Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Jumat, 27 Februari 2026

Sepanjang jalan pulang di bawah langit mendung selalu menyisahkan ruang bathin yang seringkali otomatis terisi dengan pertanyaan kenapa patah hati ini sungguh menyakitkan


 

Satu jam berlalu tanpa terasa. Aku mengendarai tanpa arah, membiarkan mobil ini membawaku entah ke mana, sementara lagu-lagu sedih mengalun perlahan, bukan untuk menghibur, tapi untuk merayakan luka yang menggerogoti dada. 

Hari ini aku tidak bekerja (meliburkan diri) rencana ini sudah aku putuskan sejak malam tadi. Ingin rehat sejenak atas apa yang sudah terjadi sebulan terakhir ini. Aku siap dengan resiko di kantor nanti. Tapi aku perlu untuk menenangkan diri.

Setelah mengendarai tanpa arah akhirnya kuputuskan untuk pergi ke Curup. Kabupaten kecil yang terkenal dengan wisata alamnya. Sepanjang jalan lagu-lagu melow yang menemani ku di atas mobil agar aku bisa mengekspresikan diriku. Setelah dua jam perjalanan akhirnya sampai di perbukitan dekat Gunung Kaba. Aku akhirnya terdiam di sudut sepi Bukit itu, ditemani angin siang menjelang sore dan pikiran yang tak kunjung menemukan jawaban.

Entah apa yang sebenarnya kucari. Mungkin alasan untuk membencimu. Membencimu dengan perubahan sikapmu ketika sudah punya segalanya. Membencimu yang menghilang tanpa kabar. Membencimu yang arogan di balik kata "pekerjaan", padahal kerjaanmu itu dulu yang paling aku dukung agar mimpimu tetap hidup, agar sekolahmu terus berlanjut. Ironis? Aku berdiri paling depan untuk mendukungmu, tapi kamu justru berjalan menjauh tanpa menoleh sedikit pun.

Namun untuk apa semua penjelasan itu? Untuk apa semua pembelaan yang tak pernah kamu minta? Kamu adalah seseorang yang begitu mudah menghapus, begitu ringan melupakan, begitu cepat pindah ke lain hati, begitu cepat menganggap seseorang tak pernah ada. Seolah seluruh waktu, tenaga, dan pengorbanan yang kuberikan hanyalah debu yang bisa kamu tiup kapan saja.

Aku selalu berusaha ada di setiap sulitmu. Menghabiskan tenaga, mengorbankan waktu, bahkan menelan sakitku sendiri. Tapi bagimu, menghargai rupanya adalah hal yang terlalu berat untuk dilakukan. Kamu lebih mudah merendahkan, lebih mudah membuatku merasa tak berarti, meski di lain waktu kamu pernah berkata, "Aku menghargaimu."

Kini aku mengerti, kata-kata memang mudah diucapkan. Tapi tindakanlah yang benar-benar tinggal. Dan yang tertinggal darimu hanyalah sepi. Tidak lebih.

Lamunanku pecah seketika mendengar suara perempuan samar, "Are you okay? Mau ditemenin?" sembari tersenyum dan menyodorkan tisu.

Aku mengusap mata, pura-pura sibuk merapikan rambut yang sepertinya tak pernah benar-benar berantakan. Bibirku terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Bingung, antara ingin menolak karena sudah terlalu lelah menjelaskan luka, atau menerima karena mungkin, untuk sekali ini saja, aku ingin didengar.

Ia duduk pelan di sampingku, menjaga jarak yang sopan, seolah tahu bahwa hatiku sedang rapuh dan tak boleh disentuh sembarangan. 

"Maaf, aku engga maksa" katanya lembut. "Cuma kelihatannya kamu lagi berat banget."

"Berat? haha lucu sekali bagaimana orang asing bisa melihat sesuatu yang selama ini berusaha kusembunyikan dari orang yang paling kucintai." balasku dalam hati.

Aku akhirnya menerima tisu itu. Jari kami sempat bersentuhan sebentar, hangat, sederhana, tapi entah kenapa terasa lebih nyata daripada ribuan janji yang dulu pernah kamu ucapkan.

"Aku engga apa-apa" jawabku pelan. Kalimat paling klise yang selalu dipakai orang-orang yang sebenarnya tidak baik-baik saja.

