21 Desember 2025
Sejak hari ini tema Hari Ibu mulai mengudara, berbagai event, berbagai slogan dan tulisan-tulisan melankolis muncul ke permukaan timeline sosial mediaku. “oh ya, besok hari ibu” gumamku. Haruskah aku melakukan sesuatu?
Jujur saja, aku bukan orang yang pintar dalam mengekspresikan cinta. Tapi aku pun tak ingin dianggap anak durhaka hanya karena tidak men-spesialkan Hari Ibu. Maka dari itu, semalaman suntuk aku berfikir keras hingga pada akhirnya, aku tetap terlelap ketiduran.
22 Desember 2025
Ini hari H nya. Aku masih belum punya ide. Aku kembali mencari referensi :
- Melakukan tugas yg seharusnya Ibu lakukan dan membiarkan Ibu beristirahat. Ah halo! It wont’t work. Tahun lalu aku sudah mencobanya. Aku mengantikan lbu cuci baju, Ibu menjemur pakaian ku. Aku menawarkan bantuan membenahi lemarinya, Ibu membenahi lemariku. Aku bereskan dapur, Ibu membereskan dapur juga. Ya Ampun! Kurasa bahkan jika seluruh pekerjaan rumah aku ambil alih Ibu tetap akan melakukan sesuatu. Jangan jangan nanti Ibu ku akan menguras sumur? Mengelap genteng? Mengecat perkakas dapur? Bagi seorang ibu, melakukan sesuatu untuk keluarganya adalah kebahagiaan. Tak adil sekali jika aku hanya mencoba melakukan “sesuatu” semacam itu di hari ibu, bukankah menemaninya melakukan semua urusan rumah akan lebih menyenangkan? Harusnya. Faktanya aku tak serajin itu juga.
- Membuat makanan spesial. Aku langsung skip bagian ini. Ibuku lebih ahli memasak. Hanya dua kemungkinan yang akan terjadi : Satu, aku akan meracuni ibuku. Dua, aku akan di kritik habis habisan bak peserta master chef yang dianggap akan meracuni jurinya.
- Memberi tiket liburan ke Jogja atau Kota wisata lainnya. Aku cek dompetku, oke skip. Dalam hati aku berdoa “semoga tahun depan ya”
- Mengirim cerita, puisi, atau ucapan di sosial media. Aku sering mencobanya, bahkan dalam berbagai bahasa (bahasa novel, bahasa campuran Jepang-Indonesia, bahasa Bengkulu, bahasa Inggris, bahasa tubuh, bahasa isyarat) Ibu membalas ku dengan meme :
Entah didapat darimana meme itu. Ah! Pasti dari grup whatssap kawan sosialitanya.
Aku kehabisan ide. Sungguh. Lalu muncul bisikan di telingaku “Apa yang belum pernah kau lakukan pada Ibu?” Ah tentu saja banyaaaak sekali.
Hingga malam tiba, akhirnya aku tak sedikitpun membahas Hari Ibu. Malam itu seperti biasa, usai makan malam kami kembali ke kamar masing - masing.
23 Desember 2025
“Bu, keluar atau jalan jalan yuk” ajakku random. Ada tanda tanya besar di wajah Ibuku. Tumben nih anak pulang kerja langsung ngajak jalan. Mungkin kira-kira itu yang dipikirkannya.
Aku sudah memutuskan, meskipun agak terlambat dan (sebenarnya) terlalu terlambat.
Di tempat makan Restoran Jepang, di tengah-tengah hening yang panjang, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bergumam pelan.
“Bu. Aku ingin curhat”
Ibu tiba-tiba tersenyum cerah. Maka hari ini runtuh lah seluruh benteng komunikasi antara aku dan Ibu.
Sejujurnya hari ini bukan hari Ibu. Akupun tidak sedang memperingatinya. Tapi, aku sedang mengingatkan diriku bahwa bekerja, memberikan sesuatu, dan melakukan sesuatu untuk ibu, memang perlu dilakukan. Hanya saja, sering menghabiskan waktu bersama pun tak ada salahnya untuk mulai dicoba.
Hari ini hari aku dan Ibu.
Ditulis: Fanny Indra Pratama