Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Sabtu, 31 Desember 2022

Tahun kedua puluh dua di abad dua satu

Menurutku puisi merupakan perayaan. Aku mengatakannya padamu bukan kali ini tapi sering. Sering banget. 

Tahun kedua puluh dua di abad dua satu, kamu segera pergi dan aku tak perlu cemas menahanmu. Aku tahu ini kedua kalinya kamu pergi meninggalkanku. Beruntungnya aku masih punya puisi yang bisa menyelamatkanku dari tindakan murah macam itu.

Akan kukenang kamu seperti bintang di langit gelap yang mati lama sekali sebelum kutulis ini. "Aku tak lagi punya perasaan yang besar seperti dulu."

Kembang api sudah menyala dari sudut gang rumahku, pertanda malam pergantian tahun akan segera tiba. Selamat tahun baru, kata puisi. Di tahun ini semua orang memanggul tahun yang berat berharap tahun besok mereka lebih kuat, katanya lagi.

Untuk malam ini biar kunyalakan kembang api di antara puisi-puisi yang sedang kutulis ini. Untukmu, sampai jumpa.


Aku tak lagi punya perasaan yang besar seperti dulu

Di malam pergantian tahun baru

Ada kembang api

Dalam diriku dan pikiranmu

Yang selalu kusebut sebelum tahun berganti

Luasnya samudra Hindia

Terbentang khatulistiwa

Hujan malam hari terus menerpa

Malam ini malamnya berpisah

Terima kasih atas segalanya 

Di tahun sebelumnya


Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama








Jumat, 23 Desember 2022

Apa rindu masih pantas disebut rindu jika yang merasakannya seorang diri?

Tulisan sederhana yang sulit diungkapkan

Begitulah kenapa aku suka menulis. Kamu benar, aku selalu gagal serius ketika melihat matamu yang coklat itu. Aku gagal membaca arah mata angin dalam perbincangan kita yang selalu berakhir ketawa satu sama lain. Namun itulah juga, bunga, yang mengekalkan kangenku di antara kebencian yang mengubun. 

Aku sudah lama tak menulis lagu, puisi, dan surat untukmu, tentu juga karena aku sangat sibuk dan tak setiap waktu rindu. Selepas kamu sibuk dengan kesibukanmu, aku tentu tahu, menulis surat dan megutarakan rindu tak akan semudah kemarin-kemarin sore.

Sebenarnya aku ingin memulai tulisanku dengan pertanyaan-pertanyaan basa-basi, seperti: Hi There! Apa kabar bunga? Kuharap kamu baik-baik saja dan bola matamu tetap coklat dan suaramu tetap seperti BCL! Hahaha tapi kok aku rasa itu justru akan membuatmu membuang kertas suratku tepat setelah kamu membacanya. 

Mungkin aku hanya menduga karena aku sering merasa tak aman, dan kamu tahu kalau dugaanku memang sering sembilan puluh persen meleset. Di samping itu, aku mulai menggerakkan jariku diatas keyboard PC dengan ditemani lagu-lagu ONE OK ROCK yang kamu tak begitu suka itu. Jadi, aku tak perlu memulainya dengan lagu yang kamu suka, kan?

Bunga, apakah Papa masih suka bermain badminton tiap minggu pagi sekitar jam delapan? Aku tak pernah berkomentar tentang ini, tapi itu adalah segambar kecil yang selalu kuingat dari papa. Kuharap ia selalu diberi sehat, dan mama selalu diantarkan ke mana-mana, terutama kalau mama sedang dirundung mendung dan ingin berdoa. 

Mereka pasangan yang imut, dan kupikir keimutan itu tak datang tiba-tiba pada mereka juga padamu. Kamu dapat keimutan dari mereka, dan mereka barangkali dapat keimutan itu dari waktu yang menumbuhkan cinta mereka.

Kalau kabarmu sendiri? Hehe aku dengar kamu sekarang sudah punya pacar ya? Selamat ya bunga, akhirnya kamu menemukan pelabuhan cinta yang kamu rindukan itu. Kuharap semuanya baik, dan ia menjagamu dengan sebaik-baik mungkin

Di Bengkulu kemarin hujan deras, kalau ingat hujan aku jadi ingat perjalanan kita sepulang jogging di bawah langit tuhan yang gelap itu. Dimana air hujan membasahi kita berdua Hahaha itu moment yang tidak pernah aku lupakan, maka ketika sedang mendengarkan lagu lagu OOR tadi, aku kok jadi merasa ingin menulis surat padamu. Tak dibalas tak apa, dibalas ya syukur, semoga kalau dibaca pacarmu surat ini tak langsung dibuang. Pacarmu bukan pencemburu, kan? Semoga.

Aku belum benar-benar menutup surat ini, sebab seperti biasa, aku masih suka menulis lagu, puisi dan memberikannya padamu cuma-cuma. Semoga kamu masih suka.


Senyuman Manis di Pantai Panjang

Sore itu perjalanan melelahkan

Menikmati indahnya pantai panjang

Dua insan sedang bahagia di samudra lautan

Di atas pasir putih dan ombak karang


Sore itu matahari sore melihatmu

Dengan senyuman manis yang kuinginkan 

Kenangan itu tak akan pernah aku lupakan 

Di pantai ini kamu selalu ku kenang


Semua yang aku lakukan hanya untukmu

Dari hati yang tulus beserta isinya

Senyuman manismu itu tak kan kulupakan

Senyuman itu selalu ku kenang 

Bengkulu, 20 Juni 2020


Puisi 

Rindu kamu dan semuanya

Hujan sore tadi begitu mirip dirimu

Suka membawa rasa sedih 

dan tawa ke mana-mana

Rintikan hujan kedengaran 

lewat kuping, 

lewat nyanyi

lewat angin

lewat doa-doa

lewat segalanya

Mengendapkan mata-mata kucing

mata-mata aku 

mata-mata angin

mata-mata haru 

dan binar-binar matamu

Pulanglah, pulanglah aku rindu 

Bengkulu, 05 September 2020


Aku menulis begini padamu pada malam jam 23.50 menuju pergantian hari, membayangkan dinginnya kota Bengkulu dan kangenku pada dirimu. Malam ini begitu tenang dan percayalah kalau kamu ada di sini bersamaku meminum bandrek paling sempurna ini, kamu bisa tertawa, dan memelihara pertanyaan seperti memelihara ingatan adalah hal yang seringkali subtil. Itulah kenapa aku suka menulis, supaya kamu tahu, aku ada bahan bercerita, menciptakan ruang kosong yang lain lagi denganmu.


Dokpri

https://soundcloud.com/fanny-indrapratama/senyuman-manis-dipantai?si=b2c09075b08e42329a3554c39891cb63&utm_source=clipboard&utm_medium=text&utm_campaign=social_sharing

Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama




Senin, 12 Desember 2022

Mendungnya di hari senin

Senin sedang mendung-mendungnya di Bengkulu

Dan hujan mengguyur kota tanpa permisi

Pekerja harian macam saya mudah sekali mengutuk hujan

Terkadang hujan menjadi lebat tiba-tiba saat menjelang pulang kerja

Jas hujan murahan tak seberapa awet dan kaos mulai basah meresap di dada

Dua helai tahu goreng yang mampir di lambung kurang cukup menjadi pondasi melawan dingin

Ohh hujan, berhentilah

Berhentilah

Makhluk Tuhan yang sedang galau ini mau pulang.. 


Ditulis: Fanni Indra Pratama

Minggu, 20 November 2022

awasi kami dari surga nanti ya

Kalau ada takdir yang paling setia yang dipegang ciptaannya, mungkin adalah takdirmu untuk menunggu setiap anggota keluarga pulang ke rumah.
 
Mengintip dari sela jendela, mengeong dan mengabari seisi rumah, cepat-cepat makan biar engga dikira bocil bandel kaya empat tahun yang lalu. 

Kamu menua dengan banyak kebijaksanaan dan kesabaran, terutama di porsi mengalah yang lebih muda. Aku coba belajar banyak dari kamu soal keberanian dan kesetiaaan, tapi tentang menunggu kepulanganmu ternyata tidak pernah terjadi. 

Sekarang kamu bisa tidur nyenyak, engga perlu kaget lagi kalo aku pulang ke rumah. Empat tahun sebenarnya engga cukup, tapi seengganya kita udah ketemu di takdir hidup yang ruwet tanpa jawaban. 

Kemarin sudah mandi, kan. Sudah siap ketemu santo di surga. Kalian berdua jagain kami dari sini ya, perjalanan masih panjang. Terima kasih Fou, tidak pernah ninggalin aku di waktu-waktu yang berat. 

Selamat beristirahat 🥺

Ditulis: Fanni Indra Pratama

Senin, 07 November 2022

Melihat rumah Bung Karno dari tempatku berpijak

Aku sendiri selalu terpukau saat memasuki rumah Bung Karno yang masih sepi. Ada kenangan tersendiri yang membuatku ingin berlama-lama di sini. Sejarah menurutku tergambar dari mana ia berasal. Bagi kalangan masyarakat kelurahan Anggut, bangunan yang megah ini cukup menjadi tauladan. Menjelang kokoh dengan berkah udara bersih yang menghidupkan tanah di sekitarnya. Rumah ini jarang sekali menjadi momok, ia justru menjadi sumber keindahan, menjadi anugrah dan sumber harapan.

Rumah pengasingan Bung Karno dan ekosistem di sekitarnya terbentuk atas karakter yang sama dalam pandanganku. Sekalipun sedang buruk, bangunan di tanah ini masih menyisahkan doa. Aku masih akan berada di sana, di tempat biasanya kita bertemu. Aku yakin besok kita bertemu lagi. Dan jika itu terjadi aku akan menceritakan lebih detail kisah romansa yang ada di bangunan ini dengan pengetahuan yang aku miliki. Karna itu yang membuat aku, kamu dan kita semua terus hidup atas berkahnya. 




Ditulis: Fanni Indra Pratama





Minggu, 23 Oktober 2022

Hujan dan mimpi yang tidak diinginkan

Hari minggu dari aku bangun tidur tadi kubuka gorden kamar yang putaran bulat itu. Kuputar kiri kanan. Aku bisa lihat di luar sedang hujan. Di kotaku, Bengkulu, hujan selalu datang seperti ini. Serupa rintikan-rintikan kecil yang turun pelan. Ini tidak sungguh-sungguh hujan, batinku. Ini adalah gerimis yang datang tiba-tiba, seperti dulu ia biasa datang padaku.

Hujan gerimis semakin lama semakin deras. Ia menuntunku seperti aku menuntun bapak tua di persimpangan jalan rumah Bung Karno, dan berbisik: "Terima kasih, nak."

Hari akan jadi panjang, pikirku. Hari ini praktis tidak kulakukan apapun yang berarti selain bermain game. Oh iya lupa, aku punya janji sama dirimu yang tak mungkin kutinggal jam sepuluh pagi ini. Kutolak tidur lagi.  


Langit gelap dan suara gerimis yang tak kunjung henti itu persis sama dengan wajahmu yang sedang murung, wajahmu yang menahan air mata entah karna apa.

Hoaaahm kamu lagi, kamu lagi. Tak terasa sudah lebih dari satu jam dari aku bangun, aku meracau di dalam tulisan-tulisan yang sedang kuceritakan ini. Ya, ini.

Pikiranku sekelebat tentangmu tadi memecah fokusku untuk mengingat sisa-sisa mimpi semalam. Apa ya tadi mimpiku? APA YA?! AAAH !..

Aku melanjutkan rebahan lagi, lihat atas, rebah kiri kanan. Sepertinya semalam aku mimpi... Apa, ya?

Kuputuskan untuk menyudahi mengingat-ingat mimpi. Mimpi itu kejam. Ia datang bawa pesan yang sulit diterjemahkan. Pesanmu, wajahmu, bayanganmu dan gerak-gerikmu. Aaaaaah.. Pikiran ini terlampau cepat. Tulisanku sampai tak sanggup mengikuti. Sialan.

Di pantai panjang yang indah wajahmu selalu jadi pasir yang ditulis-tulis, atau ikan yang lamis amis haha. Sebab sungguh, tiap-tiap aku kesana selalu saja kehilangan layangan yang senantiasa kumainkan sampai senja datang. 

Sudah berkali-kali kukatakan bahwa kehilangan itu wajar. KEHILANGAN ITU WAJAR! Sampai detik ini, aku tetap gagal paham kenapa gerimis jarang datang di kota ini. Pikiranku makin tak jelas pagi ini, tulisanku makin kabur dibawa pikiran yang pergi lari-lari kejauhan. Dari bicara gerimis, mimpi, kamu, kamu lagi. Manusia selalu gitu, ya.

Sampai aku tulis kalimat ini, hujan sudah berhenti turun. Gerimis tinggal sisa harumnya saja. Berapa orang di dunia ini suka bau hujan? Apa hujan ada kenangan yang selalu diingat?  Banyak! Hampir setiap orang yang kutemui. Sebab sungguh, ketika mereka mendekam sendiri di tanah kuburan. Selain bunga-bunga kamboja dan doa-doa yang jarang, sahabat mereka hanyalah air hujan, hujan dan hujan.

Minggu pagi, 23 Oktober 2022

Ditulis: Fanni Indra Pratama





Minggu, 16 Oktober 2022

Surat cinta untuk club kebanggaanku Liverpool

Untukmu Liverpool,

Bagaimana keadaan kalian hari ini? Lebih baik bukan? Tidur kalian juga pasti lebih nyenyak, kan? Hasil Kemenangan rabu kemarin atas Glasgow Rangers pastilah lebih menyenangkan dari sekedar hasil imbang dan kekalahan,bukan? Teruslah pertahankan ya sayang. Aku adalah orang yang beberapa waktu lalu membuat surat kecil saat perfoma kalian lagi terpuruk. Jadi tidak adil rasanya kalau aku tidak menulis surat ini saat kalian menang. Walau hanya untuk mengucapkan terima kasih untuk perjuangan dan kebanggaan yang kalian berikan rabu malam kemarin.

Aku sadar diri rabu malam kemarin kemenangan yang sangat berat buat kalian. Pertandingan yang  begitu dramatis dan menegangkan dimana 90 menit itu kalian tidak pernah lelah untuk tetap berjuang meraih kemenangan. Kemenangan ini kalian persembahkan untuk para fans yang tidak pernah lelah menyemangati kalian disaat sedang terpuruk. Lima pemain dilanda cedera hanya memakai pemain seadanya kalian sudah memberikan permainan yang begitu luar biasa.

Kemenangan ini memang menyenangkan. Tapi tolong jangan terlena Liverpool. Seperti yang sering kalian katakan “there is still magic in the next match”. Ingat kata-kata itu. Artinya masih banyak lawan yang menanti, masih banyak pertandingan yang dimenangi. Ingat juga saat alasan kalian saat tidak mendapatkan hasil maksimal, “this match we were out of luck”. Ingatlah untuk menang tidak cukup hanya dengan keberuntungan.

Aku menulis ini dari jauh. Aku hanya harap kalian tahu ada aku dan orang-orang seperti aku yang begitu gila pada kalian. Orang-orang yang melakukan hal tidak masuk akal demi cinta dan kebanggaan. Aku berharap kalian lihat sedikit kearah kami. Buat kami bangga dengan permainan indah. Aku tidak menuntut kalian menang besar, karna hasil bukan kita yang menentukan. Melihat permainan cantik kalian diatas lapangan sudah buat aku bahagia. Dan hanya itu yang aku minta.

