Ada satu doa yang setiap hari aku panjatkan setelah meminta semua hal yang aku inginkan, yaitu, "Ya Allah, berilah hamba ketenangan dalam menerima semua qodo dan qodarmu."
Aku merasa sangat perlu meminta tenang karena tidak semua jawaban doaku adalah "iya". Bisa jadi jawabannya adalah "tidak", sedangkan "tidak" merupakan jawaban yang tidak aku sukai tapi tetap harus aku terima. Manusia dan segala kompleks perasaannya tidak selalu siap dengan jawaban itu, dalam proses menerimanya aku perlu menarik napas panjang.
Makanya tenang ini aku minta di ujung doa sebagai bantalan, satu bundle dengan doa-doa yang kadang terdengar tidak tahu diri-kalau sampai ke telinga manusia. Manifest sih manifest, tapi ingat bahwa semua hal yang kita minta itu belum tentu baik buat kita, sedangkan kita tidak tahu segalanya.
Manusia itu otaknya terbatas, seringkali hatinya maju duluan baru otaknya mengikuti. Itulah muncul namanya rasionalisasi. Otak seringkali merasionalisasi keputusan yang hati buat agar kita merasa baik dan benar. Tapi yang logis tidak selalu benar dan yang emosional tidak selalu salah.
Itulah kenapa manusia perlu Tuhan. Satu-satunya hal mutlak di dunia ini ialah meminta petunjuk dan remah roti setiap hari, dari kesombongan bahwa apa yang kita putuskan dan minta itu benar dan paling baik.
Apalagi jika yang kita minta itu beririsan dengan manusia. Sedangkan manusia itu makhluk dengan spektrum perasaan tidak terbatas. Plintat-plintut tapi sering merasa paling lurus. Perasaannya seperti kentut yang bocor di sana sini karena jumawa betul merasa bisa menahannya sepanjang waktu. Integritas hanya bertahan seminggu, selebihnya mengikuti nafsu.
Tenang membuatku melihat batas dengan sedikit lebih jelas dan apa adanya, bahwa aku tidak bisa terus-menerus membela diri sendiri, pun selalu menyalahkan orang lain. Begitupun sebaliknya, membela orang lain dan menyalahkan diri sendiri.
Aku memintanya setiap hari, 5x sehari karena perasaan tenang ini kadang munculnya hanya beberapa menit lalu menguap seperti kabut kena matahari. Aku memintanya untuk setiap hal dalam hidup, dari yang paling sederhana hingga yang membuat sesak di dada.
Tidak semua hal perlu segera diberi nama, dicari alasannya, atau dijadikan pertanda. Ada hal-hal yang cukup terjadi, lalu selesai. Ada yang cukup membuat kita mengernyitkan dahi sebentar, kemudian besok paginya sudah lupa karena sibuk mencari kaus kaki yang entah nyelip di mana.
Kadang tenang juga berarti memberi kesempatan pada hidup untuk menjadi hidup. Tidak semua kejadian harus sesuai rencana supaya tetap menjadi sesuatu yang baik. Tidak semua belokan perlu segera diketahui ujungnya. Ada hari ketika semuanya terasa jelas, ada hari ketika yang kita punya cuma secuil petunjuk dan kemampuan untuk melanjutkan perjalanan. Tidak apa-apa. Mungkin memang begitulah caranya Tuhan mengajari manusia untuk berjalan tanpa harus memegang seluruh peta.
Dompet kartuku yang lebarnya sekepal tangan seringkali tidak terlihat kalau sedang dicari. Padahal ada disekitar meja komputer.
Kunci motorku baru ketemu setengah jam kemudian padahal dia masih di tempat biasanya hanya ketutup tumpukan kertas.
Aku meminta hal sederhana tapi bisa mengubah caraku memandang segalanya. Tapakkan kaki ku di tanah, tapi ijinkan aku merasakan angin.
Biarkan aku melihat sesuatu yang terjadi dalam hidup apa adanya tanpa campur tangan harapan dan ketakutan.
Bahwa daun itu hitam saat malam, dan laut itu menguning saat senja.
Kita sering tidak melihat sesuatu bukan karena sesuatu itu benar-benar hilang, tapi karena kepala kita sedang terlalu sibuk mencari jawaban yang kita inginkan. Kita menatap terlalu jauh sampai lupa bahwa barang yang dicari sebenarnya ada di depan mata, hanya tertutup sedikit oleh sesuatu yang tidak kita sangka.
Aku terus memintanya karena tidak setiap hari aku dapatkan. Tidak apa-apa. Yang penting bisa aku rasakan di saat yang paling aku butuhkan.

Tidak ada komentar :
Posting Komentar