Nak, tulisan ini sebagai pengingat, malam ini Bintang di atas rumah kita indah banget. Indah seperti wajahmu, indah seperti wajah Ibumu.
Nak, Bintang yang kamu lihat malam ini adalah ia yang terbakar dan menyala sejak ratus jutaan tahun yang lalu. Artinya, cahaya yang kamu terima malam ini adalah hasil dari perjalanan cahaya yang ber-ratus-juta-an tahun ke belakang. Itu jarak.
Nak, mungkin Bintang yang kamu lihat malam ini, ia sudah lenyap. Hangus membakar dirinya sendiri. Atau sudah berpindah dari posisinya sejak ia mengirim cahaya.
Nak, sadarkah, dari cahaya Bintang itu, kamu sudah melipat satu dimensi. Masa lalu.
Nak, bukankah butuh kesabaran yang amat panjang dan tekun untuk tetap meneruskan cahaya?
Nak, rumahmu adalah Bumi, adalah Bimasakti, adalah Gugus Virgo, dan Gugus Besar Laniakea. Pergilah sampai kemana saja, itu rumahmu. Berfikirlah kemana pun mau, itu juga rumahmu.
Nak, Bintang itu besar. Menjadi kecil karena jarak. Sebab kamu akan lebur hancur jika semakin dekat.
Nak, Bintang itu bukan sekadar amat banyak menghias angkasa. Tak perlu terbang ke sana ke tempatnya berada. Itu percuma. Ia sudah tiada.
Nak, seperti Bintang, bersabarlah oleh dua hal;
1. Cahayamu butuh waktu untuk sampai kepada manusia, 2. Dan relakanlah cahayamu dinikmati manusia yang cuma tahu soal menyanyi tentang ingin terbang tinggi ke tempatmu berada, dan yang terakhir, 3. Ayah mengajakmu melihat Bintang malam ini supaya kamu tahu bahwa meskipun kita hanya bagian kecil dari alam semesta yang sangat luas, kita tetap memiliki kemampuan untuk menciptakan makna. Kehidupan manusia dapat dipahami melalui pencarian dan pengalaman yang kita jalani, serta bagaimana kita berinteraksi dengan dunia sekitar.
Nak, begitulah hebatnya ciptaan Tuhan yang bisa membuat Bintang malam ini begitu indah dan menakjubkan.
Oh ya satu lagi, Bintang malam ini lebih banyak, lebih luas dari apa yang kita ketahui. Tak terhitung, menyimpan jutaan misteri, ketakutan, keindahan dan hal-hal luar biasa yang tak mampu kita bayangkan sebelumnya.
Manusia hanyalah setitik kecil bagian dari Bintang itu. Ibarat bola basket, manusia adalah sebutir debu nano yang menempel pada permukaan bola tersebut. Sangat amat kecil, bukan?
Namun, tahukah kamu betapa beruntungnya Ayah karena dipertemukan dengan seseorang yang tanpa Ayah sadari telah menjadi pusat kehidupan Ayah, KAMU.
Yaudah, nak. Ayo kita masuk, ini sudah terlalu malam. Ibu sudah menunggu kita di dalam. Kalau besok langit sedang bagus, Ayah akan ceritakan lebih detail luasnya Alam Semesta yang buat kamu akan takjub indahnya ciptaan Tuhan.
Tidurlah di malam yang gelap.
Ditulis: Fanny Indra Pratama

Tidak ada komentar :
Posting Komentar