar ngobrol yang bisa bikin ketawa satu sama lain. 

Bunga-bunga di taman depan rumahmu itu banyak belum mekar, hujan dan gerimis baru sesekali datang samar-samar. Tapi satu yang aku amati betul: Dari akhir September kemarin, ada aroma yang terus datang namun sulit dijelaskan.

Beberapa kali kamu coba tangkap, kamu hirup dalam dan kamu nikmati, kamu selalu membayangkan masa kecil, kecil yang sekolah menengah, sampai kecil yang umur lima tahun. Aroma itu cukup membantumu ingat kenangan-kenangan kecil, mirip buku album foto.

Fan, setiap ibumu ke dapur kamu selalu bilang “Ibu masak apa? Pasti sop ayam, ya? Aromanya udah kecium bu sampai teras rumah". Di umur-umur dua-tiga tahun kamu selalu menemani ibu masak di dapur, sambil memutar-mutarkan mobil-mobilan. Sesekali kamu tanya ibu, dan kamu jawab sendiri pertanyaanmu. Anak kecil.

Hirupan sesekali itu tak berhenti. Aroma itu mirip kertas yang memaksakmu terus menulis puisi, tentu tanpa paksaan yang harfiah. Hari lainnya datang, aroma itu kadang datang lagi dan tak kamu hiraukan benar. 

Ia kadang mirip perempuan kesepian, perempuan cantik nan memikat, atau anak kecil yang mengajak main di waktu sibuk. Dalam kesempatan lain, aroma ini menuntunmu juga ke pantai panjang, pantai tebaiknya Bengkulu yang selalu kamu banggakan itu.

Malam ini di Bengkulu sedang hujan, dan mantanmu sudah bersama laki-laki lain, kamu memang sudah melupakannya, kamu melupakannya sedingin hujan itu. 

Tapi aku tahu kamu, kamu kadang adalah pendendam yang malang. Kamu hanya berdiam diri, merasa kecil dan gagal. Kamu merasa perjuangan hidup adalah sia-sia. Kamu perlu perenungan tapi kamu sok tegar, kamu sombong. 

Tapi kamu diriku, bagian dari aku yang lain. Kamu tahu beberapa kebohongan pada cerita lamamu adalah langgam lawas yang di ulang, tapi kamu bersikeras memaafkannya, mewajarkannya, dan menerimanya. Pendek kata, kamu lemah selemah lemah orang!

Fan, kamu perlu tahu ada saatnya diam dan menganggap semua hal yang terjadi di sekitarmu baik-baik saja, tapi kamu tahu juga kalau kamu punya pilihan untuk peduli. 

Kamu tahu kamu punya pilihan untuk berempati dan bersedih. Kamu setuju perasaan yang melankoli melemahkan jiwamu, tapi kamu sendiri telah sejak awal setuju dilemahkan.

Semakin lama, aku semakin paham kamu selalu ada cara untuk menyikapi rasa lemah di jiwamu, yaitu melihat senyuman bapak dan ibu di teras depan rumah. 

Di India, Sario Brierly pernah hilang waktu umur lima tahun, berpisah dari ibu dan kakaknya, selama lebih dari tiga decade itu tidak ada kata LEMAH dan menyerah. Selama itu pula ikatan di antara mereka tak pernah surut. Aku mau semangat kamu seperti itu Fan,lawan rasa lemahmu!

Di tanggal satu Oktober yang penuh berkat, bagimu, sedikit banyak disyukuri apa-apa yang selama ini sudah kamu dapat dengan mudah maupun susah payah. Dua tahun lalu di tanggal yang sama kamu pernah mengatakan: Hari ini tanggal satu Oktober, mestinya bukan lagi mimpi-mimpi, tapi mimpi-mimpi yang sengaja dijadikan hidup.

Sebagai penutup dariku: Nikmatilah hari ini, pergilah ke pantai dan pegunungan supaya dapat berimajinasi untuk menulis. Aku membuat satu lagu untukmu tentu kamu harus denger, record lagunya sudah aku simpan di pc mu, tidak usah terkejut kalau bagus, toh nanti akan kamu setel berulang sebelum setelahnya kembali bosan. Hahahaha. Oh ya satu lagi, semoga Liverpool juara Liga Champions 2022/2023 ya haha seperti yang kamu harapkan. #YNWA

Berbahagialah dan berbahagialah Fanni Indra Pratama hehehe


Dari: Manusia paling keren setongkrongan anggut. 

Dokpri

Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama