Minggu, 20 November 2022
awasi kami dari surga nanti ya
Senin, 07 November 2022
Melihat rumah Bung Karno dari tempatku berpijak
Aku sendiri selalu terpukau saat memasuki rumah Bung Karno yang masih sepi. Ada kenangan tersendiri yang membuatku ingin berlama-lama di sini. Sejarah menurutku tergambar dari mana ia berasal. Bagi kalangan masyarakat kelurahan Anggut, bangunan yang megah ini cukup menjadi tauladan. Menjelang kokoh dengan berkah udara bersih yang menghidupkan tanah di sekitarnya. Rumah ini jarang sekali menjadi momok, ia justru menjadi sumber keindahan, menjadi anugrah dan sumber harapan.
Rumah pengasingan Bung Karno dan ekosistem di sekitarnya terbentuk atas karakter yang sama dalam pandanganku. Sekalipun sedang buruk, bangunan di tanah ini masih menyisahkan doa. Aku masih akan berada di sana, di tempat biasanya kita bertemu. Aku yakin besok kita bertemu lagi. Dan jika itu terjadi aku akan menceritakan lebih detail kisah romansa yang ada di bangunan ini dengan pengetahuan yang aku miliki. Karna itu yang membuat aku, kamu dan kita semua terus hidup atas berkahnya.
Ditulis: Fanni Indra Pratama
Minggu, 23 Oktober 2022
Hujan dan mimpi yang tidak diinginkan
Hari minggu dari aku bangun tidur tadi kubuka gorden kamar yang putaran bulat itu. Kuputar kiri kanan. Aku bisa lihat di luar sedang hujan. Di kotaku, Bengkulu, hujan selalu datang seperti ini. Serupa rintikan-rintikan kecil yang turun pelan. Ini tidak sungguh-sungguh hujan, batinku. Ini adalah gerimis yang datang tiba-tiba, seperti dulu ia biasa datang padaku.
Hujan gerimis semakin lama semakin deras. Ia menuntunku seperti aku menuntun bapak tua di persimpangan jalan rumah Bung Karno, dan berbisik: "Terima kasih, nak."
Hari akan jadi panjang, pikirku. Hari ini praktis tidak kulakukan apapun yang berarti selain bermain game. Oh iya lupa, aku punya janji sama dirimu yang tak mungkin kutinggal jam sepuluh pagi ini. Kutolak tidur lagi.
Langit gelap dan suara gerimis yang tak kunjung henti itu persis sama dengan wajahmu yang sedang murung, wajahmu yang menahan air mata entah karna apa.
Hoaaahm kamu lagi, kamu lagi. Tak terasa sudah lebih dari satu jam dari aku bangun, aku meracau di dalam tulisan-tulisan yang sedang kuceritakan ini. Ya, ini.
Pikiranku sekelebat tentangmu tadi memecah fokusku untuk mengingat sisa-sisa mimpi semalam. Apa ya tadi mimpiku? APA YA?! AAAH !..
Aku melanjutkan rebahan lagi, lihat atas, rebah kiri kanan. Sepertinya semalam aku mimpi... Apa, ya?
Kuputuskan untuk menyudahi mengingat-ingat mimpi. Mimpi itu kejam. Ia datang bawa pesan yang sulit diterjemahkan. Pesanmu, wajahmu, bayanganmu dan gerak-gerikmu. Aaaaaah.. Pikiran ini terlampau cepat. Tulisanku sampai tak sanggup mengikuti. Sialan.
Di pantai panjang yang indah wajahmu selalu jadi pasir yang ditulis-tulis, atau ikan yang lamis amis haha. Sebab sungguh, tiap-tiap aku kesana selalu saja kehilangan layangan yang senantiasa kumainkan sampai senja datang.
Sudah berkali-kali kukatakan bahwa kehilangan itu wajar. KEHILANGAN ITU WAJAR! Sampai detik ini, aku tetap gagal paham kenapa gerimis jarang datang di kota ini. Pikiranku makin tak jelas pagi ini, tulisanku makin kabur dibawa pikiran yang pergi lari-lari kejauhan. Dari bicara gerimis, mimpi, kamu, kamu lagi. Manusia selalu gitu, ya.
Sampai aku tulis kalimat ini, hujan sudah berhenti turun. Gerimis tinggal sisa harumnya saja. Berapa orang di dunia ini suka bau hujan? Apa hujan ada kenangan yang selalu diingat? Banyak! Hampir setiap orang yang kutemui. Sebab sungguh, ketika mereka mendekam sendiri di tanah kuburan. Selain bunga-bunga kamboja dan doa-doa yang jarang, sahabat mereka hanyalah air hujan, hujan dan hujan.
Minggu pagi, 23 Oktober 2022
Ditulis: Fanni Indra Pratama
Minggu, 16 Oktober 2022
Surat cinta untuk club kebanggaanku Liverpool
Untukmu Liverpool,
Bagaimana keadaan kalian hari ini? Lebih baik bukan? Tidur kalian juga pasti lebih nyenyak, kan? Hasil Kemenangan rabu kemarin atas Glasgow Rangers pastilah lebih menyenangkan dari sekedar hasil imbang dan kekalahan,bukan? Teruslah pertahankan ya sayang. Aku adalah orang yang beberapa waktu lalu membuat surat kecil saat perfoma kalian lagi terpuruk. Jadi tidak adil rasanya kalau aku tidak menulis surat ini saat kalian menang. Walau hanya untuk mengucapkan terima kasih untuk perjuangan dan kebanggaan yang kalian berikan rabu malam kemarin.
Aku sadar diri rabu malam kemarin kemenangan yang sangat berat buat kalian. Pertandingan yang begitu dramatis dan menegangkan dimana 90 menit itu kalian tidak pernah lelah untuk tetap berjuang meraih kemenangan. Kemenangan ini kalian persembahkan untuk para fans yang tidak pernah lelah menyemangati kalian disaat sedang terpuruk. Lima pemain dilanda cedera hanya memakai pemain seadanya kalian sudah memberikan permainan yang begitu luar biasa.
Kemenangan ini memang menyenangkan. Tapi tolong jangan terlena Liverpool. Seperti yang sering kalian katakan “there is still magic in the next match”. Ingat kata-kata itu. Artinya masih banyak lawan yang menanti, masih banyak pertandingan yang dimenangi. Ingat juga saat alasan kalian saat tidak mendapatkan hasil maksimal, “this match we were out of luck”. Ingatlah untuk menang tidak cukup hanya dengan keberuntungan.
Aku menulis ini dari jauh. Aku hanya harap kalian tahu ada aku dan orang-orang seperti aku yang begitu gila pada kalian. Orang-orang yang melakukan hal tidak masuk akal demi cinta dan kebanggaan. Aku berharap kalian lihat sedikit kearah kami. Buat kami bangga dengan permainan indah. Aku tidak menuntut kalian menang besar, karna hasil bukan kita yang menentukan. Melihat permainan cantik kalian diatas lapangan sudah buat aku bahagia. Dan hanya itu yang aku minta.
Sekali lagi terima kasih untuk kemenangan dan kebanggaan yang kalian berikan rabu malam kemarin. Teruslah bekerja keras sayang. Buatlah lawan-lawan selanjutnya gentar. Teruslah berlari lebih kencang demi trofi kebangaan kita. Aku begitu mencintai kalian aku harap kalian tahu itu. Bahkan aku lebih dari sekedar cinta. Kalau mau mengikuti kata-kata mereka aku gila. Ya gila karena Liverpool.
Mungkin ini surat terakhirku untuk club kebanggaan, Liverpool.
ditulis: Fanni Indra pratama
Sabtu, 08 Oktober 2022
Bulan purnama di malam minggu
Kota ini berjarak ribuan kilo dari matamu, tapi tak secenti pun pernah kau tempuh aku dari angan-anganmu. Di sini ada pikiran yang koyak tentangmu, suasana hening tanpa kabar, senyuman orang dari lelahnya pulang kerja dan menikmati bulan purnama di taman depan rumah
Waktu bersamamu memberikan kenangan yang baik. Begitu juga dengan cinta, cinta yang datang diantara kebahagiaan dan kesedihan, dan ketika mencintai menjadi kuat, di antara kesedihan ia datang dan menguatkan, di antara kebahagian ia memberikan.
Juga ketulusan. Ia memberiku satu periuk nasi, tiga tahu susur, dan semangkok soup ayam.
Biarkan aku simpan kangen, dusta dan mimpi-mimpi di bawah bantal, biar kubawa dalam tidur dan ciuman kepadamu di mimpi menjelang subuh.
ditulis: Fanni Indra Pratama
Sabtu, 01 Oktober 2022
Oktober, kita bertemu lagi
Kepada Yth
Fanni Indra Pratama
Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap tanggal satu Oktober aku akan menulis untukmu. Sebab melalui ini kita bisa berbagi cerita, serta saling mengerti tentang apa yang bagus dan apa yang kurang. Lagipula ini tanggal 30 September jam 23.50 wib, sebentar lagi maksudnya.
Pertama, aku ingin mengatakan hal ini, semakin tua kamu semakin bodoh saja. Kedua, semakin kemari kamu tampak semakin bingung pada pendirianmu seperti bunglon yang sering berganti warna kapan saja. Dan yang terakhir kamu masih jomblo sampai sekarang haha mana pacarmu?
Di antara itu kamu masih saja menulis, percaya sekali bahwa puisi bisa menyelamatkanmu dari banyak hal. Yaudahlahya, menurutku sih itu bagus sekali. Bukankah dari situ orang akan bisa membaca pikiranmu sekaligus tidak mudah menduga orang seperti bagaimana sebenarnya kamu ini? Kamu ini.. Haduh. Susah mau dijelaskan.
Sebelum aku menulis panjang lebar tentangmu waktu sekarang sudah menunjukan jam 00.02 WIB, jadi hari sudah berganti tanggal satu Oktober hahaha.
Aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun Fanni Indra Pratama, aku tidak pernah membayangkan itu. Kamu ingat betul gemilangnya Jordan Henderson di Liverpool yang begitu bagus permainannya waktu kamu masih SMA dulu. Sekarang dia sudah tua sama sepertimu wkwkwk.
Fan, tahun ini Oktober menyapamu lagi seperti laki-laki keren yang butuh teman, teman untuk sekedar ngobrol yang bisa bikin ketawa satu sama lain.
Bunga-bunga di taman depan rumahmu itu banyak belum mekar, hujan dan gerimis baru sesekali datang samar-samar. Tapi satu yang aku amati betul: Dari akhir September kemarin, ada aroma yang terus datang namun sulit dijelaskan.
Beberapa kali kamu coba tangkap, kamu hirup dalam dan kamu nikmati, kamu selalu membayangkan masa kecil, kecil yang sekolah menengah, sampai kecil yang umur lima tahun. Aroma itu cukup membantumu ingat kenangan-kenangan kecil, mirip buku album foto.
Fan, setiap ibumu ke dapur kamu selalu bilang “Ibu masak apa? Pasti sop ayam, ya? Aromanya udah kecium bu sampai teras rumah". Di umur-umur dua-tiga tahun kamu selalu menemani ibu masak di dapur, sambil memutar-mutarkan mobil-mobilan. Sesekali kamu tanya ibu, dan kamu jawab sendiri pertanyaanmu. Anak kecil.
Hirupan sesekali itu tak berhenti. Aroma itu mirip kertas yang memaksakmu terus menulis puisi, tentu tanpa paksaan yang harfiah. Hari lainnya datang, aroma itu kadang datang lagi dan tak kamu hiraukan benar.
Ia kadang mirip perempuan kesepian, perempuan cantik nan memikat, atau anak kecil yang mengajak main di waktu sibuk. Dalam kesempatan lain, aroma ini menuntunmu juga ke pantai panjang, pantai tebaiknya Bengkulu yang selalu kamu banggakan itu.
Malam ini di Bengkulu sedang hujan, dan mantanmu sudah bersama laki-laki lain, kamu memang sudah melupakannya, kamu melupakannya sedingin hujan itu.
Tapi aku tahu kamu, kamu kadang adalah pendendam yang malang. Kamu hanya berdiam diri, merasa kecil dan gagal. Kamu merasa perjuangan hidup adalah sia-sia. Kamu perlu perenungan tapi kamu sok tegar, kamu sombong.
Tapi kamu diriku, bagian dari aku yang lain. Kamu tahu beberapa kebohongan pada cerita lamamu adalah langgam lawas yang di ulang, tapi kamu bersikeras memaafkannya, mewajarkannya, dan menerimanya. Pendek kata, kamu lemah selemah lemah orang!
Fan, kamu perlu tahu ada saatnya diam dan menganggap semua hal yang terjadi di sekitarmu baik-baik saja, tapi kamu tahu juga kalau kamu punya pilihan untuk peduli.
Kamu tahu kamu punya pilihan untuk berempati dan bersedih. Kamu setuju perasaan yang melankoli melemahkan jiwamu, tapi kamu sendiri telah sejak awal setuju dilemahkan.
Semakin lama, aku semakin paham kamu selalu ada cara untuk menyikapi rasa lemah di jiwamu, yaitu melihat senyuman bapak dan ibu di teras depan rumah.
Di India, Sario Brierly pernah hilang waktu umur lima tahun, berpisah dari ibu dan kakaknya, selama lebih dari tiga decade itu tidak ada kata LEMAH dan menyerah. Selama itu pula ikatan di antara mereka tak pernah surut. Aku mau semangat kamu seperti itu Fan,lawan rasa lemahmu!
Di tanggal satu Oktober yang penuh berkat, bagimu, sedikit banyak disyukuri apa-apa yang selama ini sudah kamu dapat dengan mudah maupun susah payah. Dua tahun lalu di tanggal yang sama kamu pernah mengatakan: Hari ini tanggal satu Oktober, mestinya bukan lagi mimpi-mimpi, tapi mimpi-mimpi yang sengaja dijadikan hidup.
Sebagai penutup dariku: Nikmatilah hari ini, pergilah ke pantai dan pegunungan supaya dapat berimajinasi untuk menulis. Aku membuat satu lagu untukmu tentu kamu harus denger, record lagunya sudah aku simpan di pc mu, tidak usah terkejut kalau bagus, toh nanti akan kamu setel berulang sebelum setelahnya kembali bosan. Hahahaha. Oh ya satu lagi, semoga Liverpool juara Liga Champions 2022/2023 ya haha seperti yang kamu harapkan. #YNWA
Berbahagialah dan berbahagialah Fanni Indra Pratama hehehe
Dari: Manusia paling keren setongkrongan anggut.
| Dokpri |
Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama
Rabu, 14 September 2022
27 tahun ya pak-bu, selalu bahagia
Dua puluh tujuh tahun ya pak-bu, bukanlah waktu yang singkat meski rasanya baru kemarin. Banyak perjalanan panjang yang dilalui bersama baik suka maupun duka. Berharap dukanya bisa dijadikan cerita ke anakmu ini untuk bekal kehidupan kelaknya.
Kamilah anak-anakmu, pak-bu yang barangkali merekatkan cinta 90an itu jadi lebih mudah dicerna dan gampang dipahami meski apa cinta itu kami masih suka bingung sendiri. Maka anak-anakmu pula, pak-bu yang dengan penuh bangga merayakan cinta orangtuanya lebih gegap dari bapak-ibu sendiri.
Inilah ucapan terimakasih pak-bu dari anakmu yang tumbuh dari waktu dan cinta yang kuat, dari kemiskinan yang selalu dan ketabahan berulang, dari rumah yang talangnya bocor dan kecup kening sebelum pergi ke sekolah. Untuk bapak dan ibu, kuucapkan selamat ulang tahun pernikahan ke 27.
Menuju tiga dekade mesti disyukuri satu-satu, tahun demi tahun, hari demi hari, jam demi jam. Demi waktu dan rindu-rindu panjang. Semoga hal baik selalu datang untuk bapak dan ibu. Amiin.
P.S : Di setiap malam aku pernah merenungkan beberapa soal: Kenapa aku lahir di dunia ini? Kenapa mesti lewat bapak dan ibu? Kenapa bapak menikahi ibu, bercinta, dan jadilah aku dan adikku? Kenapa aku tak bisa memilih, toh bila bisa memilih aku tetap mau orangtua yang sama? Kenapa dsb dsb dsb.
Setelah bertahun-tahun aku ada, pun, aku kerap tidak menyadari bahwa ini adalah nasib terbaik. Bahwa aku mesti lahir dan hidup di keluarga yang biasa dan kerap kurang, tapi jarang mengeluh.
Maka 27 tahun aku pun memberi ini. karya anakmu. Dari buah pikir dan rindu-rindu kecil, dari permenungan dan sedikit kerja keras. Wujud syukur dan pengingat, bahwa aku dan adekku ada sebab cinta mereka, sebab rindu dan bulir-bulir keringat itu menjelma dua jabang bayi yang kelak kerap menyusahkan. Tentu, kalau sudah ada rezeki lebih, aku pengen kasih sesuatu lebih dari ini. Sebab banyak hal yang melengkapi hidup aku, takkan pernah ternilai. Bapak-ibu adalah salah satu dari banyak hal itu.
Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama
Sabtu, 10 September 2022
Senandung lagu menjelang tidur
Menjelang dini hari aku rindu ibu, seharian aku memandang hujan dari jendela kecil di sudut pintu arah selatan. Dari mana datangnya rindu? Dari waktu turun ke doa. Di balik jendela masih kurindu kabar baik tapi kecemasan masih lekat di daun-daun pintu dan air yang terus netes dari ujung bunga sepatu.
Mendadak teringat kenangan saat hujan membasahi tanah. Waktu umurku lima tahun baru masuk sekolah aku suka hujan-hujanan di bawah langit tuhan. Di deras hujan aku beteriak-teriak ikut bahagia sekaligus bersyukur pada gema guntur dan Halilintar yang bagai orkes pesta kawinan adat Bengkulu.
Selesai hujan ibu beri aku handuk dan seperangkat alat mandi, selepas mandi aku masih diberi teh hangat yang di mana teh hangat itu teh terbaik yang pernah aku minum. Menjelang tidur hujan turun kembali di langit gelap, ibu nyalakan lampu minyak sederhana dan Meninabobo aku dengan lagu daerah Bengkulu, yang dimana lagu itu masih aku hafal sampai sekarang.
Kalau mengingat kenangan itu aku selalu tersenyum sambil memikirkan "apa aku bisa memperlalukan anakku nanti sama seperti ibu memperlalukan aku waktu kecil dulu?"
Hanya harapan dan doa yang bisa menjawab semua itu.
Dan sekarang aku baru sadar sebangun tidur ibu makin tua dan keriput, ternyata di banyak waktu yang lewat cuma cinta ibu yang masih tinggal. Hmmmm tidak terasa pagi sudah menunjukan dirinya, untuk saat ini hanya ada satu kata "rindu". Rindu dengan semua itu.
Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama
Jumat, 02 September 2022
Sejak pernikahanmu pagi tadi hidupmu tak asik lagi
Setiap kawan terbaik menikah, aku merasa harus menulis. Sebab sempat tak sempat, harus. Maupun tak ingin, aku selalu merasa menulis adalah kado terbaik yang bisa aku lakukan dan itu adalah hal paling keren yang bisa kubikin. Aku pernah menulis tentang teman-teman kelas di masa SMA dulu dan ini merupakan yang kesekian kalinya.
Daud, hidup tidak pernah manis dan kita berdua tahu itu dan kita berdua sering diam-diam sombong untuk mengamini bahwa hal-hal paling busuk di dunia bisa dengan gampang datang kepada kita seperti abang-abang parkir ind*mar*t yang selalu muncul kalau kita selesai belanja. Dalam kesempatan yang paling apapun nasib baik datang kepadamu bersama istrimu, Nurma. Aku mengenal baik istrimu, sebentar lagi akan kubiasakan memanggilnya bu Senja Dinata.
Aku ingat waktu SMA dulu di penghujung bel pulang sekolah kamu cerita dengan kegembiraan tentang anak gadis yang duduk dekat sudut pintu kelas yang membuatmu terpikat berat. Aku juga ingat kamu pernah ngedate sehabis pulang sekolah sama perempuan itu hahaha dan sekarang aku beserta teman-teman kelas yang lain tidak menyangka kalau perempuan itu akan jadi istrimu. Kurasa setiap cinta yang tulus dengan alasan apapun akan menemui jalanya sendiri-sendiri seperti pagi ini.
Daud, kamu tahu bahwa dunia ini kadang berputar sangat kencang, lebih kencang dari angin angan di kepala kita yang idenya membosankan setiap 10 menit. Namun kasih sayang tak pernah habis, tak harus cepat-cepat dan selalu membikin kita sadar setiap hari.
Aku bahagia, gembira dan berdoa selaluan buat kawan baik ku agar ia sanggup melewati setiap busuk maupun wanginya hidup bersama istri yang ia pilih.
Selamat menikah kawan, persahabatan ini sungguh hebat buat kita berdua, terlebih untukmu.
Salam
Teman sebangkumu yang selalu bikin kamu kesal setiap pelajaran matematika wkwkwk.
Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama
Rabu, 17 Agustus 2022
Senyuman Manis di Pantai Panjang Bengkulu
Hari itu telah kutinggalkan hatiku di sana, hari yang begitu spesial, hari yang begitu bermakna, hari yang begitu indah. Memang ya rindu itu hal yang menyebalkan apalagi rindu terhadap senyumannya seperti tulisan yang sedang ku tulis ini.
Matahari sore di Pantai Panjang sangat menyengat untuk aku yang sedang mengeluarkan keringat. Keringat lelah dan keringat bahagia. Aku menikmati kelelahan ini dengan rasa bahagia, tapi dibalik rasa lelah itu terdapat senyuman manis yang jarang aku lihat di tempat yang indah ini dan inilah yang aku rasakan sekarang.
Pantai Panjang, pantai ini tidak terdapat karang seperti pantai-pantai lainnya sehingga ketika air laut surut membuat hamparannya dapat menjangkau sangat jauh ke dalam pantai. Warna air laut yang bening, pasir di pesisir pantai yang bersih, udara pantai yang sejuk, semuanya seakan merupakan paket lengkap yang siap menyambut kedatangan pengunjung. Hal yang membedakan pantai ini dengan pantai yang lainnya terletak pada tata kelola pemerintah karena pantai ini menjadi icon Provinsi Bengkulu.
Keunikan dari pantai ini ialah panjang pantainya mencapai 8 km lebih dan itu yang membuat pantai ini selalu indah di pandang dari ujung penglihatan. Pantai Panjang ini sering digunakan oleh wisatawan untuk berekreasi dan juga di sana terdapat Sport Center sehingga masyarakat dapat melakukan kegiatan olahraga seperti volly pantai, sepak bola, dan bersepeda. Di pagi dan sore hari biasanya pantai akan dipenuhi oleh anak- anak hingga orang dewasa yang melakukan jogging di pinggir pantai.
Ombak di Pantai Panjang banyak dimanfaatkan oleh para pengunjung untuk berselancar. Pantai Panjang mempunyai banyak fasilitas terutama dipinggiran pantai yaitu terdapat restoran, penginapan, area bermain, hingga fasilitas untuk olahraga.
Pantai Panjang yang dikenal dengan sunset terbaik selalu menjadi objek wisata bagi kalangan penikmat story senja. Dari sudut manapun pantai ini selalu memberi kesan melankolis, itulah yang membuat udara sekitar menjadi hangat, jika udara bersahabat bermalam di pantai memberikan rasa tersendiri, udara seperti sore hangat yang berkepanjangan sepanjang malam.
Di pantai ini ada yang tadinya tidak kenal jadi akrab, yang kenal jadi semakin mengerti, yang mengerti jadi menerima dan yang selalu ada jadi selalu bersedia. Itulah magic nya Pantai Panjang selalu menyihir siapapun yang datang. Pantai ini juga satu-satunya pantai yang menyita pelabuhan rinduku, aku rindu pantai ini sedemikian nanti.
Jika aku diminta memilih satu kata untuk pantai ini, maka aku katakan "Rindu". Sebagaimana dulu kita sering bertemu kini harus terpisah dalam lamanya waktu.
Terima kasih untuk sebuah cerita cinta yang besar. Terima kasih telah mempertemukan cinta aku dan dia di pantai yang indah ini. Saat ini hanya ada satu kata, rindu, rindu dengan semua itu.
Terakhir, Pantai Panjang itu romantis dalam berbagai hal, dan ketika kamu mengunjungi Pantai Panjang ajaklah sanak saudara yang ada di luar kota, ceritakanlah tentang Pantai Panjang bahwa kamu punya banyak cerita di tempat yang indah ini.
Ditulis: Fanni Indra Pratama
Minggu, 14 Agustus 2022
Di umur seperempat abad ini semoga sehat selalu
Kalau emang benar kita punya kehidupan lain di masa lalu syannaz, aku yakin betul kita pernah setidaknya berpapasan di sana. Keyakinan bisa datang dari mana saja, kan? dan lebih penting dari itu kita tak butuh alasan kuat. Perjumpaan kali pertama denganmu ku awali dengan tatapan aneh di layar handphone sekaligus perasaan menjaga jarak.
Aku sadar kamu adalah perempuan yang barangkali menjaga dirimu dengan baik, sedangkan aku pria yang tak peduli amat dengan penampilan. Tulisanku yang sok romantis ala-ala Fiersa Besari mungkin membawa pikiranmu menerka-nerka, "kok anak ini bisa menarik, ya?" Hahaha itu adalah kegeeran yang percuma, barangkali. Setelah sekian lama pula mungkin kamu pasti akhirnya tahu kalau aku ini memang laki-laki yang narsis wkwkwk.
Cinta sejati tak butuh pembuktian Syannaz, dan kamu tahu betul soal ini. Aku memang lelaki yang tidak percaya diri yang mengaku padamu bahwa aku tidak pernah memikirkan perempuan. Kamu yang waktu itu baru kenal denganku barangkali tertohok dengan laki-laki tidak jelas macam aku ini.
Kamu tahu engga? Kisah kita ini mirip Anthony dan Cleopatra versi tak jadi. Kita punya halangan kita sendiri, dan kita adalah orang bodoh yang maklum dengan ketersesatan. Kita barangkali punya cadangan kesedihan lebih banyak dari W.S Rendra yang puisi-puisinya begitu murung, tapi aku merasa kamu adalah juru mudi handal yang tahu bagaimana mengarahkan kapal untuk tak karam (betapapun besar ombak dan kencang angin)
Syannaz, kalau aku menulis novel roman yang panjang, aku pasti akan menulis karakter sepertimu di dalamnya. Kamu tidak perlu merengek, "kok aku nggak pernah ada di tulisanmu?" hahaha Syannaz yang disayang Allah, karya orang adalah rentetan kehidupan pembuatnya yang diperkecil. Betapapun jauh tulisanku dari kisah-kisah asli, mereka adalah sejumput dari aku yang sebenarnya. Namun jangan kamu khawatir soal omonganku ini, fakta terbaiknya, aku tak pandai menulis, dan mungkin tak akan pernah membuat novel!
Keluargaku adalah cinta pertamaku, sedang kamu mungkin cinta yang kesekian. Tapi urutan yang kubuat adalah berdasarkan waktu aku mengenalnya. Aku tak pernah benar-benar membuat urutan soal cinta, seperti kamu sering mendesakku soal cinta macam apa yang paling nyantol di kepalaku. Cinta yang nyantol di kepalaku adalah cinta yang setiap saat, cinta yang aktual dan kini, itu memang bisa jadi apa saja. Hari-hari seperti ini adalah monumen cinta yang baik buatmu, seperti mushola kecil yang boleh menampung doamu sendirian saja di padat-padat jadwalmu mengungsi pada kesepian seperti halnya anak-anak rantau kebanyakan.
Aku yang berjarak 50 menit terbang dari kotamu ini, lewat tulisan ini, sebenarnya ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke dua puluh lima untukmu. Sekaligus maaf kalau ucapan ulang tahun saja pakai tulisan tidak jelas seperti ini. Aku cuma ingin kamu percaya bahwa tulisanku bukan melulu soal cinta, si ini, si itu hahaha. Sekali lagi, selamat ulang tahun syannaz semoga semesta merestui apa keinginanmu.
13 Agustus di Bengkulu jam 8 malam, Namun saat kamu baca sudah tanggal 14 Agustus di kotamu Tanggerang. Hehehe
Ditulis oleh: Fanni Indra Pratama