Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Sabtu, 27 April 2024

Sampai jadi debu

Engga bosan-bosannya mas menulis untukmu, tulisan penuh rindu untuk dirimu di sana. Tulisan ini sedikit berbeda dari biasanya. Tulisan untuk istriku di masa depan (berharapnya itu kamu, Felia) Ini mas menulis untuk kamu yang akan menemani mas sampai maut menjemput. Mungkin akan diingat lagi puluhan tahun kedepan. Untukmu, Felia, yang akan menjadi teman hidup mas sampai selamanya.

***
Sudah berapa lama kita hidup bersama? Dua puluh, empat puluh, atau sudah berapa puluh lagi yang tak mas ingat. Sudah berapa pertengkaran yang sudah kita selesaikan? Sehingga tangis dan amarahmu sampai tak bisa menenangkan badai-badai yang datang silih berganti. Akar mas tak cukup kuat, hati mas tak cukup kokoh, tenang mas tak cukup meneduhkan. Tapi mas tidak perlu khawatir, selama disebelah ada kamu, Istriku.

Berangkat pagi, pulang disaat gelap sampai lelah ini bosan hinggap, tapi kita gembira saja, happy aja, toh itu semua demi anak-anak kita. Ya, tentu kamu juga tahu, anak kita yang besar sudah mau menikah, sedangkan si bungsu sebentar lagi lulus kuliah. Betapa cepat waktu berlalu, dari dulu mereka masih bau bayi, hingga kini kaki mereka sudah cukup kuat untuk berpijak di bumi yang tidak sehat ini. Mereka berjalan dan menentukan langkah masing-masing untuk mencari apa yang mereka pengen. Itu semua juga karena bimbinganmu, Istriku. 

Saat mas merasa capek dan badan mas sudah tidak kuat, pasti ada drama di keluarga kecil kita, kamu selalu menjadi objek frustasi mas. Marahan, cuek, hingga mas tak sadar mendiamkanmu untuk waktu yang lama. Iya, kamu semua yang menanggungnya, dengan batin sekuat baja, dengan tegar yang tak terpatahkan, dan dengan bakat aktingmu untuk berpura-pura tangguh, Istriku.

Senyummu itu, kurasa yang menjadi kompas kita, saat kapal ini mulai goyah dan kehilangan arah. Kekuatanmu adalah kemudi, dan sabarmu adalah janji dimana semua impian kita akan dan pasti bermuara. Do'amu adalah tiupan angin yang kuat dan menenangkan. Nafasmu itu berkat, yang telah Tuhan anugerahkan untuk mas dan kedua anak kita.

Tak ada kata sakit untukmu. Kamu tahan jahitan-jahitan sisa melahirkan, pernah sesekali kamu rubuh tapi dengan semangatmu berhasil kamu matikan semua sakit itu. Saat mas tergolek, maupun saat mas sakit, kamu selalu merawat mas dengan baik dan berjuang sendiri melawan apa yang nyata dan menyakitkan.

Umpatan cacian, gosip murahan teman dan sanak saudara, hingga perkataan yang menyakitkanmu, kamu telan semuanya bulat-bulat. Agar kapal ini masih punya kemampuan untuk bersandar. Benar begitukan, Istriku?

(Mas usap air mata yang tak henti mengalir ini, lalu lanjut menulis)

Tenanglah, tidak usah khawatir. Kamu juga tahu, kapal ini telah bersandar dan bertemu akhir petualangannya. Anak-anak sudah besar, dan mas yakin mereka bisa menjagamu dengan baik, dengan itu mas juga sudah bisa tenang.

Mas harap air matamu yang turun ke pipi itu tak jatuh lagi, mas harap jangan ada kesedihan lagi di antara kita. Ya, sudah cukup, Istriku. Kain kafan mas sebentar lagi akan bersatu dengan tanah, di mana manusia pertama kali diciptakan dari tanah, harus kembali ke tanah. Dan juga petualangan kita akan berakhir sebentar lagi.

Wajahmu tenang seperti biasanya, namun senyum itu terlihat sedikit pucat. Tersenyumlah, sayangku. Kamu tidak perlu khawatir, mas akan baik-baik saja di sini. Tidak perlu cemas, ada malaikat yang jagain mas di sini. Sekarang waktu yang tepat untuk pamitan ke kamu. Tugas mas sudah cukup sampai disini.

