Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Rabu, 24 Desember 2025

Selamat Natal

 


Semakin kamu menua, pohon Natal tidak sebesar dulu.

Tidak perlu mendongak saat melihat bintang di paling atas, kadang kali kalah tinggi denganmu.

Bergantian, sekarang giliranmu yang siapkan kado untuk mereka yang masih muda.

Yang melihat pohon Natal sembari mendongak dan berbinar.

Yang mengira Natal masih sekedar kelahiran Yesus dan libur sekolah semata.

Apapun pengalamanmu dengan Natal dan kepercayaanmu tahun ini.

Semoga rasa hangat dan magisnya tidak pernah hilang. 

Selamat Natal bagi yang merayakan..


Ditulis: Fanny Indra Pratama


Selasa, 23 Desember 2025

Hari ini hari aku dan Ibu

 


21 Desember 2025 

Sejak hari ini tema Hari Ibu mulai mengudara, berbagai event, berbagai slogan dan tulisan-tulisan melankolis muncul ke permukaan timeline sosial mediaku. “oh ya, besok hari ibu” gumamku. Haruskah aku melakukan sesuatu?

Jujur saja, aku bukan orang yang pintar dalam mengekspresikan cinta. Tapi aku pun tak ingin dianggap anak durhaka hanya karena tidak men-spesialkan Hari Ibu. Maka dari itu, semalaman suntuk aku berfikir keras hingga pada akhirnya, aku tetap terlelap ketiduran.

22 Desember 2025 

Ini hari H nya. Aku masih belum punya ide. Aku kembali mencari referensi :

- Melakukan tugas yg seharusnya Ibu lakukan dan membiarkan Ibu beristirahat. Ah halo! It wont’t work. Tahun lalu aku sudah mencobanya. Aku mengantikan lbu cuci baju, Ibu menjemur pakaian ku. Aku menawarkan bantuan membenahi lemarinya, Ibu membenahi lemariku. Aku bereskan dapur, Ibu membereskan dapur juga. Ya Ampun! Kurasa bahkan jika seluruh pekerjaan rumah aku ambil alih Ibu tetap akan melakukan sesuatu. Jangan jangan nanti Ibu ku akan menguras sumur? Mengelap genteng? Mengecat perkakas dapur? Bagi seorang ibu, melakukan sesuatu untuk keluarganya adalah kebahagiaan. Tak adil sekali jika aku hanya mencoba melakukan “sesuatu” semacam itu di hari ibu, bukankah menemaninya melakukan semua urusan rumah akan lebih menyenangkan? Harusnya. Faktanya aku tak serajin itu juga.

- Membuat makanan spesial. Aku langsung skip bagian ini. Ibuku lebih ahli memasak. Hanya dua kemungkinan yang akan terjadi : Satu, aku akan meracuni ibuku. Dua, aku akan di kritik habis habisan bak peserta master chef yang dianggap akan meracuni jurinya.

- Memberi tiket liburan ke Jogja atau Kota wisata lainnya. Aku cek dompetku, oke skip. Dalam hati aku berdoa “semoga tahun depan ya”

- Mengirim cerita, puisi, atau ucapan di sosial media. Aku sering mencobanya, bahkan dalam berbagai bahasa (bahasa novel, bahasa campuran Jepang-Indonesia, bahasa Bengkulu, bahasa Inggris, bahasa tubuh, bahasa isyarat) Ibu membalas ku dengan meme :



Entah didapat darimana meme itu. Ah! Pasti dari grup whatssap kawan sosialitanya.

Aku kehabisan ide. Sungguh. Lalu muncul bisikan di telingaku “Apa yang belum pernah kau lakukan pada Ibu?” Ah tentu saja banyaaaak sekali.

Hingga malam tiba, akhirnya aku tak sedikitpun membahas Hari Ibu. Malam itu seperti biasa, usai makan malam kami kembali ke kamar masing - masing.

23 Desember 2025 

“Bu, keluar atau jalan jalan yuk” ajakku random. Ada tanda tanya besar di wajah Ibuku. Tumben nih anak pulang kerja langsung ngajak jalan. Mungkin kira-kira itu yang dipikirkannya.

Aku sudah memutuskan, meskipun agak terlambat dan (sebenarnya) terlalu terlambat.
Di tempat makan Restoran Jepang, di tengah-tengah hening yang panjang, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bergumam pelan.

“Bu. Aku ingin curhat”

Ibu tiba-tiba tersenyum cerah. Maka hari ini runtuh lah seluruh benteng komunikasi antara aku dan Ibu.

Sejujurnya hari ini bukan hari Ibu. Akupun tidak sedang memperingatinya. Tapi, aku sedang mengingatkan diriku bahwa bekerja, memberikan sesuatu, dan melakukan sesuatu untuk ibu, memang perlu dilakukan. Hanya saja, sering menghabiskan waktu bersama pun tak ada salahnya untuk mulai dicoba.

