Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Senin, 12 Januari 2026

Kegagalan itu datang lagi dan lagi



Masa iya setiap kegagalan aku harus menulis?

Setiap manusia mempunyai jatah gagalnya masing-masing. Dan, aku percaya itu. Bahkan, setiap detik kegagalan itu kerap datang bertubi-tubi. Mulai dari gagal memunculkan kata yang baik, membuat kalimat yang sempurna, sampai membentuk paragraf yang asyik. Nyaris aku gagal untuk memulai dan menyelesaikannya dengan baik.

Kegagalan itu datang menghantui ketika aku berada di kondisi yang nyaman, walaupun hanya sesaat. Ia begitu menggiurkan dan berhasil membuatku bermalas-malasan. Beberapa pekerjaan terbengkalai dan mungkin aku acuhkan.

Jika berhayal adalah sebuah prestasi barangkali berhayalku sudah mencapai rekornya. Aku sadar banyak berhayal membuat kepalaku sakit dan pikiran macet. Dan, malas terlalu membuatku semakin dekat dengan kegagalan.

Tiga paragraf di atas terlalu pesimis. Ya, begitulah adanya. Setelah semua hal tidak selamanya seperti yang direncanakan dan berakhir sia-sia. Namun, setelah tulisan ini selesai aku harus memformat ulang semuanya. Agar setiap kejadian, setiap pertemuan menjadi kenangan yang cukup dalam ingatan. Tak lebih. Mungkin cara ini cukup egois bagi sebagian orang, tapi tak apalah. Toh, kata Chairil Anwar, nasib adalah kesunyiannya masing-masing. 

Aku sedang bertarung dengan nasibku. Menjadi seseorang yang aku inginkan atau jatuh dalam kubangan kegagalan demi kegagalan. Tentu semua orang akan menghindari yang kedua. Namun, bagiku, hidup tak hanya sekadar untuk bertahan hidup. Setelah dapat bertahan hidup sejatinya manusia harus terus berbagi dan berbagi. Berbagi rejeki dalam bentuk apa pun. Meteri, pikiran, waktu, dan hal lainnya.

Terkadang aku bingung terhadap diriku sendiri, kenapa kegagalan itu sangat melekat dikehidupanku? Ada apa? Kenapa? Apa ada yang salah dalam diriku? Baru sebulan lalu aku gagal tes tahap akhir (wawancara) di salah satu perusahaan nikel di Maluku Utara, sekarang kegagalan itu datang lagi, aku gagal tes di bank BPD Kalbar. Sungguh menyedihkan dirimu, Fan. Ntah sampai kapan kegagalan datang lagi. Besok? Tahun depan? Ntahlah. 

Dan, mulai tulisan ini selesai, aku sedang berusaha keras mempersempit kesempatan untuk jatuh dalam kubangan kegagalan. Di masyarakat kita ini, kegagalan seringkali dianggap sampah! Dan sialnya, aku berada dalam struktur masyarakat seperti itu.

Maaf, tulisan ini terlalu banyak curhat. Tapi, bukankah setiap tulisan adalah tentang keresahan perasaan dan pikiran?

Pulang dulu ah, sudah malem. Besok-besok dilanjutin lagi ceritanya. Eh engga deng, engga akan ada lagi cerita kegagalan. Besok-besok kalau aku kembali ke sini pengen cerita yang senang- senang. Daaaaaaahhh


Ditulis: Fanny Indra Pratama




Kamis, 01 Januari 2026

Langit Gelap di Penghujung Tahun

 


Besok pagi, ibuku pasti sudah memasang kalender baru di dinding. Kalender yang dia dapatkan dari kantorku. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ibuku akan mengatakan bahwa kita harus bersemangat menghadapi lembaran baru, ataupun hal semacam itu.

Mirip dengan Ibuku, aku juga punya kebiasaan tiap tahun baru. Jariku mengetuk layar handphone, mengintip semua video recap kejadian yang teman-temanku alami di tahun lama. Mungkin, jika tidak malas, aku juga akan mencari template video recap di Capcut. Jika lebih niat, aku akan mengingat dan menulis pesan apa yang bisa aku ambil dari tahun kemarin. Jika sangat bersemangat, aku akan menulis semua yang aku inginkan dan apa yang aku ingin perbaiki dari diri aku.

Dan kalau kalian sudah membaca dua atau tiga paragraf di atas, mungkin kalian akan sadar bahwa aku memakai banyak kata ‘aku’. Dan, ya, memang benar, hampir di segala situasi aku hanya memikirkan diriku sendiri. Dan, ya, dapat ditebak, segala hal yang aku inginkan di tahun depan hanya berputar-putar di duniaku sendiri.

Sekarang, aku sedikit bingung. Maksudku, mengapa aku harus membatasi menyatakan permohonan dan harapan kepada diriku saja? Maksudku, tiap tahun, semua orang punya masalah dan bermasalah. Jadi, mengapa tidak berharap bahwa kita semua, kalau bisa satu dunia menjadi lebih baik? Toh, kita semua paham kita saling terhubung satu sama lain. Jadi, aku rasa tidak ada salahnya menaruh harapan besar untuk seluruh dunia di tahun baru.

Tetapi, semakin dipikir aku tidak tahu apa yang aku harapkan di tahun baru, bahkan untuk diriku sendiri. Aku rasa harapan yang besar sudah tidak cocok untuk umurku sekarang. Mungkin semakin besar, aku sedikit paham bahwa aku pemegang kendali terbesar dalam hidupku. Mungkin ada baiknya harapanku, aku batasi sesuai dengan kemampuanku mengaminkan harapanku. Mungkin memang seharusnya harapanku hanya seputar ‘aku’ saja. 

Mungkin aku harus terus menyematkan kata ‘aku’ di tiap harapanku. Maksudku, ada perbedaan besar antara ‘aku berharap banyak untuk tahun baru’ dan ‘tahun baru penuh harapan’. Yah, aku tidak tahu kalian dapat melihat bedanya atau tidak. Tapi, aku yakin kalau itu berbeda!

Tetapi, aku merasa bersalah jika semua hal yang aku lakukan tentang aku saja. Aku merasa bersalah kepada diriku sendiri. Sudah berulang kali merasakan tahun baru, rasanya salah kalau tahunku habis untuk membeli wishlist yang aku kumpulkan sejak tahun sebelumnya, lalu mati.

Lihat! Ternyata keinginanku melakukan hal untuk orang lain datang karena (lagi-lagi) aku peduli dengan diriku lagi.

Hmm, mungkin memang akhirnya aku tidak bisa melepas diriku dengan duniaku seutuhnya. Mungkin tahun ini (lagi-lagi) hanya akan tentangku lagi. Mungkin juga harapanku tidak bisa menjangkau seluruh dunia.

Tetapi, mungkin harapanku bisa hadir di tengah-tengah orang di sekelilingku. Mungkin untuk menentukan batas seberapa aku boleh berharap, aku harus menemukan purpose untuk segala hal yang aku lakukan dan akan lakukan.

Atau entahlah!

Intinya, selamat tahun baru. 

Bengkulu, 31 Desember 2025


Ditulis: Fanny Indra Pratama