"Engga usah bohong, aku udah lihat kamu ketika turun dari mobil dengan raut wajah yang sedang banyak masalah, btw aku lihat plat mobilnya dari Kota ya?

"Iya" jawabku.

"Aku juga dari Kota, Rumahku di hibrida dekat rumah Pak Gub."

Setelah mendengar itu aku langsung terkejut dan menanyakan "Oh ya? Ada temenku rumahnya di hibrida juga, dekat juga sama rumah Pak Gub." Jawabku dengan nada lesuh

"Siapa?" Tanyanya dengan penasaran.

"Namanya Kingkin, dia tinggal dekat mess Pemda Rejang Lebong."

"Rumahku sebelum mess Pemda itu."

Aku tanya dengan penasaran "Kenapa kamu bisa di sini? Kerja?" 

"Iya, aku kerja di bawah itu", sambil menunjuk klinik kecil yang dindingnya terbuat dari papan.

"Dokter?" Tanyaku.

"Yes" 

"Sekarang aku tanya balik ke kamu, kenapa kamu bisa kesini? Jauh loh dari Bengkulu." tanyanya lagi.

"Pengen menenangkan diri, pengen rehat sejenak." Kataku pelan, mencoba terdengar serius meski suaraku masih serak karena terlalu banyak diam.

"Coba aku ramal dulu hmm pasti soal perempuan ya?" Tanyanya dengan senyuman tipis.

Aku mendengus kecil "kamu cenayang?" 

"Enggak" dia tersenyum tipis lagi. "kelihatannya lagi butuh ditemenin, tapi terlalu gengsi buat minta."

Aku terdiam sesaat, lalu berusaha mengalihkan rasa yang tiba-tiba menghangat di dada. Dan di bangku sepi itu, di antara kesunyian dan tisu yang hampir habis, aku menemukan sesuatu yang tak kuduga, tawa yang ringan, percakapan sederhana, dan rasa hangat yang perlahan membuat dadaku tidak sesesak.

"Dulu aku juga pernah duduk sendirian kayak gini. Bedanya bukan di bukit, tapi di Pantai Panjang. Ngeliat dentuman ombak jam seginian juga." Ia menarik napas pelan. "Ngerasa kayak semua orang jalan terus, tapi hidupku berhenti di satu orang."

Aku terdiam, mendengarkan.

"Engga ada yang ngajak pulang waktu itu" lanjutnya ringan, tapi ada sesuatu di balik suaranya. "Jadi ya… aku pulang sendiri. Dan rasanya berat banget."

“Makanya tadi aku agak ngeh liat ekspresi mukamu." katanya. "Soalnya aku tau rasanya."

Aku menatapnya lebih lama kali ini. Tidak ada cerita panjang. Hanya pengakuan sederhana yang terasa jujur.

Dia menoleh ke arahku. "Kamu capek?"

"Lumayan."

"Capek fisik atau capek mikir?"

Aku tersenyum tipis. "Dua-duanya."

Dia mengangguk pelan, lalu tiba-tiba berkata, "Coba deh teriak."

Aku menoleh cepat. "Teriak?"

"Iya. Teriak aja. Seru tau!" 

"Serius. Cobain. Kadang yang bikin sesak bukan masalahnya, tapi karena dipendem terus."

Aku menggeleng. "Kayanya engga bisa"

"Jam segini yang dengar cuma angin sama lampu warung," katanya santai. ,"Enggak ada yang kenal kamu di sini."

Aku ragu beberapa detik. Lalu, entah kenapa, aku menaikan suaraku perlahan. Angin sore langsung menyentuh wajahku.

"Udah, teriak apa aja," katanya menyemangati.

Aku menarik napas panjang. Lalu aku berteriak,  terlalu keras, tapi cukup untuk membuat dadaku terasa bergetar. Bukan menyebut namanya. Bukan memanggil siapa pun. Hanya teriak "Anjeeeeeeeeeeeng!"

Angin membawa suaraku pergi. Dia menoleh padaku dengan mata berbinar. "Nah gitu dong. Gimana?"

Aku terdiam sebentar, merasakan sesuatu yang ringan.

"Lumayan," jawabku pelan. "Kayak… enggak sesesak tadi."

Aneh, ya. Kalimat sesederhana itu terasa lebih menenangkan daripada semua nasihat panjang yang pernah masuk ke telingaku. Tidak ada petuah rumit. Tidak ada teori tentang "Ikhlas" atau "waktu akan menyembuhkan." Hanya tindakan kecil yang diam-diam mengingatkanku bahwa aku masih hidup, masih punya suara, dan masih dianggap.

Ia datang bukan seperti badai yang memaksa, bukan seperti hujan deras yang tiba-tiba mengguyur tanpa aba-aba. Ia hadir seperti cahaya tipis di celah jendela yang lama tertutup, tidak menyilaukan, tidak menyakitkan mata. Hangatnya cukup. Cukup untuk membuatku sadar bahwa gelap bukan satu-satunya kemungkinan yang tersisa.

Tawanya ringan, tapi mampu memecah beku yang berhari-hari mengeras di dadaku. Candanya sederhana, tapi berhasil menarikku keluar dari pusaran pikiran yang tak henti-henti menyiksa. Perhatiannya tidak berlebihan, tidak penuh janji, tidak mengumbar kata manis dan justru karena itu terasa tulus.

Di tengah kekacauan pikiranku, ia hadir dengan ketenangan. Di tengah kebisingan rasa sakit, ia membawa sunyi yang menenangkan. Bukan sunyi yang menyiksa.

Ia tidak berusaha menghapus lukaku. Tidak mencoba menggantikan siapa pun. Tidak memaksa menjadi pahlawan dalam cerita yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya.

Ia hanya ada. Sekali lagi, ia hanya ada.

Dan entah kenapa, keberadaannya yang sederhana itu membuatku merasa sedikit lebih utuh sore itu. Tidak sepenuhnya sembuh. Tidak sepenuhnya bahagia. Tapi cukup tenang untuk percaya bahwa mungkin, hidupku belum selesai hanya karena satu orang memilih pergi.

"Kamu kalau sama orang yang baru kenal emang seperti ini ya?" Tanyaku

"Jangan heran kalau ketemu orang baik" lanjutnya santai. "Kadang kamu cuma lagi lupa kalau kamu juga pantas diperlakuin baik."

Kalimat itu menggantung di kepala beberapa detik.

Aku menelan pelan. "Kamu ngomongnya kayak udah kenal lama."

Dia tersenyum tipis. "Engga perlu kenal lama buat tahu seseorang lagi berusaha kuat. Kelihatan kok."

"Mungkin setelah ini kita engga akan ketemu lagi, tapi terima kasih ya, untuk waktunya yang dipertemukan ketidaksengajaan ini." Kataku dengan pelan.

"Iya, sama-sama, eh Ini udah jam 5 loh, kamu engga pulang? Atau mau buka di sini?"

"Aku pulang ya" kataku akhirnya.

Dia mengangguk. "Iya. Istirahat yang bener. Jangan mikir berat-berat dulu yaa."

Aku membuka pintu, lalu sebelum benar-benar menutupnya, ia menambahkan satu kalimat lagi.

"Eh… kalau suatu hari ngerasa sendirian lagi, inget ya… sore ini kamu pernah ketawa."

Aku menatapnya, lalu tersenyum. Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa seperti sesuatu yang ingin kusimpan lama-lama.

Aku menutup pintu mobil perlahan. Suara pintu yang terkunci terdengar lebih jelas di tengah sore yang sunyi. 

Mobil ku perlahan mundur, lalu berbelok dan meninggalkan tempat itu. Lalu benar-benar lenyap.

Dan aku baru sadar, kami lupa berkenalan. Tidak ada pertukaran nama. Tidak ada nomor telepon. Tidak ada Instagram, tidak ada apa pun yang bisa membuat sore itu terhubung ke hari esok. Tidak ada janji untuk bertemu lagi.

Sore itu, aku tidak tahu siapa dia. Dan mungkin dia juga tidak benar-benar tahu siapa aku. Tapi sore itu terasa nyata. Terlalu nyata untuk disebut kebetulan biasa.

Aku masuk ke kamar, duduk di tepi tempat tidur, dan menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikiranku tidak dipenuhi pertanyaan tentang kenapa aku ditinggalkan. Tidak ada bayangan wajah yang menyakitkan. Tidak ada kata-kata yang berputar tanpa henti.

Yang ada hanya satu perasaan sederhana. Tenang.

Sore itu, aku dipertemukan dengan seseorang yang baik, ceria, perhatian, dan menyenangkan tepat di saat duniaku seperti runtuh tanpa aba-aba. Di saat keramaian terasa lebih sunyi daripada kesendirian, ketika amarah menggerogoti batin tanpa jeda, ketika debar jantungku tak lagi teratur seakan panik menghadapi kehilangan, dan air mata jatuh begitu saja tanpa diminta.

Perlahan aku sadar, mungkin semesta memang tidak selalu mengambil tanpa memberi. Kadang, setelah menghancurkan hatiku hingga terasa tak utuh lagi, ia menyelipkan seseorang yang mengajarkanmu cara bernapas kembali.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, air mata yang jatuh bukan hanya tentang kehilangan, tapi juga tentang harapan yang pelan-pelan tumbuh kembali.


Ditulis: Fanny Indra Pratama


Jumat, 20 Februari 2026

Life After Break Up Ternyata Se Anjing Ini Ya

 


Setelah aku mengalami putus cinta yang menyakitkan ini, aku merasa kosong. Siapa lagi yang bisa aku curahkan afeksi?

Lalu aku menceritakan kehampaanku kepada teman, dan ia menyarankan untuk mencintai diri sendiri terlebih dahulu.

Sempat aku bertanya-tanya sendiri kala baru sebulan putus cinta, di kamar berukuran 3x2m, sembari meratapi apa yang sudah terjadi. Lalu aku menyerah dan menanyakan sakit ini kepada Tuhan.

Tuhan memang selalu bekerja dengan cara ajaib. Aku percaya bahwa Ia menjawab dengan mengirimkan teman untukku, yang dengan baik hati, menampung segala curahan hati. Aku mulai cerita mengenai awal pertengkaran itu terjadi sampai akhirnya disambut oleh hati yang dibikin retak.

Temanku bilang, kira-kira, "Dia angkat bebanmu, biar kamu bisa naik dengan enteng, kamu lagi di uji, bisa engga kamu berdiri di atas kaki sendiri?"

Aku artikan "berdiri di atas kaki sendiri" sebagai "tidak mengandalkan siapapun selain diri sendiri". Kemudian, aku berpikir "apakah itu berarti aku juga harusnya mencintai diri sendiri?"

Bingung aku tak selesai sampai di situ, aku harus memikirkan cara agar dapat mencintai diri sendiri. Dulunya aku berpikir bahwa mencintai diri sendiri artinya merasa bahwa kita yang benar, pihak lain yang salah. Namun sekarang, aku berpikir, mencintai diri sendiri adalah tentang berdamai dengan diri sendiri dan pihak lain. Jangan menutupi kesalahan dan kebenaran yang ada di antara aku dan pihak lain. Dan sekarang, setelah melalui satu bulan yang berat, aku bisa unblock chat pihak lain dan pelan-pelan merelakan apa yang telah terjadi.

(Aku mencapai tingkat keikhlasan itu setelah sebulan merenung di kantor maupun di kamar, jadi, memang sangat tidak mudah, tapi kamu pasti akan mendapatkan kedamaian nantinya.)

Aku melakukan hal-hal ini dan masih mencari hal-hal lain yang dapat aku lakukan untuk dapat sembuh dan mencintai diri sendiri:

- Mengekspresikan emosi. Jangan terlalu over, secukupnya saja. 

- Cari teman yang banyak, karena kamu pantas untuk dikawani.

- Gali lagi hobi lama. Aku membaca novel klasik "Bumi Manusia" dan aku seperti menemukan kembali diriku saat aku masih innocent dan dalam dunia sendiri. Benar-benar menyegarkan.

- Aku mencoba mulai memasak. Ini seperti menggali hobi lama, walaupun sering keasinan tapi aku senang menjalaninya. Menemukan hidup baru.