Sekali lagi terima kasih untuk kemenangan dan kebanggaan yang kalian berikan rabu malam kemarin. Teruslah bekerja keras sayang. Buatlah lawan-lawan selanjutnya gentar. Teruslah berlari lebih kencang demi trofi kebangaan kita. Aku begitu mencintai kalian aku harap kalian tahu itu. Bahkan aku lebih dari sekedar cinta. Kalau mau mengikuti kata-kata mereka aku gila. Ya gila karena Liverpool.

Mungkin ini surat terakhirku untuk club kebanggaan, Liverpool.



ditulis: Fanni Indra pratama






Sabtu, 08 Oktober 2022

Bulan purnama di malam minggu

Kota ini berjarak ribuan kilo dari matamu, tapi tak secenti pun pernah kau tempuh aku dari angan-anganmu. Di sini ada pikiran yang koyak tentangmu, suasana hening tanpa kabar, senyuman orang dari lelahnya pulang kerja dan menikmati bulan purnama di taman depan rumah

Waktu bersamamu memberikan kenangan yang baik. Begitu juga dengan cinta, cinta yang datang diantara kebahagiaan dan kesedihan, dan ketika mencintai menjadi kuat, di antara kesedihan ia datang dan menguatkan, di antara kebahagian ia memberikan.


Juga ketulusan. Ia memberiku satu periuk nasi, tiga tahu susur, dan semangkok soup ayam. 

Biarkan aku simpan kangen, dusta dan mimpi-mimpi di bawah bantal, biar kubawa dalam tidur dan ciuman kepadamu di mimpi menjelang subuh.


ditulis: Fanni Indra Pratama

Sabtu, 01 Oktober 2022

Oktober, kita bertemu lagi

Kepada Yth 

Fanni Indra Pratama                                                                         

Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap tanggal satu Oktober aku akan menulis untukmu. Sebab melalui ini kita bisa berbagi cerita, serta saling mengerti tentang apa yang bagus dan apa yang kurang. Lagipula ini tanggal 30 September jam 23.50 wib, sebentar lagi maksudnya.

Pertama, aku ingin mengatakan hal ini, semakin tua kamu semakin bodoh saja. Kedua, semakin kemari kamu tampak semakin bingung pada pendirianmu seperti bunglon yang sering berganti warna kapan saja. Dan yang terakhir kamu masih jomblo sampai sekarang haha mana pacarmu?

Di antara itu kamu masih saja menulis, percaya sekali bahwa puisi bisa menyelamatkanmu dari banyak hal. Yaudahlahya, menurutku sih itu bagus sekali. Bukankah dari situ orang akan bisa membaca pikiranmu sekaligus tidak mudah menduga orang seperti bagaimana sebenarnya kamu ini? Kamu ini.. Haduh. Susah mau dijelaskan.

Sebelum aku menulis panjang lebar tentangmu waktu sekarang sudah menunjukan jam 00.02 WIB, jadi hari sudah berganti tanggal satu Oktober hahaha. 

Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun Fanni Indra Pratama, aku tidak pernah membayangkan itu. Kamu ingat betul gemilangnya Jordan Henderson di Liverpool yang begitu bagus permainannya waktu kamu masih SMA dulu. Sekarang dia sudah tua sama sepertimu wkwkwk.

Fan, tahun ini Oktober menyapamu lagi seperti laki-laki keren yang butuh teman, teman untuk sekedar ngobrol yang bisa bikin ketawa satu sama lain. 

Bunga-bunga di taman depan rumahmu itu banyak belum mekar, hujan dan gerimis baru sesekali datang samar-samar. Tapi satu yang aku amati betul: Dari akhir September kemarin, ada aroma yang terus datang namun sulit dijelaskan.

Beberapa kali kamu coba tangkap, kamu hirup dalam dan kamu nikmati, kamu selalu membayangkan masa kecil, kecil yang sekolah menengah, sampai kecil yang umur lima tahun. Aroma itu cukup membantumu ingat kenangan-kenangan kecil, mirip buku album foto.

Fan, setiap ibumu ke dapur kamu selalu bilang “Ibu masak apa? Pasti sop ayam, ya? Aromanya udah kecium bu sampai teras rumah". Di umur-umur dua-tiga tahun kamu selalu menemani ibu masak di dapur, sambil memutar-mutarkan mobil-mobilan. Sesekali kamu tanya ibu, dan kamu jawab sendiri pertanyaanmu. Anak kecil.

