Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Rabu, 19 Juni 2024

Getir menjadi tawa bila kubersamanya

Dia menangis. Dia marah. Dia menangis lagi. Marah lagi dari kamarnya yang singup. Dia luntang lantung dan mati gaya. Tapi memang tak ada lagi yang bisa dilakukannya untuk keluar dari cerita cinta yang sangat kelam. Cerita cintanya kelewat susah, tidak bisa ditebak. Kekasihnya mengatakan padanya bahwa tidak akan menulis lagi untuknya, itu artinya, kekasihnya sudah tidak ada rasa cinta dan kasih sayang (Sebenarnya bukan begitu)

Hujanpun berangsur reda, tapi petir dan geletar halilintar belum juga berhenti. Setelah lelah dan penat dan luntang lantung, dia memilih menyendiri di kamarnya yang mungil.

"Kenapa kamu tidak mau menulis lagi untukku? Sedangkan kamu bilang tiap tulisan mewakili banyak perasaan kasih sayang."

Kata-kata kekasihnya tak pernah benar-benar menjadi sebuah pertanyaan. Terhadap takdir, dia tahu betul bahwa pilihan tak begitu banyak dihadapannya.

Suatu siang yang sangat panas dan tak banyak omong, kekasihnya sudah berkali-kali meyakinkan bahwa rasa cinta ini akan bermuara di pelabuhan cinta, pelabuhan yang ada hanya dia dan kekasihnya. Tapi keyakinan perlu kehendak kuat, juga kehendak Tuhan, kekasihnya tahu betul soal ini. Kepergian terjauhnya adalah ke rumah temennya, dia bercerita, tertawa, dan melepas rasa beban yang begitu berat. 

Semua orang tahu orang yang menanggung beban berat adalah orang yang siap menghadapi cobaan, dan hidup seseorang tak pernah lepas dari ini, seberapa pun dan beruntungnya seseorang.

"Kenapa kamu tidak mau menulis lagi untukku?"

Kekasihnya bingung dengan pertanyaan yang diulang, sedangkan jawaban dari pertanyaan kemarin belum juga mampir ke benaknya.
Dia menikmati sepi kamarnya dengan getir, dengan kesedihan dan muka linglung, dengan kopi sachet yang kebanyakan air, dan dengan air matanya sendiri.

Dia tahu kekasihnya ini keras kepala, batu. Sudah beberapa kali bardebat tapi tetap percaya sama pendiriannya. Hal-hal semacam ini lumrah sekaligus tak bisa dihindari. Dia bertahan. Air menggenang di setiap hilir kali, di setiap diri dan nadi. Di pikirannya apalagi, dia sungguh tak bisa berbuat apapun yang spektakuler untuk mengubah suasana. Derit kursi dan cinta-cinta murah, demi itu semua segalanya memang manis.

"Kalau saja kamu mau menulis lagi untukku… aku akan… "

"Akan apa?"

"Akan selalu mencintaimu sampai di keabadian tidak ada siapapun lagi"

"Tapi kamu tahu bahwa seratus persen cinta di hati ini tak sepenuhnya milik kamu, kubagi padamu sembilan puluh persen, bahkan sepersen pun kamu bilang cukup untuk membikin kamu yakin."

Dia dan kekasihnya tak pernah betul-betul bertengkar. Dia tahu kesedihan mesti disimpan sendiri dan sebaik-baiknya. Di hadapan banyak orang, mukamu harus segar dan tak boleh muram, tak boleh tertekuk apalagi mendung. Inilah yang paling vital sebagai manusia, dia tahu bahwa kamu harus hidup dengan citra sebaik-baiknya. Kekasihnya tetap diajak ngobrol, video call dan zoom bareng, cintanya masih dijaga sama besar, tapi…

Apa yang paling kuat dari kata tapi? Satu kata ini bisa membalikkan keadaan baik jadi kritis, dan keadaan buruk jadi melegahkan. 

Tapi, cinta yang dia pegang itu menyusut seminggu belakangan. Dia tak bisa lagi menulis kata-kata romantis seperti: Aku aku aku aku cinta cinta cinta cinta kamu kamu kamu, apapun apapun, sedalam sedalam sedalam, apapun apapun, pada siapapun, kau melabuhkan rindu. kumpulan kata-kata ini ditulis di blog pribadinya. 

Kamar kecil yang buat dia menangis memang aneh. Penghuninya aneh. Dia tahu kalau dia aneh. Seleranya pada laki-laki penulis juga selalu diolok-olok oleh kawan-kawannya. Dia banyak temen dekat. Di sekitarnya banyak tumbuh harapan dan kenyataan. Dia sangat membenci malam. Membenci sekaligus menyukainya malu-malu.

"Malam cuma membawakan pada dia dua hal: tangisan dan suara dengkur (ngorok) ."

"Aku tak menyukai suara tangisan, apalagi dengkur. Keduanya begitu lalim dan tak punya pengertian.

"Percayakah kamu, bahwa ada manusia hidup seperti malaikat?"

"Di lorong-lorong gang, orang mabuk pun bisa merasa suci. Di motel-motel reyot, para pelacur punya niat baik. Lantas apa yang kamu harapkan, kekasihku?"

"Percayakah kau, bahwa ada cinta tanpa mengharap imbal balik?"

Kekasih yang keras kepala, tidurlah. Tidurlah. Di sampingmu ada laki-laki Jawa yang sama keras kepala juga, harapannya semoga tidak ada lagi pertengkaran yang melibatkan perasaan yang jauh. Sudah cukup. Batinnya tersiksa, mungkin dia juga. Satu hal yang kamu ketahui, kekasihmu tidak akan meninggalkan mu. Mau seburuk  apapun itu. 

Tulisan panjang ini mungkin tidak akan sampai di mana pun dia berada sekarang. Tapi dia tahu kemana semua doa dialamatkan.



Ditulis: Fanni Indra Pratama

Selasa, 11 Juni 2024

Lembahyung Senja di GBK

Bergegaskah kita menanti malam yang panjang

Rutuk-rutuk gelisah meniru klakson yang bersahutan di sore Senayan

Padat dan berjejal dan terburu dan parau dan berisik sebab maghrib segera tiba.

Padahal rumah masih jauh diseberang pulau

Dijebak yang fana dan yang riil

Sementara

Soto Betawi tadi pagi segera basi

Aku hanya ingin mengecup sore segera mungkin dari balik senja itu

Sunsetmu, suara dan pasi wajahku
Mengerang paling panjang dalam ejakulasi paling rindu
(dalam goal paling lesak ke gawang Philippines)

Padahal rumah masih jauh diseberang pulau

Dijebak yang fana dan yang riil

Dan

Merayakanlah kita

 

Jakarta dini hari, 11-06-24

Ditulis: Fanni Indra Pratama

 


 


Senin, 03 Juni 2024

Selamat Ulang Tahun

Heey, Liverpool, sudah lama aku tidak menulis untukmu. Mungkin dengan tulisan ini kita bakal jadi lebih dekat.. 

Apakah dirimu sudah mulai berubah, berharap cemas tak terulang, hari-hari menyebalkan yang terus datang, dan obrolan tentangmu yang tak pernah hilang.

Setiap pertandingan kamu pasti memiliki cerita, kegembiraan atau tangisan yang akan terus ada, tidak bisa menghilangkan pemikiran jika dirimu adalah rumah. Tempat banyak orang untuk pulang, bertemu dengan kawan lama, tertawa, bahagia dan bersama tanpa adanya beban.

Dengan istirahat liga saat ini membuat kebingungan, macam romusha tanpa adanya hiburan semata, video-video lama terkadang menjadi alprazolam tiap harinya, gumpalan pikiran yang menjadi alasan anggur yang diteguk tiap malamnya. 

Hari ditulisnya bacaan ini ketika dirimu telah bertambah umur, sebuah klub pelabuhan yang menjadi pemberhentian terakhir dari semua kesibukan yang ada, menjadi tempat 90 menit untuk dipaksa menangis atau bergembira. Rasa cinta ini kami berikan tanpa henti, warna merah yang tidak berganti, dan Liverpool sampai berjumpa dikemudian hari.

Liverpool memang tidak menjanjikan surga, namun seperti agama, ia memberikan jalan keluarnya dari keresahan di dunia..



Ditulis: Fanni Indra Pratama

Minggu, 26 Mei 2024

Melawan Keterbatasan walau sedikit kemungkinan

Tentu saja aku merindukannya

Senyum dalam percakapan lama tak bertemu

Ketawa kecil dalam riang yang membuatku kagum

Dalam beberapa waktu kenang setelah the rain was bad

 

Apakah kamu mau siap-siap kujemput

Pada percakapan yang kunikmati jalan-jalan gelap

Tidak ada yang berubah

Hanya suasana yang saja yang berbeda

Bukankah yang berlalu diam-diam lebih enak seperti itu

Dalam diam yang tak pernah tersampaikan

Dan good luck good luck deh yang sedikit malu dan lowong belaka

 

Apakah semuanya cukup?

In fact, kamu bisa stay lebih lama dan kita bisa lebih banyak ngobrol

In fact, kita tidak punya apapun yang bisa dibicarakan selain Pantai sore menuju senja

 

Ya, gitu deh

Semoga kamu tahu

 


Ditulis: Fanni Indra Pratama

Kamis, 23 Mei 2024

Penghujung bulan penuh berkat

 

Ikan dan si ayam
Menerima nasib dilahirkan
Pada puluhan abad yang lalu
Pada tahun-tahun yang berdempetan
Dan simbol-simbol yang bersebelahan

Si ikan akan menelusuri lautan paling
Dalam di jiwanya sendiri
Si ayam terjaga dalam subuh pagi
Yang masih membiru
Bulan mei ialah bulan yang terang
Berpijar seperti kandilion yang
Tak pernah padam
Atau pun surut dari goda-goda
Hingar bingar bianglala di pasar malam

Si ayam menjaga si ikan
Sebagaimana persaudaraan
Diikat di sebatang pohon cinta paling kekal
Begitu pula sebaliknya
Sebab kata bapak dan ibu,
Cuma ketulusanlah
Yang membikin syukur terus dinyalakan

Beruntunglah ikan
Si ayam adalah
Pengembara dengan sayang
Paling malu-malu
(juga) beruntunglah ayam
Si ikan adalah syair
Dari doa-doa padang pasir
Atau kau boleh menyebut juga
Air di teruk nasib hari esok

Mei, Mei, Mei
Bulan yang baik tidak pernah
Satu kali saja ingkar
Kata mereka di sebuah percakapan
Penuh lika liku

Di rahim milkyway
Dunia yang luas
Beranak segala nasib
Dari bintang redup yang bercumbu
Kelelahan
( blarblarblar..)

Ayam dan ikan ini
Sepertinya suka bersyukur dari balik
Puisi atau sajak romantis
Sebagaimana setiap narasi
Yang tiap kali datang
Kepadamu ketika duduk-duduk 
Santai di bawah pohon kelapa
Siang-siang hari

Mei, Mei, Mei
Kepada nasib baiklah kita bersender
Menggelayutkan hari baik di sebalik obrolan Pendek



P.S: Tulisan ini merupakan kolaborasiku dengan Adikku sebagai ucapan maturnuwun kepada Bulan Mei yang memungkinkan kami merayakan banyak hal dengan kedekatan yang begitu itu. Dan tentu, karena kesibukanku dan adiku, tulisan ini baru sempat dipos pada penghujung Mei. Semoga kamu suka.


Ditulis: Fanni Indra Pratama & Bella Indah Permata Sari 

Kamis, 16 Mei 2024

Manusia paling keren setongkrongan Anggut

16 Mei 2024, jam 1 lebih 15 menit, Kabupaten Lebong, Bengkulu.

Ntah apa yang membuat aku masih terjaga di malam yang dingin ini, grup percakapan pekerjaan akhirnya berhenti berdentang, tapi rasa kantuk belum juga datang, akhirnya aku membaca apa yang apa yang pernah aku tuliskan.

Membaca tulisan lama, rasanya seperti menyelami diri aku sendiri, rasanya aku yang sekarang, begitu berbeda dengan yang dulu. Aku yang dulu rasanya punya keseruannya sendiri, walaupun mungkin untuk orang lain tidak seru sama sekali, dan ternyata aku menulis dari hal-hal sederhana sampai pikiran gilaku, dari kecerian masa kecil sampai kegalauan tentang cinta.

Aku yang dulu, rasanya memang bukan aku yang sekarang, ntahlah kemana dia, sudah hilang dan tenggelam ditelan bumi. Waktu cepat sekali berlalu yah, akan jadi seperti apa aku yang sekarang?

Ya, tetap jadi manusia paling keren setongkrongan Anggut. Tentunya. 

Ditulis: Fanni Indra Pratama


Sabtu, 11 Mei 2024

Menciummu pelan-pelan

Sayangku, 

Sore ini mas memandang fotomu
Tidak perlu bicara
Mari mas peluk lama-lama
langit-langit kamar dan di mana kita
Mas peluk erat-erat
Rambutmu yang gelombang
Enak lihat dipandang
Mana keningmu?
Mas ingin menciumnya
Jangan bibir
Nanti dulu
Kita masih jauh dari panas
jangan ke bawah-bawah, belum perlu

"Ah, yang bener?"
Katamu

Mari bicara tentang kita
Apa yang membuatmu yakin ke mas?
Apa yang membuatmu jatuh cinta ke mas?
Apa yang membuatmu yakin kalo mas jadi pelabuhan terakhirmu?
Dan apa yang membuatmu bisa mencintai mas secara tulus tanpa sebab?
Apa sayang?
Apa?

Obrolan semakin panas
Sekarang mas mau mencium bibirmu
Mencium dengan perasaan
Pelan-pelan
Hingga mata tertutup
Dan kembali buka dalam cinta yang panjang
Suka?

Sekarang kita tidur
sampai pagi menjelang
sampai siang sore kemudian
sampai dunia ini sepi hunian
Sampai kecup kening tanpa batas

Baru deh
Kita bangun dan boleh bertanya
Apakah ini mimpi?
hhehehe



Ditulis: Fanni Indra Pratama



Minggu, 05 Mei 2024

Persahabatan membuktikan kalau hidup baik-baik saja walau tanpa cinta

Bung, terkadang hidup selalu penuh dengan teka-teki yang tak pernah kita duga sebelumnya. Tak pernah ada yang menyangka semua yang telah terjadi pada pertemanan kita sekarang. Seorang asing yang datang begitu saja tanpa terencana, orang asing yang dulu tak pernah aku kenal sama sekali, namun tiba-tiba kini selalu berarti. Seperti cinta, kamu tidak akan pernah berencana tentang sebuah persahabatan.

Singkat cerita, awal kedatanganku di Kabupaten kecil (Lebong) kamu menemani ku mencari kosan untuk tinggal sementara di kabupaten ini. Kamu banyak membantuku. Kabupaten yang sebelumnya belum pernah ku kunjungi. Aku banyak Terima kasih ke kamu, tanpa kamu mungkin aku orang bodoh yang tak tahu tentang Kabupaten Lebong. Seminggu sekali aku berkunjung ke tempatmu yang jaraknya 20km dari tempatku ngekos. Kita bercerita tentang keluh kesah kita masing-masing dan sampai puncaknya kamu menceritakan tentang kelanjutan hidupmu (menikah) dengan wanita yg kamu bener-bener mencintainya. Senang mendengarnya. 

Terkadang aku mikir, bung, diperjalanan hidup, kita akan banyak ketemu orang-orang yang enggak akan pernah kita sangka. Aku engga nyangka kita bisa ketemu lagi di kabupaten asing ini. Mungkin itu yang namanya persahabatan selalu bisa bertahan lebih lama, bahkan melebihi kisah cinta. Persahabatan kadang memang tanpa ada tujuan yg jelas, tetapi indahnya persahabatan adalah kita bisa memilih orang asing yang tidak pernah kita kenal sebelumnya untuk menjadi keluarga.

Tulisan ini untukmu bung, teruntuk sahabatku. Berbahagialah.

Engga usah bilang Terima kasihlah, males banget hahaha


Ditulis: Manusia paling keren setongkrongan Anggut. 


Sabtu, 27 April 2024

Sampai jadi debu

Engga bosan-bosannya mas menulis untukmu, tulisan penuh rindu untuk dirimu di sana. Tulisan ini sedikit berbeda dari biasanya. Tulisan untuk istriku di masa depan (berharapnya itu kamu, Felia) Ini mas menulis untuk kamu yang akan menemani mas sampai maut menjemput. Mungkin akan diingat lagi puluhan tahun kedepan. Untukmu, Felia, yang akan menjadi teman hidup mas sampai selamanya.

***
Sudah berapa lama kita hidup bersama? Dua puluh, empat puluh, atau sudah berapa puluh lagi yang tak mas ingat. Sudah berapa pertengkaran yang sudah kita selesaikan? Sehingga tangis dan amarahmu sampai tak bisa menenangkan badai-badai yang datang silih berganti. Akar mas tak cukup kuat, hati mas tak cukup kokoh, tenang mas tak cukup meneduhkan. Tapi mas tidak perlu khawatir, selama disebelah ada kamu, Istriku.

Berangkat pagi, pulang disaat gelap sampai lelah ini bosan hinggap, tapi kita gembira saja, happy aja, toh itu semua demi anak-anak kita. Ya, tentu kamu juga tahu, anak kita yang besar sudah mau menikah, sedangkan si bungsu sebentar lagi lulus kuliah. Betapa cepat waktu berlalu, dari dulu mereka masih bau bayi, hingga kini kaki mereka sudah cukup kuat untuk berpijak di bumi yang tidak sehat ini. Mereka berjalan dan menentukan langkah masing-masing untuk mencari apa yang mereka pengen. Itu semua juga karena bimbinganmu, Istriku. 

Saat mas merasa capek dan badan mas sudah tidak kuat, pasti ada drama di keluarga kecil kita, kamu selalu menjadi objek frustasi mas. Marahan, cuek, hingga mas tak sadar mendiamkanmu untuk waktu yang lama. Iya, kamu semua yang menanggungnya, dengan batin sekuat baja, dengan tegar yang tak terpatahkan, dan dengan bakat aktingmu untuk berpura-pura tangguh, Istriku.

Senyummu itu, kurasa yang menjadi kompas kita, saat kapal ini mulai goyah dan kehilangan arah. Kekuatanmu adalah kemudi, dan sabarmu adalah janji dimana semua impian kita akan dan pasti bermuara. Do'amu adalah tiupan angin yang kuat dan menenangkan. Nafasmu itu berkat, yang telah Tuhan anugerahkan untuk mas dan kedua anak kita.

Tak ada kata sakit untukmu. Kamu tahan jahitan-jahitan sisa melahirkan, pernah sesekali kamu rubuh tapi dengan semangatmu berhasil kamu matikan semua sakit itu. Saat mas tergolek, maupun saat mas sakit, kamu selalu merawat mas dengan baik dan berjuang sendiri melawan apa yang nyata dan menyakitkan.

Umpatan cacian, gosip murahan teman dan sanak saudara, hingga perkataan yang menyakitkanmu, kamu telan semuanya bulat-bulat. Agar kapal ini masih punya kemampuan untuk bersandar. Benar begitukan, Istriku?

(Mas usap air mata yang tak henti mengalir ini, lalu lanjut menulis)

Tenanglah, tidak usah khawatir. Kamu juga tahu, kapal ini telah bersandar dan bertemu akhir petualangannya. Anak-anak sudah besar, dan mas yakin mereka bisa menjagamu dengan baik, dengan itu mas juga sudah bisa tenang.

Mas harap air matamu yang turun ke pipi itu tak jatuh lagi, mas harap jangan ada kesedihan lagi di antara kita. Ya, sudah cukup, Istriku. Kain kafan mas sebentar lagi akan bersatu dengan tanah, di mana manusia pertama kali diciptakan dari tanah, harus kembali ke tanah. Dan juga petualangan kita akan berakhir sebentar lagi.

Wajahmu tenang seperti biasanya, namun senyum itu terlihat sedikit pucat. Tersenyumlah, sayangku. Kamu tidak perlu khawatir, mas akan baik-baik saja di sini. Tidak perlu cemas, ada malaikat yang jagain mas di sini. Sekarang waktu yang tepat untuk pamitan ke kamu. Tugas mas sudah cukup sampai disini.

Oh, Aku punya satu permintaan terakhir:
Mas beharap, ketika mas telah dikuburkan tolong sampaikan pesan ini sama anak-anak kita, "Halo, Noah dan Near, saat kamu membaca surat ini bapak berharap kamu dalam keadaan baik. Bapak ada satu pesan untukmu dan adikmu, Near. Pesan bapak jangan pernah kamu sakiti ibumu, sayangi ibumu, penuhi janji-janji kamu sama ibu, jaga ibu baik-baik, jaga hatinya, jaga cintanya, jaga impiannya, trus berjuang sama ibu untuk menyelesaikan mimpi ibu yang belum terselesaikan. Dan kamu, Noah, kamu anak pertama, cowok, kamu punya tanggung jawab yang besar untuk menggantikan bapak di keluarga ini. Sekali lagi, jagain ibu dan adikmu ya. Bapak percaya sama kamu, itu saja pesan, bapak. Karna bapak orang pertama yang akan nanya ini ke dalam mimpimu, kalau kamu sampai menyakiti ibumu dan adikmu."

***

Felia, sayangku, badai-badai sudah mereda, tangismu tak lagi diperlukan, kapal ini sudah bersandar dan takkan lagi berlayar.

Sampai jumpa lagi, istriku. Mas akan selalu mencintaimu, selalu begitu.

Mas, pamit.



Ditulis: Fanni Indra Pratama

Kamis, 18 April 2024

Untuk Felia, supaya kamu lebih kenal mas


Maaf, baru bisa membalas tulisanmu. Mungkin tulisan ini sedikit lebih panjang dari biasanya. Mas bingung memulai dari mana. Mas berharap kamu menemukan waktu untuk membacanya. 

Sayang, subuh yang masih membiru mas menulis surat pada dirimu yang kemarin menangis. Mas lihat dari pagi suasana di kabupaten ini masih dingin, orang baru mulai bekerja matanya sayu, dan para kekasih di kota merindu ciuman paling panas sepanjang dingin.

Sayang, coba bayangkan. Pejamkan matamu yang masih merah bekas nangis semalam. Bayangkan bila kita jadi satu di antara kekasih itu atau jadi orang pekerja yang tak bisa merintih kedinginan. Apa masih bisa kita melawan perbedaan keyakinan satu sama lain yang membuat kebingungan di antara kita?

Bisa, ya? BISA!!! 

***

Sayang, akhirnya mas sadar, semua yang mas tahu, semua keindahan yang mas tulis engga ada apa-apanya sama seorang, kamu, Felia. 

Mas, sayang kamu, sayang banget. Bertahun-tahun mas kira yang paling mas cintai di dunia yang tidak adil ini adalah tulisan-tulisan pujangga tentang cinta dan kerinduan. Bertahun-tahun mas kira hal paling indah di dunia tidak adil ini adalah cinta yang tertulis di sejarah roman dan puisi apalah itu yang udah berkali-kali mas baca. 

Engga tahunya bukanlah itu semua. Semua engga ada apa-apanya kalau ada kamu, kalau selalu ada kamu dalam diri mas. 

Hari demi hari, minggu demi minggu, mas selalu memikirkan tentang hubungan kita, tentang perbedaan yang sulit untuk disatukan. 

Kisah cinta kita memang begitu rumit, sayang, banyak halangan dan perbedaan yang membuat kita mikir "hubungan ini mau dibawa kemana?" 

Tapi mas selalu mengusahakannya dengan segala yang mas bisa buat. Supaya kita bisa bertahan mengahadapi cobaan yang selalu datang kapan saja dan hubungan kita berjalan baik seperti yang kita harapkan. 

Mas, yakin, kita bisa menjalaninya, menjalaninya dengan baik, karna kita dua insan manusia yang telah ditakdirkan untuk disatukan. Mas akan sangat nyaman menjalaninya. 

Felia, mas selalu serius jika ingin memulai suatu hubungan, mas tidak akan pernah main-main, mungkin mas kuno atau apalah. Tetapi persis seperti yang kamu bilang, seperti komitmen kita terhadap hubungan ini, kita akan menjalaninya dengan sama-sama berniat baik dengan tujuan ke arah yang selanjutnya. Tidak akan main-main, apalagi di usia mas sekarang. 

Mas pernah bilang ke kamu, tentang segala keyakinan cinta bahwa kamu yang akan jadi pelabuhan terakhir mas, kamu yang jadi cinta terakhir untuk mas, dan kamu juga jadi tempat terakhir hati untuk mas menetap selamanya. Semuanya begitu indah, semua begitu aman dan nyaman. 

Sayang, perlu kamu ketahui kita hidup di dunia yang membuat kita tidak nyaman, dunia yang menyebalkan, dunia yang lebih mementingkan yang terlihat dari luar daripada apa yang terdalam yang kita rasakan. Kita harus sabar ya, harus kuat, persetan dengan mereka yang ada di luar sana. 

***

Saat ini mas tidak bisa memaksamu untuk pindah ke keyakinan mas. Mas tidak bisa mencintaimu dengan secara egois yang hanya mementingkan kehendak mas. Tidak bisa. Untuk mas pribadi, ini bukanlah cara seseorang laki-laki mencintai seorang perempuan dengan benar, ini bukan cara mas mencintai seorang Felia dengan benar. 

Kini mas mencintai kamu karena kamu adalah jawaban dari segala masalah, jawaban dari dogma seorang laki-laki di atas umur 25 tahun. Mas yakin kita menemukan jalan keluarnya, mas yakin kita menemukan hal baik. 

Sekarang mas bahagia karena itu, karena ada kamu setiap malam yang menemani mas ngobrol, yang siap mendengar cerita dan siap selalu ada. 

Mas tidak mau mencintai kamu dengan secara terpaksa, mencintai demi sesaat, mencintai hanya demi alasan tertentu. 

Karena selayaknya cinta awal dari segalanya, bukan alasan tertentu dari segalanya. 

Mas ingat ada satu kutipan dari Gubenur Jawa Barat, Bapak Ridwan Kamil, "Kalau kamu mencintai perempuan dengan rasa cinta itu sendiri, kamu akan mencintainya dengan seluruh jiwa ragamu, bahagiamu, susahmu, hidup dan matimu semua untuk cintamu."

Kutipan itu menjadi pedoman mas untuk menjalani hubungan ini. 

Mas ingin mencintai kamu, karena mas mencintai kamu dengan apapun yang mas bisa. Bukan karena mas menegosiasikan diri mas sendiri kepada cinta itu sendiri. Itu bukan mencintai, tapi mencari tempat yang lebih baik demi diri sendiri.

Sekarang kita sedang jauh. Kamu ada di sana dan mas ada di sini. Sebaiknya di sini dan di sana tetap menjadi di sini dan di sana. Sebab di mana-mana kita ini sama. Yang beda cuma jarak dan cara kita memandang istilah-istilah baru dan pengalaman-pengalaman baru. Seperti sudah mas bilang di awal tulisan ini: Mas tak tahu apa kamu akan suka dengan tulisan tentang waktu. Tentang mas dan dirimu yang kian bingung dengan situasi ini. Mas akrab dengan buku, kamu akrab dengan buku. Mas akrab dengan ekonomi makro, bisnis dan manajemen. Kamu akrab dengan menganalisis perilaku dan fungsi mental manusia, yang nyaris tak pernah mas sentuh di kelas kuliah dulu. Tak ada yang hilang dari waktu-waktu yang terus dititi, tapi ada hal baru yang terus muncul dan yang lama kita singkiri pelan-pelan. Pelan-pelan tapi pasti. Pengalaman cuma soal waktu dan cara kita menghayatinya, tentang bagaimana kita meresap dan menjalaninya. 

Jam malam menjadi malam paling akrab buat kita berdua, sering mengabari, kadang kamu bilang soal banyaknya tekanan dan bahwa hidup ini terjal sekali. Mas tak bisa menjawab, mas bungkam. Biar nanti kamu tahu sendiri saja, bahwa yang seperti itu pasti hilang sendiri.

Yaudah, tulisan ini udah terlalu panjang untuk dibaca, mas takutnya kamu bosen. Mas berharap dari hubungan ini segera menemukan jalan keluarnya, jalan yang baik, jalan yang diharapkan untuk berdua. 

Semoga mas dan kamu tetap sama-sama terus. Sama-sama saling percaya satu sama lain. Walaupun mas sendiri pengen dingertiin juga.




Ditulis: Fanni Indra Pratama





Kamis, 04 April 2024

Do'a ibu sepanjang jalan

Ia tidak mendengar namun mengerti. Tentang anaknya yang gagal di sebrang do'a. Do'a yang lirih, yang sendiri, yang diam tapi tidak pernah yang terbata-bata. Kata-kata dirapal cekatan seperti tangannya gesit menata lemari, menyetrika baju, dan menguleni adonan roti. Anaknya sering pulang tanpa bicara apa-apa kesusahan yang datang melulu saban hari. Kadang perutnya kosong, lain hari giliran dompetnya tanpa isi.

Si anak membuka pintu rumah. Pulang lagi dari perjalanannya yang belum kemanapun. Ia tau aroma roti sedang menguning dalam oven. Perutnya tak kosong sebentar lagi. Roti diangkat, anaknya tersenyum. Ibu melihat, ikut tersenyum.

Berilah kami rezeki hari ini. Do'anya kemarin, hari ini, dan besok.

Selamat ulang tahun, Bu.


Ditulis: Fanni Indra Pratama