- Merencanakan untuk pembangunan rumah. Entah mengapa hal ini menjadi menyenangkan. Dari dulu aku ingin rumah dua tingkat bergaya sederhana namun klasik dengan jendela yang ada tempat duduknya dan atap segitiga khas perumahan sederhana di Eropa. Aku selalu bersemangat membayangkan akan merawat tumbuhan di dekat jendela besar itu. Oh ya satu lagi, rumah itu harus ada piano di dalamnya. Itu yang aku usahakan sekarang untuk mewujudkannya.


Aku masih jauh dari definisi "mencintai diri sendiri", namun aku rasa aku tengah menuju ke sana. Seiring perjalanan aku menemukan jati diri, rasanya aku belum siap menerima cinta-cinta baru dalam hidup. Karena aku memang belum layak mendapatkannya.


Ditulis: Fanny Indra Pratama



Kamis, 12 Februari 2026

Terimakasih sudah pernah mau

 


Felia, mungkin ini pesimisme paling kutakutkan yang terjadi di dunia. Bukan karena rasa sesal akan bertahun-tahun yang sia-sia, bukan rasa cinta yang akhirnya jadi sepah, tapi lebih ke bagaimana jika aku hidup dalam versi tanpamu di masa depan.

Aku tentu saja sudah membayangkan berjuta skenario bahagia. Menjadi dewasa, menua, dikubur dalam liang yang berdampingan, lalu bertemu di surga. Namun, ada kalanya kita juga harus memikirkan skenario paling sedih dan memuakkan agar nanti tidak terkejut akan takdir yang sungguh menggilakan.

Sebelum aku lanjutkan lagi tulisan ini, aku mau play dulu lagu Ifan Seventeen "Jangan Paksa Rindu". Ntah kenapa lagu ini jadi lagu favoritku, mengingatkan banyak hal.

Ingatkah

Kapan terakhir bicara?

Kapan terakhir saling bertatap muka berkata cinta? 

Sadarkah engkau yang dulu sudah berbeda?

Membuat kita semakin jauh

Tak lagi sama seperti dulu 

***

Ketakutan terbesarku adalah rasa beralih. Rasa darimu yang mengungkap yang lain lebih dan lebih dariku, yang akhirnya memunculkan rasa enggan dan tak acuh akan kehadiranku. Jemu, ingin yang baru, dan kekosongan darimu yang aku tidak tahu nantinya harus mengisinya dengan apa.

Tentunya, cinta bisa menguat, bisa diobati. Sayangnya, cinta juga bisa memudar. Pudar, pudar, lalu punah. Tidak ada lagi tersisa selain kata pisah.

Felia, aku baru merasakan pahitnya penyesalan. Semua sudah terlambat. Kamu sudah melangkah jauh dengan kesempatan yang baru. Aku hanya terpaku pada bayang skenario palsu.

Felia, aku menulis ini bukan karena aku marah, tapi karena aku sedang belajar melepaskan dengan lapang. Aku menyayangimu dengan cara yang paling lembut yang aku tahu. 

Lewat perhatian kecil, lewat doaku yang diam-diam, lewat harapan sederhana agar kamu bahagia, meski bukan denganku.

Ketika aku bilang "putusin aku sekarang", aku coba merenungkan betapa salahnya aku ngomong gitu selama dalam hubungan ini. Tapi kamu harus perlu tahu Fel, diam-diam, hatiku berharap kamu tetap tinggal. Aku tahu itu tidak adil untukmu. Karena cinta yang tulus tak seharusnya menyakiti orang yang kita cintai.

Hari ini, batinku tersiksa, bukan karena aku berhenti peduli, tapi karena aku memilih untuk tidak terus terluka. Aku ingin tetap mencintai diriku sendiri seperti aku mencoba mencintaimu: sabar, utuh, dan penuh harapan.

Jika suatu hari kita bertemu lagi, semoga aku sudah benar-benar baik. Dan jika tidak, semoga kamu tahu, pernah ada seseorang yang mendoakanmu dalam diam, bahkan ketika kamu tak menyadarinya.

Selamat tinggal yang baik. Semoga kamu menemukan damai dan aku pun begitu.

Terima kasih, Felia. Terima kasih sudah pernah mau.


Bila memang kau tak bisa bersama

Jangan paksakan hati'tuk trus mecinta

Relakanlah saja ini

Kan ku simpan kisah ini

Dan kututup semua ruang di hatiku


Ditulis: Fanny Indra Pratama (Manusia paling keren setongkrongan Anggut) 

Kamis, 22 Januari 2026

Karena Rindu Tak Selalu Tentang Cinta

 


Percaya atau tidak, aku menulis judul ini, 10 tahun lalu, aku simpan dalam draft, dan sejak itu, tulisan ini, hanya sampai judul. Di awal tahun ini, aku iseng melihat draft yang ada di folder "Manusia Paling Keren Se tongkrongan Anggut" di PC ku, dan menemukan ini. 

Ntah apa yang aku pikirkan 10 tahun lalu, itu berati di tahun 2016, 12 Januari 2016, 9:37 PM. Apa yang ada di pikiranku 10 tahun lalu, jam setengah 10 malam ya? Apa yang aku rindukan waktu itu? Berarti waktu itu aku baru masuk kuliah di semester dua. 

Ini 22 Januari 2026 jam 22:45 WIB, 3810 hari setelah judul itu disimpan, rasanya aku juga sudah lupa, apa yang aku rindukan waktu itu. Ya sudahlah, biarkan aku di masa lalu, yang menyimpannya. Merindukan apa yang harus dirindukan. Merindukan apapun yang tidak berkaitan dengan cinta.


Ditulis: Fanny Indra Pratama

Senin, 12 Januari 2026

Kegagalan itu datang lagi dan lagi



Masa iya setiap kegagalan aku harus menulis?

Setiap manusia mempunyai jatah gagalnya masing-masing. Dan, aku percaya itu. Bahkan, setiap detik kegagalan itu kerap datang bertubi-tubi. Mulai dari gagal memunculkan kata yang baik, membuat kalimat yang sempurna, sampai membentuk paragraf yang asyik. Nyaris aku gagal untuk memulai dan menyelesaikannya dengan baik.

Kegagalan itu datang menghantui ketika aku berada di kondisi yang nyaman, walaupun hanya sesaat. Ia begitu menggiurkan dan berhasil membuatku bermalas-malasan. Beberapa pekerjaan terbengkalai dan mungkin aku acuhkan.

Jika berhayal adalah sebuah prestasi barangkali berhayalku sudah mencapai rekornya. Aku sadar banyak berhayal membuat kepalaku sakit dan pikiran macet. Dan, malas terlalu membuatku semakin dekat dengan kegagalan.

Tiga paragraf di atas terlalu pesimis. Ya, begitulah adanya. Setelah semua hal tidak selamanya seperti yang direncanakan dan berakhir sia-sia. Namun, setelah tulisan ini selesai aku harus memformat ulang semuanya. Agar setiap kejadian, setiap pertemuan menjadi kenangan yang cukup dalam ingatan. Tak lebih. Mungkin cara ini cukup egois bagi sebagian orang, tapi tak apalah. Toh, kata Chairil Anwar, nasib adalah kesunyiannya masing-masing. 

Aku sedang bertarung dengan nasibku. Menjadi seseorang yang aku inginkan atau jatuh dalam kubangan kegagalan demi kegagalan. Tentu semua orang akan menghindari yang kedua. Namun, bagiku, hidup tak hanya sekadar untuk bertahan hidup. Setelah dapat bertahan hidup sejatinya manusia harus terus berbagi dan berbagi. Berbagi rejeki dalam bentuk apa pun. Meteri, pikiran, waktu, dan hal lainnya.

Terkadang aku bingung terhadap diriku sendiri, kenapa kegagalan itu sangat melekat dikehidupanku? Ada apa? Kenapa? Apa ada yang salah dalam diriku? Baru sebulan lalu aku gagal tes tahap akhir (wawancara) di salah satu perusahaan nikel di Maluku Utara, sekarang kegagalan itu datang lagi, aku gagal tes di bank BPD Kalbar. Sungguh menyedihkan dirimu, Fan. Ntah sampai kapan kegagalan datang lagi. Besok? Tahun depan? Ntahlah. 

Dan, mulai tulisan ini selesai, aku sedang berusaha keras mempersempit kesempatan untuk jatuh dalam kubangan kegagalan. Di masyarakat kita ini, kegagalan seringkali dianggap sampah! Dan sialnya, aku berada dalam struktur masyarakat seperti itu.

Maaf, tulisan ini terlalu banyak curhat. Tapi, bukankah setiap tulisan adalah tentang keresahan perasaan dan pikiran?

Pulang dulu ah, sudah malem. Besok-besok dilanjutin lagi ceritanya. Eh engga deng, engga akan ada lagi cerita kegagalan. Besok-besok kalau aku kembali ke sini pengen cerita yang senang- senang. Daaaaaaahhh


Ditulis: Fanny Indra Pratama




Kamis, 01 Januari 2026

Langit Gelap di Penghujung Tahun

 


Besok pagi, ibuku pasti sudah memasang kalender baru di dinding. Kalender yang dia dapatkan dari kantorku. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ibuku akan mengatakan bahwa kita harus bersemangat menghadapi lembaran baru, ataupun hal semacam itu.

Mirip dengan Ibuku, aku juga punya kebiasaan tiap tahun baru. Jariku mengetuk layar handphone, mengintip semua video recap kejadian yang teman-temanku alami di tahun lama. Mungkin, jika tidak malas, aku juga akan mencari template video recap di Capcut. Jika lebih niat, aku akan mengingat dan menulis pesan apa yang bisa aku ambil dari tahun kemarin. Jika sangat bersemangat, aku akan menulis semua yang aku inginkan dan apa yang aku ingin perbaiki dari diri aku.

Dan kalau kalian sudah membaca dua atau tiga paragraf di atas, mungkin kalian akan sadar bahwa aku memakai banyak kata ‘aku’. Dan, ya, memang benar, hampir di segala situasi aku hanya memikirkan diriku sendiri. Dan, ya, dapat ditebak, segala hal yang aku inginkan di tahun depan hanya berputar-putar di duniaku sendiri.

Sekarang, aku sedikit bingung. Maksudku, mengapa aku harus membatasi menyatakan permohonan dan harapan kepada diriku saja? Maksudku, tiap tahun, semua orang punya masalah dan bermasalah. Jadi, mengapa tidak berharap bahwa kita semua, kalau bisa satu dunia menjadi lebih baik? Toh, kita semua paham kita saling terhubung satu sama lain. Jadi, aku rasa tidak ada salahnya menaruh harapan besar untuk seluruh dunia di tahun baru.

Tetapi, semakin dipikir aku tidak tahu apa yang aku harapkan di tahun baru, bahkan untuk diriku sendiri. Aku rasa harapan yang besar sudah tidak cocok untuk umurku sekarang. Mungkin semakin besar, aku sedikit paham bahwa aku pemegang kendali terbesar dalam hidupku. Mungkin ada baiknya harapanku, aku batasi sesuai dengan kemampuanku mengaminkan harapanku. Mungkin memang seharusnya harapanku hanya seputar ‘aku’ saja. 

Mungkin aku harus terus menyematkan kata ‘aku’ di tiap harapanku. Maksudku, ada perbedaan besar antara ‘aku berharap banyak untuk tahun baru’ dan ‘tahun baru penuh harapan’. Yah, aku tidak tahu kalian dapat melihat bedanya atau tidak. Tapi, aku yakin kalau itu berbeda!

Tetapi, aku merasa bersalah jika semua hal yang aku lakukan tentang aku saja. Aku merasa bersalah kepada diriku sendiri. Sudah berulang kali merasakan tahun baru, rasanya salah kalau tahunku habis untuk membeli wishlist yang aku kumpulkan sejak tahun sebelumnya, lalu mati.

Lihat! Ternyata keinginanku melakukan hal untuk orang lain datang karena (lagi-lagi) aku peduli dengan diriku lagi.

Hmm, mungkin memang akhirnya aku tidak bisa melepas diriku dengan duniaku seutuhnya. Mungkin tahun ini (lagi-lagi) hanya akan tentangku lagi. Mungkin juga harapanku tidak bisa menjangkau seluruh dunia.

Tetapi, mungkin harapanku bisa hadir di tengah-tengah orang di sekelilingku. Mungkin untuk menentukan batas seberapa aku boleh berharap, aku harus menemukan purpose untuk segala hal yang aku lakukan dan akan lakukan.

Atau entahlah!

Intinya, selamat tahun baru. 

Bengkulu, 31 Desember 2025


Ditulis: Fanny Indra Pratama