Hirupan sesekali itu tak berhenti. Aroma itu mirip kertas yang memaksakmu terus menulis puisi, tentu tanpa paksaan yang harfiah. Hari lainnya datang, aroma itu kadang datang lagi dan tak kamu hiraukan benar. 

Ia kadang mirip perempuan kesepian, perempuan cantik nan memikat, atau anak kecil yang mengajak main di waktu sibuk. Dalam kesempatan lain, aroma ini menuntunmu juga ke pantai panjang, pantai tebaiknya Bengkulu yang selalu kamu banggakan itu.

Malam ini di Bengkulu sedang hujan, dan mantanmu sudah bersama laki-laki lain, kamu memang sudah melupakannya, kamu melupakannya sedingin hujan itu. 

Tapi aku tahu kamu, kamu kadang adalah pendendam yang malang. Kamu hanya berdiam diri, merasa kecil dan gagal. Kamu merasa perjuangan hidup adalah sia-sia. Kamu perlu perenungan tapi kamu sok tegar, kamu sombong. 

Tapi kamu diriku, bagian dari aku yang lain. Kamu tahu beberapa kebohongan pada cerita lamamu adalah langgam lawas yang di ulang, tapi kamu bersikeras memaafkannya, mewajarkannya, dan menerimanya. Pendek kata, kamu lemah selemah lemah orang!

Fan, kamu perlu tahu ada saatnya diam dan menganggap semua hal yang terjadi di sekitarmu baik-baik saja, tapi kamu tahu juga kalau kamu punya pilihan untuk peduli. 

Kamu tahu kamu punya pilihan untuk berempati dan bersedih. Kamu setuju perasaan yang melankoli melemahkan jiwamu, tapi kamu sendiri telah sejak awal setuju dilemahkan.

Semakin lama, aku semakin paham kamu selalu ada cara untuk menyikapi rasa lemah di jiwamu, yaitu melihat senyuman bapak dan ibu di teras depan rumah. 

Di India, Sario Brierly pernah hilang waktu umur lima tahun, berpisah dari ibu dan kakaknya, selama lebih dari tiga decade itu tidak ada kata LEMAH dan menyerah. Selama itu pula ikatan di antara mereka tak pernah surut. Aku mau semangat kamu seperti itu Fan,lawan rasa lemahmu!

Di tanggal satu Oktober yang penuh berkat, bagimu, sedikit banyak disyukuri apa-apa yang selama ini sudah kamu dapat dengan mudah maupun susah payah. Dua tahun lalu di tanggal yang sama kamu pernah mengatakan: Hari ini tanggal satu Oktober, mestinya bukan lagi mimpi-mimpi, tapi mimpi-mimpi yang sengaja dijadikan hidup.

Sebagai penutup dariku: Nikmatilah hari ini, pergilah ke pantai dan pegunungan supaya dapat berimajinasi untuk menulis. Aku membuat satu lagu untukmu tentu kamu harus denger, record lagunya sudah aku simpan di pc mu, tidak usah terkejut kalau bagus, toh nanti akan kamu setel berulang sebelum setelahnya kembali bosan. Hahahaha. Oh ya satu lagi, semoga Liverpool juara Liga Champions 2022/2023 ya haha seperti yang kamu harapkan. #YNWA

Berbahagialah dan berbahagialah Fanni Indra Pratama hehehe


Dari: Manusia paling keren setongkrongan anggut. 

Dokpri

Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama

Rabu, 14 September 2022

27 tahun ya pak-bu, selalu bahagia

Dua puluh tujuh tahun ya pak-bu, bukanlah waktu yang singkat meski rasanya baru kemarin. Banyak perjalanan panjang yang dilalui bersama baik suka maupun duka. Berharap dukanya bisa dijadikan cerita ke anakmu ini untuk bekal kehidupan kelaknya.