Oh, Aku punya satu permintaan terakhir:
Mas beharap, ketika mas telah dikuburkan tolong sampaikan pesan ini sama anak-anak kita, "Halo, Noah dan Near, saat kamu membaca surat ini bapak berharap kamu dalam keadaan baik. Bapak ada satu pesan untukmu dan adikmu, Near. Pesan bapak jangan pernah kamu sakiti ibumu, sayangi ibumu, penuhi janji-janji kamu sama ibu, jaga ibu baik-baik, jaga hatinya, jaga cintanya, jaga impiannya, trus berjuang sama ibu untuk menyelesaikan mimpi ibu yang belum terselesaikan. Dan kamu, Noah, kamu anak pertama, cowok, kamu punya tanggung jawab yang besar untuk menggantikan bapak di keluarga ini. Sekali lagi, jagain ibu dan adikmu ya. Bapak percaya sama kamu, itu saja pesan, bapak. Karna bapak orang pertama yang akan nanya ini ke dalam mimpimu, kalau kamu sampai menyakiti ibumu dan adikmu."

***

Felia, sayangku, badai-badai sudah mereda, tangismu tak lagi diperlukan, kapal ini sudah bersandar dan takkan lagi berlayar.

Sampai jumpa lagi, istriku. Mas akan selalu mencintaimu, selalu begitu.

Mas, pamit.



Ditulis: Fanni Indra Pratama

Kamis, 18 April 2024

Untuk Felia, supaya kamu lebih kenal mas


Maaf, baru bisa membalas tulisanmu. Mungkin tulisan ini sedikit lebih panjang dari biasanya. Mas bingung memulai dari mana. Mas berharap kamu menemukan waktu untuk membacanya. 

Sayang, subuh yang masih membiru mas menulis surat pada dirimu yang kemarin menangis. Mas lihat dari pagi suasana di kabupaten ini masih dingin, orang baru mulai bekerja matanya sayu, dan para kekasih di kota merindu ciuman paling panas sepanjang dingin.

Sayang, coba bayangkan. Pejamkan matamu yang masih merah bekas nangis semalam. Bayangkan bila kita jadi satu di antara kekasih itu atau jadi orang pekerja yang tak bisa merintih kedinginan. Apa masih bisa kita melawan perbedaan keyakinan satu sama lain yang membuat kebingungan di antara kita?

Bisa, ya? BISA!!! 

***

Sayang, akhirnya mas sadar, semua yang mas tahu, semua keindahan yang mas tulis engga ada apa-apanya sama seorang, kamu, Felia. 

Mas, sayang kamu, sayang banget. Bertahun-tahun mas kira yang paling mas cintai di dunia yang tidak adil ini adalah tulisan-tulisan pujangga tentang cinta dan kerinduan. Bertahun-tahun mas kira hal paling indah di dunia tidak adil ini adalah cinta yang tertulis di sejarah roman dan puisi apalah itu yang udah berkali-kali mas baca. 

Engga tahunya bukanlah itu semua. Semua engga ada apa-apanya kalau ada kamu, kalau selalu ada kamu dalam diri mas. 

Hari demi hari, minggu demi minggu, mas selalu memikirkan tentang hubungan kita, tentang perbedaan yang sulit untuk disatukan. 

Kisah cinta kita memang begitu rumit, sayang, banyak halangan dan perbedaan yang membuat kita mikir "hubungan ini mau dibawa kemana?" 

Tapi mas selalu mengusahakannya dengan segala yang mas bisa buat. Supaya kita bisa bertahan mengahadapi cobaan yang selalu datang kapan saja dan hubungan kita berjalan baik seperti yang kita harapkan. 

Mas, yakin, kita bisa menjalaninya, menjalaninya dengan baik, karna kita dua insan manusia yang telah ditakdirkan untuk disatukan. Mas akan sangat nyaman menjalaninya. 

Felia, mas selalu serius jika ingin memulai suatu hubungan, mas tidak akan pernah main-main, mungkin mas kuno atau apalah. Tetapi persis seperti yang kamu bilang, seperti komitmen kita terhadap hubungan ini, kita akan menjalaninya dengan sama-sama berniat baik dengan tujuan ke arah yang selanjutnya. Tidak akan main-main, apalagi di usia mas sekarang. 

Mas pernah bilang ke kamu, tentang segala keyakinan cinta bahwa kamu yang akan jadi pelabuhan terakhir mas, kamu yang jadi cinta terakhir untuk mas, dan kamu juga jadi tempat terakhir hati untuk mas menetap selamanya. Semuanya begitu indah, semua begitu aman dan nyaman. 

Sayang, perlu kamu ketahui kita hidup di dunia yang membuat kita tidak nyaman, dunia yang menyebalkan, dunia yang lebih mementingkan yang terlihat dari luar daripada apa yang terdalam yang kita rasakan. Kita harus sabar ya, harus kuat, persetan dengan mereka yang ada di luar sana. 

***

Saat ini mas tidak bisa memaksamu untuk pindah ke keyakinan mas. Mas tidak bisa mencintaimu dengan secara egois yang hanya mementingkan kehendak mas. Tidak bisa. Untuk mas pribadi, ini bukanlah cara seseorang laki-laki mencintai seorang perempuan dengan benar, ini bukan cara mas mencintai seorang Felia dengan benar. 

Kini mas mencintai kamu karena kamu adalah jawaban dari segala masalah, jawaban dari dogma seorang laki-laki di atas umur 25 tahun. Mas yakin kita menemukan jalan keluarnya, mas yakin kita menemukan hal baik. 

Sekarang mas bahagia karena itu, karena ada kamu setiap malam yang menemani mas ngobrol, yang siap mendengar cerita dan siap selalu ada. 

Mas tidak mau mencintai kamu dengan secara terpaksa, mencintai demi sesaat, mencintai hanya demi alasan tertentu. 

Karena selayaknya cinta awal dari segalanya, bukan alasan tertentu dari segalanya. 

Mas ingat ada satu kutipan dari Gubenur Jawa Barat, Bapak Ridwan Kamil, "Kalau kamu mencintai perempuan dengan rasa cinta itu sendiri, kamu akan mencintainya dengan seluruh jiwa ragamu, bahagiamu, susahmu, hidup dan matimu semua untuk cintamu."

Kutipan itu menjadi pedoman mas untuk menjalani hubungan ini. 

Mas ingin mencintai kamu, karena mas mencintai kamu dengan apapun yang mas bisa. Bukan karena mas menegosiasikan diri mas sendiri kepada cinta itu sendiri. Itu bukan mencintai, tapi mencari tempat yang lebih baik demi diri sendiri.

Sekarang kita sedang jauh. Kamu ada di sana dan mas ada di sini. Sebaiknya di sini dan di sana tetap menjadi di sini dan di sana. Sebab di mana-mana kita ini sama. Yang beda cuma jarak dan cara kita memandang istilah-istilah baru dan pengalaman-pengalaman baru. Seperti sudah mas bilang di awal tulisan ini: Mas tak tahu apa kamu akan suka dengan tulisan tentang waktu. Tentang mas dan dirimu yang kian bingung dengan situasi ini. Mas akrab dengan buku, kamu akrab dengan buku. Mas akrab dengan ekonomi makro, bisnis dan manajemen. Kamu akrab dengan menganalisis perilaku dan fungsi mental manusia, yang nyaris tak pernah mas sentuh di kelas kuliah dulu. Tak ada yang hilang dari waktu-waktu yang terus dititi, tapi ada hal baru yang terus muncul dan yang lama kita singkiri pelan-pelan. Pelan-pelan tapi pasti. Pengalaman cuma soal waktu dan cara kita menghayatinya, tentang bagaimana kita meresap dan menjalaninya. 

Jam malam menjadi malam paling akrab buat kita berdua, sering mengabari, kadang kamu bilang soal banyaknya tekanan dan bahwa hidup ini terjal sekali. Mas tak bisa menjawab, mas bungkam. Biar nanti kamu tahu sendiri saja, bahwa yang seperti itu pasti hilang sendiri.

Yaudah, tulisan ini udah terlalu panjang untuk dibaca, mas takutnya kamu bosen. Mas berharap dari hubungan ini segera menemukan jalan keluarnya, jalan yang baik, jalan yang diharapkan untuk berdua. 

Semoga mas dan kamu tetap sama-sama terus. Sama-sama saling percaya satu sama lain. Walaupun mas sendiri pengen dingertiin juga.




Ditulis: Fanni Indra Pratama





Kamis, 04 April 2024

Do'a ibu sepanjang jalan

Ia tidak mendengar namun mengerti. Tentang anaknya yang gagal di sebrang do'a. Do'a yang lirih, yang sendiri, yang diam tapi tidak pernah yang terbata-bata. Kata-kata dirapal cekatan seperti tangannya gesit menata lemari, menyetrika baju, dan menguleni adonan roti. Anaknya sering pulang tanpa bicara apa-apa kesusahan yang datang melulu saban hari. Kadang perutnya kosong, lain hari giliran dompetnya tanpa isi.

Si anak membuka pintu rumah. Pulang lagi dari perjalanannya yang belum kemanapun. Ia tau aroma roti sedang menguning dalam oven. Perutnya tak kosong sebentar lagi. Roti diangkat, anaknya tersenyum. Ibu melihat, ikut tersenyum.

Berilah kami rezeki hari ini. Do'anya kemarin, hari ini, dan besok.

Selamat ulang tahun, Bu.


Ditulis: Fanni Indra Pratama



Selasa, 02 April 2024

Kesepian di antara kegelisahan


Sore itu di bawah langit merah sebelum menjelang waktu berbuka puasa, sebuah pesan singkat masuk ke dalam handphone ku. 

"Fan, kau pulang kerja ada waktu ga? Aku butuh cerita nih.." isi pesan singkat dari seorang teman yang ingin bertemu.

Sebenarnya bukan hal yang luar biasa, mengingat kami sudah sering berjumpa setelah pulang kerja. Kadang sambil makan nasi goreng pinggir jalan dekat kosan. 

Sore itu kami menyepakati sebuah tempat ngopi di kawasan pegunungan Lebong atas. Temenku sampai duluan. Sudah menggelar Marlboro Mild dan Long Black favoritnya.

Malam itu aku hanya memesan segelas Kopi Susu sambil menguyah permen karet, maklum di kosan tadi sudah buka puasa dan makan makanan yang berat.

 "Aku abis ngewe nih…" katanya dengan menggantung dan ragu-ragu. Sebuah topik pembuka yang kurasa cukup awkward bagaimana untuk menyikapinya. Ada hening yang cukup lama setelah itu. Aku pura-pura mengecek handphone, padahal tidak ada apa-apa hanya awkward saja.

"Sama perek, aku bayar 500…" jawabnya setelah aku tanya dengan siapa, dan berapa tarifnya sambil ketawa-ketawa. Nampaknya ia sedang tidak baik-baik saja.

"Aku takut dosa. Takut itu perek hamil. Takut kena sipilis…." sambungnya.

Memang setau ku, sudah tiga tahun belakang temanku ini tidak menjalin hubungan dengan perempuan, biasa disebut pacaran. Paling hanya ada beberapa teman kencan, atau teman perempuan yang bisa diajak nonton film di bioskop. Tidak ada hubungan lebih dari itu.

"Kenapa?…" tanyaku. Penasaran saja.

Temanku itu diam. Cukup lama.

Setelah beberapa kali hembusan asap rokok, beberapa seruputan kopi hitamnya, ia berkata ;

"Kayaknya aku kesepian. Aku pengen ngerasain lagi gimana rasanya disayang sama perempuan…."

Lalu aku sambung pertanyaan "Terus kenapa mesti ngewe? kenapa sama perek?" tanyaku waktu itu dengan bahasa yang rasanya kurang sopan.

"Ya terus gimana? Sumpah. Awalnya niat aku cuma ngajak jalan aja itu cewe. Kebawa suasana, akhirnya ya ngewe…takut beneran" jawabnya.

Temanku ini sebenarnya bukan termaksud dalam kaum yang tuna asmara. Ia punya beberapa teman perempuan. Tapi ya itu, hanya sebatas hubungan teman kencan.

Yang menjadi perhatianku adalah bagaimana pengakuannya bahwa ia merasa kesepian. Menurutku agak mengagetkan. Keluarganya setau ku baik-baik saja, teman banyak hampir di setiap tempat tongkrongan. Yang kurang menurutku ya hanya pasangan.

Kehidupan di sini yang penuh tekanan, entah akibat pekerjaan sampai kondisi jalanan yang sangat ngehe, bisa membawa pergeseran mental tersendiri bagi para penghuninya. Pergaulannya juga. Mau sebatas nongkrong haha-hihi, sampai pada kehidupan yang Bronx, semua ada. Segala macam bentuk kesenangan, mau yang secara terang-terangan ataupun diam-diam, semua ada di di sini. Tergantung kebutuhan tiap orangnya.

Memang menurutku, prostitusi atau segala macam bentuk jasa perempuan bayaran ini adalah jalan yang cukup pintas, murah, dan mudah untuk kaum lelaki kesepian menghindari malam agar tidak kedinginan, tidak sendirian. Meregangkan otot-otot dan otak yang tegang, agar dapat semalam saja tidur dengan nyenyak.

Mereka menyediakan berbagai macam bentuk wajah, berbagai macam bentuk layanan, yang bisa ditukar hanya dengan menggunakan uang. Bandingkan apabila ingin mendekati perempuan secara serius dan benar, berapa banyak waktu, berapa banyak effort yang dikeluarkan. Belum tentu hasilnya sesuai apa yang kita rencanakan. Masih ada kemungkinan penolakan, atau setidaknya hanya menjadi teman.

Bukan berarti maksudku mendekati perempuan yang baik dan benar itu menyusahkan. Bukan. Yang aku soroti adalah bagaimana cinta satu malam yang lebih pasti dan birahi, yang bisa didapatkan lewat beberapa ratus ribu rupiah lewat layanan prostitusi.

Memang kesepian ini adalah perkara yang tricky menurutku. Kadang ia menjadi bahan candaan, tapi kalau sudah serius, ya salah satu jalan keluarnya adalah dengan apa yang teman saya pilih ini, yaitu prostitusi.

Mungkin karena pengaruh media sosial juga, atau media-media lain yang sering memberikan image betapa menyenangkannya hidup bila berpasangan. Ya, tapi memang ada beberapa orang yang belum berada dalam posisi itu, jadi secara tidak langsung memengaruhi pola pikir seseorang. Menjadikannya merasa seperti kesepian. Padahal nyatanya, siapa yang tahu?

Aku sama sekali tidak menyalahkan keputusan yang temanku ambil. Aku selalu percaya, setiap tindakan itu ada alasannya, dan setiap orang sudah sepatutnya bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat.

Yang menjadi perhatian memang perkara kesepian itu.

Beruntung buatku, menulis dan ngobrol dengan beberapa teman maupun orang yang baru dikenal adalah sarana paling ampuh untuk bisa berdamai dengan kesepian.

Prostitusi, mungkin adalah cara yang ingin temanku ambil untuk melerai kesepiannya.

Menuliskan setiap kegelisahannya diatas ranjang cinta.

"Nyesel banget. Muka tuh cewe, suaranya pas dikamar, bau parfumnya. Masih aku inget sampe sekarang…." katanya sambil menyalakan sebatang Marlboro lagi.

 

 

Lebong, 02 Maret 2024

Lebong sering hujan akhir-akhir ini.


Ditulis: Fanni Indra Pratama


Minggu, 17 Maret 2024

Dirgahayu Kota Kelahiranku, Bengkulu

Aku sudah lupa persisnya kapan, tapi yang teringat adalah manakala aku iseng membuka youtube beberapa bulan yang lalu. Pada kolom pencarian aku menuliskan lagu Kota Bengkulu. Di antara beberapa hasil yang keluar aku memilih untuk melihat sebuah video dari TN Rumah Rekaman. Judulnya tertera jelas; Tanah Bengkulu.

Aku mendengarkan lagu itu sampai selesai. Merinding. Waktu itu aku tak habis pikir mengapa kemudian ada lagu ini yang bagi aku sangat menyentuh. Menggambarkan bagaimana suasana yang ada di  kota ini. Tentang kebanggaan atas apa yang ada di dalamnya. Pikiran akupun berlari kemana-mana. Mengingat memori-memori lawas tentang apa yang sudah ditemui di kota ini.

Sebagai asli Bengkulu lagu ini sangat merekam kehangatan kota. Aku sangat bangga bisa dilahirkan dan dibesarkan di kota ini. Boleh dibilang Bengkulu tempat di mana aku menempah diri, bertumbuh dewasa dan berproses segala hiruk pikuk kehidupan. Tentu, tidak melulu perihal keceriaan yang terjadi. Sering kali kegagalan melanda diri di kota ini. Tapi sejenak kemudian, mengitari jalan-jalanan kota menjadi pelipur lara ketika berada di titik terendah.

Setiap sore aku sering menyalakan motor lalu jalan-jalan tanpa arah berkeliling kota. Kemudian berhenti secara acak di kedai kecil pingir jalan yang aku temui. Memesan secangkir kopi susu lalu duduk terdiam mengamati sekitar. Sesekali aku ajak ngobrol penjual kedai yang melayani dengan ramah.

Seperti dalam lirik lagu Tanah Bengkulu, banyak tempat di kota ini yang seolah menunggu di datangi, sudut-sudut kota  yang menarik untuk di singgahi, kedai kecil yang ramah untuk di larisi. Ramah penjualnya, ramah juga senyumannya. Tidak, Bengkulu tidak melulu tentang ramahnya masyarakat, tidak melulu soal kehangatan kota. Lebih dari itu, ada hal-hal yang tak terdefiniskan di dalam kota ini. Ada cahaya tak kasat mata yang bisa secara tiba-tiba datang menghampiri.

Keberagaman dan kehangatan adalah hal lain yang membuat aku semakin nyaman di kota kebanggaan ini. Kalau ukuran sifat dan perilaku mungkin masyarakat Bengkulu masih jauh untuk kata sempurna. Namun dari semua itu cinta dan kenyamananlah yang buat kami semakin terpupuk. Mencintai tidak perlu alasan logis dan terukur. Mencintai adalah kelumrahan yang tak dapat di perbandingkan satu dengan lainnya. Setidaknya itu yang aku yakini. Dan keberagaman menjadi wujud kecintaan pelengkap akan kota ini.

Media sosial cukup ramai hari ini dengan ucapan selamat atas hari jadi Kota Bengkulu yang ke 305 tahun. Kota yang tak bisa dibilang muda. Namun semangat masyarakat di dalamnya seperti tak mengubris angka yang tersemat pada usia kota ini dan hari ini ingin aku sampaikan rasa terima kasih mendalam terhadap kota ini, terhadap orang-orang di dalamnya. Juga terhadap kebersamaan yang sudah menyatukan banyak hal. Kota ini mempertemukan aku dengan kawan-kawan baik, mendekatkan dengan perempuan yang aku cintai, dan memberikan pembelajaran yang sulit untuk dinilai.

Ya, setiap kita pernah merasa kecewa, merasa gagal, mencoba kembali ceria, bangkit lagi, semangat lagi, seterusnya sampai kita berproses.

Tugu Thomas Park pernah menjadi saksi amarah aku yang membara di tengah panas teriknya kota. Benteng Marlborough pernah menjadi saksi pertemuan singkat yang tidak pernah aku lupakan. Kedai kecil sepanjang jalanan kota pernah menjadi saksi perbincangan yang tidak terlalu penting namun membahagiakan. Pantai Panjang pernah menjadi saksi cinta aku dan dia. Dan rumah Bung Karno pernah menjadi saksi harapan aku untuk sebuah perbaikan.

Untuk setiap sudut kota sudah banyak cerita yang dilewati. Namun masih banyak juga cerita-cerita lain yang siap disajikan kedepannya. Bengkulu, terima kasih sudah menjadi kota yang penuh dengan adat kebudayaan dan keberagaman. Semoga kota ini selalu meyisahkan doa. Sehat selalu semuanya.

Dirgahayu!





Ditulis: Fanni Indra Pratama

Minggu, 10 Maret 2024

Bulan Ramadhan dalam hujan semenit mengenangmu

Mungkin saat ini 
Aku sedang termenung 
glundang-glundung 
di kamar yang 
Kecil berukuran 4x5m 

Bulan Ramadhan 
Tahun ini berbeda 
Jauh dari keluarga 
Jauh dari harapan 
Jauh dari jauh 

Di bawah langit-Mu 
Hujan pun turun 
Hujan paling syahdu 
Seperti lukisan-lukisan Dali 
Atau foto-foto ibuku di tahun-tahun lama 

Atau mungkin sekarang 
Aku sedang termenung 
Melihat story whatsapp 
Teman, kerabat, sanak dan saudara 
Berkumpul bersama keluarga 
Dan menyimpan rasa sedih begitu dalam 
Persis sore menjelang magrib 
Sambil memandang layar 
Telepon genggam 
Melempar dan menahan 
Rindu 

Atau mungkin aku sedang murung 
Dirundung gelisah 
Bagai penantian pada pak pos 
Yang tak pernah datang 
Mengantar harum hujan dalam 
Sepucuk surat yang basah 
Oleh setetes 
Lelah, keringat, dan harap 

Atau tiap reka-reka peristiwa 
Mungkin aku tak mengalaminya 
Sebab aku hanya merasa 
Pada kertas yang tak pernah 
Mengeluh 
Meski kuumpat asu 
Atau macam-macam umpatan lain khas 
Kota kita yang tak pernah 
Berhenti menjadi rumah tersyahdu 
Bagi sepasang kekasih 
Paling romantis 

Bulan Ramadhan 
Kita bertemu lagi 
Di suasana yang 
Berbeda 
Berharap untuk tahun 
Yang akan datang 
Juga begitu 



Ditulis: Fanni Indra Pratama

Minggu, 25 Februari 2024

Do'aku masih sama, semoga malam ini kamu menang

Seperti pagi biasa yang kulalui, aku bangun tidur kesiangan. Alarm dari handphoneku produk Tiongkok sepertinya kurang manjur untuk membangunkanku lebih awal. Entah aku yang tidur terlalu malam atau emang volume handphoneku terdengar pelan. Aku pun pasrah dengan hal itu, yang terpenting adalah aku tetap dapat bangun dan menikmati setiap detik apa yang harus kujalani untuk hari ini. 

Langit yang mendung, matahari yang mengintip manja memberikan kehangatan untuk menulis lembaran-lembaran yang belum tiba ini. Lama tidak menonton kamu berlaga membuat kerinduan ini selalu muncul. Dengan kesabaran penuh, aku menunggu saat kabar perjumpaan itu tiba. Terkhusus malam ini, ya. Malam ini berbeda seperti malam-malam kemarin. Malam ini partai puncak, pertandingan yang menentukan kalau kita masih yang terbaik di tanah Britania. 

Sebelum sarapan pagi, aku jadi ingat saat membaca tentang Yunani bahkan Romawi Kuno. Bukan tentang bagaimana pemikirannya, tetapi bagaimana aku bisa mengambil keikhlasan dari hati dan pikiran yang menyatu untuk berdoa kepada Tuhan. Cara inilah yang hanya bisa kulakukan saat ini. Berdoa untuk membujuk Tuhan agar kemenangan dapat dirayakan. 

Aku pun percaya, Tuhan akan mendengar doa-doa yang dipanjatkan banyak orang yang mencintai klub ini. Entah dekat ataupun jauh, di atas gunung ataupun di tengah lautan, berapa pun jaraknya bahkan ribuan kilometer doa-doa ini akan tetap terdengar. Jika syal ataupun atribut lainnya bukanlah benda mati, aku pun percaya mereka juga akan memanjatkan doa agar Liverpool juara Carabao Cup. 

Sungguh gila mungkin, tetapi itulah yang kurasakan hari ini. Semoga malam nanti menjadi malamnya kita, malam yang membahagiakan. Sehingga memberikan kehangatan untuk Kota Liverpool yang sering turun hujan akhir-akhir ini. Jika belum membahagiakan, aku akan tetap mendoakanmu seperti penyair-penyair Eropa Kuno yang membawakan prosa dengan penuh keyakinan dan ketabahan. Walaupun dalam kesunyian malam, aku tetap berjalan menuju sesuatu yang entah kapan pagi hari akan datang lagi melanjutkan hari kemarin. 

Aku akan menulis lembaran-lembaran hari ini yang masih kosong dan sebagian terisi doa agar menjadi sesuatu yang dapat diceritakan di hari-hari berikutnya.


Ditulis: Fanni Indra Pratama

Rabu, 07 Februari 2024

Takut mengorbankan segalanya, karena aku pernah kehilangan segalanya

Adakah yang lebih indah dari seseorang yang meyakini perjuangannya sendiri?

Adakah yang lebih indah dari seseorang yang percaya keajaiban Tuhan itu ada?

Adakah yang lebih indah dari seseorang yang ditakdirkan untuk mencintai ketika tidak bisa memiliki?

Aku takut, Tuhan

Aku takut, aku hanya menjadi seonggok daging yang bisa berbicara tanpa punya makna

Aku takut, Tuhan. Aku takut aku tidak menjadi siapa-siapa di dunia yang tidak adil ini

Hanya bisa menghabiskan oksigen pemberianmu

Hanya bisa memenuhi bumi dengan perbuatan tidak bermakna

Aku takut aku hanya jadi beban bagi duniaku

Aku takut hanya jadi masalah bagi duniaku

Bagi semua di lingkunganku

Bagi semua yang kusayangi

Aku takut, aku tidak percaya diri menghadapi dunia yang aneh ini

Aku takut, karena sebenarnya aku tahu, aku bisa, tapi aku takut

Aku takut, Tuhan. Aku takut, karena aku sebenarnya mau begini-begini aja, sederhana, walau aku tahu hidup yang indah adalah hidup yang terjalani dengan kerja keras dan perjuangan tanpa henti

Aku takut mencintai, karena aku takut tersakiti, lalu aku menjadi manusia yang lemah

Aku takut berjuang, karena aku takut, perjuanganku sia-sia, lalu aku menjadi manusia bodoh yang hanya punya seonggok daging

Aku takut mengorbankan segalanya, karena aku pernah kehilangan segalanya

Dan

Sampai saat ini rasa takut masih menghantuiku

Tuhan, aku ini makhlukmu, aku bekerja menjalankan apa yang aku inginkan, apa yang ingin aku cita-citakan, berlelah-lelah demi hidup, berjuang untuk apa yang aku yakini


Ditulis: Fanni Indra Pratama

Minggu, 28 Januari 2024

Di kabupaten ini aku menantimu

Itulah kenapa aku menulis. Kamu tahu, supaya banyak hal tak segera menguap, tak segera hilang, begitu hal-hal kecil pergi, kita akan kehilangan hal-hal besar, dan hal-hal besar biasanya sering berkhianat atau kamu khianati dahulu, secara diam-diam dan pelan.

Sudah tiga bulan aku menetap di sini dan aku belum sungguh-sungguh mencintai Lebong, belum, sampai aku kembali lagi dengan perasaan yang lain, yaitu perasaan yang kubawa pada kabupaten ini sekarang. Perasaan yang kamu tanam pelan, sepelan becak yang dikayuh pak tua di depan rumah Bunga Karno
Kamu tahu, musim hujan adalah cara tuhan menyentuh jarimu dengan air, menyentuhkan aku dan kamu dalam sebaskom penuh anggur putih. Dan..

Sabar, sayang. Musim hujan masih lama, menetaplah di sini, di ruang hati yang dalam, seperti kangen tak kenal waktu, kangen itulah, yang merasuk sampai ke tulang-tulang, dan pelukan. Pelukan itu, belum kita miliki penuh-penuh.

Sayang, di kabupaten ini aku menantimu. Datanglah dengan pikiran dan hati yang lengkap, saat itu tiba, aku akan benar-benar meyakinimu. Meyakinimu. Sungguh-sungguh.



Ditulis: Fanni Indra Pratama

Sabtu, 06 Januari 2024

Aku pulang


Kawan, kepada siapa 

Kita mesti menyerahkan harapan?

Pada diri kita atau burung-burung yang berterbangan di bawah langit tuhan?

Kawan, kepada siapa kita mesti pulang?

Pada obrolan dini hari atau

Titik-titik jauh

Atau awan hitam di kota sebrang?

 

Kepulangan adalah mantra 

Bagi kita yang tlah lama menunggu 

Menanti kenangan untuk diputar,

Diulang,

Diketawai sampai haru

Kepada jalan-jalan sepi

Kita menggantungkan mimpi-mimpi sampai pagi

 

Di rumahmu kelak, kawan 

Akan kita suguh gorengan-gorengan

Singkong, tahu bacem, tempe-tempe,

Lengkap dengan cabe ijo yang

Kau tangisi kemarin sore

 

Kawan, di Kota kita yang serba terbatas ini 

Di setiap jejak tangan

Di dinding-dinding putih tangga sebelah

Kita tak akan pernah lagi nemu

Ciuman muda-mudi waktu datang malam minggu

Atau gerak-gerik kucing kampung

Yang awas matanya

Curiga pada Jayak, pada Petong,

Pada Tuhan, dan rindu-rindu rawan

 

Kawan, aku pulang 

Hanya sementara


Ditulis: Fanni Indra Pratama

Senin, 01 Januari 2024

Malam penuh bintang di kota Lebong

Di malam tahun baru
Ada kembang api
Ada bintang-bintang
Dalam diriku dan pikiranmu
Yang kusebut sedetik sebelum
Tahun berganti

Di satu momen itu, sayang
Aku coba hentikan waktu
Di sekat-sekat antara
Tangis dan tawa
Antara langit gelap dan bulan purnama
Antara masa lalu dan masa depannya

Di matamu juga
Ada pantulan cahaya
Di dahimu, di bibirmu
Ku cium pelan-pelan
Dan kuhentikan waktu

Selamat tahun baru, sayang
Semua orang memanggul tahun yang berat
Supaya tahun besok mereka lebih kuat
Berharap juga seperti mu
Kutuliskan puisi dari jauh 
Izinkan aku menciummu sekali lagi




Lebong, 01 Januari 2024

Ditulis: Fanni Indra Pratama