Hari ini hari aku dan Ibu.


Ditulis: Fanny Indra Pratama

Sabtu, 20 Desember 2025

Kegagalan itu datang lagi




Aku tidak menyangka kembali lagi di titik ini. Titik di mana merasa kecewa dan tak tahu harus berbuat apa. Untuk ke dua kalinya aku gagal tes wawancara pekerjaan.

Saat lagi makan mie ayam di tempat langganan, tiba- tiba hp berdenting dan ku melihat ada notifikasi dari email. Setelah ku baca, aku tidak lolos tes tahap akhir (wawancara) di perusahaan pertambangan di Maluku. 

Bingung, harus berbuat apa. Segala upaya sudah dilakukan tapi hasil akhir selalu tidak berpihak ke diriku. 

Dari dulu aku tidak pernah suka ujian, tes, seleksi dll. Mau bentuk apapun itu. Ntah apa yang salah, tapi dalam ingatanku, hasil ujian selalu menempatkan aku sebagai orang yang biasa saja. Ujian untukku, terkadang hanya sebuah validasi bahwa aku tidak pernah bisa melampaui standar orang-orang.

Kenapa ya? Kenapa? Otakku selalu kurang, selalu ada informasi yang terlupa, atau bahkan tidak tahu, seakan-akan dunia ini terlalu luas, untuk diingat, atau mungkin otakku yang terlalu kecil untuk mengetahui informasi yang ada di dunia ini? Aku lelah sekali selalu seperti ini. Kenapa orang lain bisa, sedangkan aku tidak bisa? Kenapa ya?

Di dunia yang semakin tidak adil ini, rasanya takut sekali tidak bisa bersaing. Dunia bergerak semakin cepat, hal baru terus berdatangan. Dengan kemampuan yang hampir selalu gagal, apa aku bisa bertahan?


Ditulis: Fanny Indra Pratama

Rabu, 03 Desember 2025

Sebuah Pesan Buat Anakku Nanti


Nak, sini, duduk dulu bentar, ada yang ingin Ayah omongin sesuatu ke kamu. Beberapa malam ini tiap lewat kamarmu Ayah sering dengar kamu lagi telfonan sama seseorang sampai dini hari. Kalau Ayah boleh tahu kamu sedang telfon sama siapa? 

Engga usah takut, cerita aja, Ayah tidak akan memarahimu. 

“Aku lagi dekat sama perempuan, yah. Dia temen kelasku. Baru seminggu lalu mulai komunikasinya”

Ohh gitu, baiklah, besok-besok kalau kamu menyukai seorang perempuan, tidak apa-apa bila Ayah tidak tahu, karena mungkin kamu belum siap mengatakannya. Ayah juga mengerti, kamu sudah umur 17 tahun, sudah memasuki masa remaja. Ayah hanya berpesan agar jangan sembarangan mengutarakan perasaanmu itu kepadanya. Kalau kamu mau mengutarakannya, maka kamu wajib mengabarkannya dahulu kepada Ayah dan Ibu. Karena perkara itu bukan main-main.

Bila kamu merasa belum cukup kuasa mengatakannya. Maka jagalah dia seperti kamu menjaga perasaanmu sendiri. Jangan sekali-kali menyebut namanya sembarangan. Itu bisa menjatuhkan kehormatannya. Itu bisa menjatuhkan perasaannya dan membuatnya berasumsi tentangmu. Kamu perlu ingat itu.

Kamu boleh diam untuk menyusun rencana, tapi tetaplah bergerak. Karena cinta itu energi yang luar biasa untuk melakukan banyak hal baik.

Mudahkanlah urusannya diam-diam. Buatlah dia bahagia diam-diam. Kamu tidak usah tampil bagai pahlawan yang seolah-olah selalu ada ketika dia butuhkan.

Sembunyilah di tempat yang aman, tapi selalu terjaga untuk membuatnya tetap aman.

Mudahkanlah urusannya, bantulah dia menyelesaikan masalahnya diam-diam. Buatlah dia bahagia diam-diam. Doakan dia dengan cara-cara yang ahsan.

Ayah percaya dengan itu kamu akan menjadi orang pertama yang bahagia karena dia bahagia. Karena, satu kesalahan besar laki-laki yang Ayah tahu adalah mengatakan perasaannya tapi tidak siap untuk mengikatnya.

Kamu anak laki-laki ayah, Ayah akan marah jika kamu menyakiti hati seorang perempuan. Ingat ya nak. Menyakitinya berarti sama saja dengan menyakiti ibumu.


Ayahmu, Fanny Indra Pratama