Kamilah anak-anakmu, pak-bu yang barangkali merekatkan cinta 90an itu jadi lebih mudah dicerna dan gampang dipahami meski apa cinta itu kami masih suka bingung sendiri. Maka anak-anakmu pula, pak-bu yang dengan penuh bangga merayakan cinta orangtuanya lebih gegap dari bapak-ibu sendiri.


Inilah ucapan terimakasih pak-bu dari anakmu yang tumbuh dari waktu dan cinta yang kuat, dari kemiskinan yang selalu dan ketabahan berulang, dari rumah yang talangnya bocor dan kecup kening sebelum pergi ke sekolah. Untuk bapak dan ibu, kuucapkan selamat ulang tahun pernikahan ke 27.

Menuju tiga dekade mesti disyukuri satu-satu, tahun demi tahun, hari demi hari, jam demi jam. Demi waktu dan rindu-rindu panjang. Semoga hal baik selalu datang untuk bapak dan ibu. Amiin.


P.S : Di setiap malam aku pernah merenungkan beberapa soal: Kenapa aku lahir di dunia ini? Kenapa mesti lewat bapak dan ibu? Kenapa bapak menikahi ibu, bercinta, dan jadilah aku dan adikku? Kenapa aku tak bisa memilih, toh bila bisa memilih aku tetap mau orangtua yang sama? Kenapa dsb dsb dsb.

Setelah bertahun-tahun aku ada, pun, aku kerap tidak menyadari bahwa ini adalah nasib terbaik. Bahwa aku mesti lahir dan hidup di keluarga yang biasa dan kerap kurang, tapi jarang mengeluh.

Maka 27 tahun aku pun memberi ini. karya anakmu. Dari buah pikir dan rindu-rindu kecil, dari permenungan dan sedikit kerja keras. Wujud syukur dan pengingat, bahwa aku dan adekku ada sebab cinta mereka, sebab rindu dan bulir-bulir keringat itu menjelma dua jabang bayi yang kelak kerap menyusahkan. Tentu, kalau sudah ada rezeki lebih, aku pengen kasih sesuatu lebih dari ini. Sebab banyak hal yang melengkapi hidup aku, takkan pernah ternilai. Bapak-ibu adalah salah satu dari banyak hal itu.


Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama


Sabtu, 10 September 2022

Senandung lagu menjelang tidur

Menjelang dini hari aku rindu ibu, seharian aku memandang hujan dari jendela kecil di sudut pintu arah selatan. Dari mana datangnya rindu? Dari waktu turun ke doa. Di balik jendela masih kurindu kabar baik tapi kecemasan masih lekat di daun-daun pintu dan air yang terus netes dari ujung bunga sepatu.

Mendadak teringat kenangan saat hujan membasahi tanah. Waktu umurku lima tahun baru masuk sekolah aku suka hujan-hujanan di bawah langit tuhan. Di deras hujan aku beteriak-teriak ikut bahagia sekaligus bersyukur pada gema guntur dan Halilintar yang bagai orkes pesta kawinan adat Bengkulu.

Selesai hujan ibu beri aku handuk dan seperangkat alat mandi, selepas mandi aku masih diberi teh hangat yang di mana teh hangat itu teh terbaik yang pernah aku minum. Menjelang tidur hujan turun kembali di langit gelap, ibu nyalakan lampu minyak sederhana dan Meninabobo aku dengan lagu daerah Bengkulu, yang dimana lagu itu masih aku hafal sampai sekarang.


Kalau mengingat kenangan itu aku selalu tersenyum sambil memikirkan "apa aku bisa memperlalukan anakku nanti sama seperti ibu memperlalukan aku waktu kecil dulu?"

Hanya harapan dan doa yang bisa menjawab semua itu.

Dan sekarang aku baru sadar sebangun tidur ibu makin tua dan keriput, ternyata di banyak waktu yang lewat cuma cinta ibu yang masih tinggal. Hmmmm tidak terasa pagi sudah menunjukan dirinya, untuk saat ini hanya ada satu kata "rindu". Rindu dengan semua itu.


Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama