Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Sabtu, 20 September 2025

Tiup lilin akan membuatmu ingat yang bersinar kelak akan pudar

 



Sebuah pesan untuk Zea ketika sudah bisa membaca.

Zea, suatu hari kamu akan menemukan sesuatu yang ketika kamu melakukannya, matamu berbinar bercahaya, energimu bertambah berkali lipat, dan ketika selesai melakukannya, hatimu tenang, senang tidak kepalang, karena kamu menjadi bagian dari sesuatu itu.

Itu bisa datang dalam berbagai wujud. Mungkin dalam bentuk pekerjaan yang terasa seperti panggilan jiwa, bukan sekadar rutinitas. Mungkin dalam bentuk hobi yang membuatmu lupa waktu, atau peran yang membuatmu merasa dibutuhkan dan bermakna. Kadang ia hadir melalui hal-hal sederhana: membantu orang lain, membuat sesuatu dengan tanganmu sendiri, atau belajar hal baru yang menantang pikiranmu.

Saat kamu menemukan hal itu, dunia akan terasa berbeda. Lelah tetap ada, tapi lelahnya membawa rasa puas. Tantangan tetap muncul, tapi kamu akan melihatnya sebagai bagian dari permainan yang ingin kamu taklukkan, bukan rintangan yang ingin kamu hindari. Dan anehnya, bahkan saat kamu gagal, kamu tetap ingin mencoba lagi, karena di dalamnya ada percikan yang membuat hidup terasa penuh warna.

Untuk sampai ke titik itu, jangan takut mencari. Cobalah hal-hal baru, berani keluar dari zona nyaman, dan izinkan dirimu bertemu orang-orang dengan latar yang berbeda. Ada kalanya perjalanan ini berliku, membuatmu ragu, bahkan lelah secara fisik dan batin. Ada pula saat-saat kamu merasa tersesat, bertanya-tanya apakah semua ini sepadan. Percayalah, setiap langkah yang kamu ambil, bahkan langkah yang terasa keliru, akan mengarahkanmu pada pemahaman yang lebih dalam tentang siapa dirimu dan apa yang membuatmu hidup.

Ze, yang perlu kamu ingat, jangan biarkan kegagalan membuatmu berhenti. Gagal hanya tanda bahwa kamu sedang berusaha. Dan berusaha adalah cara terbaik untuk memberi kesempatan pada hidup untuk menunjukkan jalannya. Kadang kamu menemukan yang kamu cari di tempat yang tidak terduga, atau melalui proses yang awalnya tidak kamu rencanakan.

Saat kamu menemukannya, jagalah. Jangan biarkan rutinitas memadamkan nyalanya. Rawat semangatmu seperti merawat tanaman: beri waktu, perhatian, dan pupuk yang tepat. Biarkan hal itu menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi masa-masa sulit, dan sumber kebahagiaan untuk dibagi kepada orang lain.

Gunakan rasa itu untuk menebar kebaikan, untuk membuat dunia sedikit lebih hangat karena kamu pernah ada di dalamnya. Di tengah segala kesibukan, ingatlah bahwa waktu adalah bahan bakar yang terbatas. Maka, gunakanlah untuk hal-hal yang benar-benar membuat hidupmu berarti.

Karena di akhir nanti, yang akan membekas bukan berapa lama kamu hidup, melainkan seberapa dalam kamu benar-benar hidup di setiap momen yang membuat matamu berbinar itu.


Selamat ulang tahun, Zea. Semoga Zea tidak hanya menemukan hidup, tetapi juga menemukan hidup yang benar-benar menghidupkanmu. Om selalu percaya, ketika mata kamu berbinar, dunia pun ikut bercahaya..

Ditulis: Fanny Indra Pratama

Minggu, 14 September 2025

Pagi itu hujan turun lebih awal



Pagi ini hujan turun lebih awal, seperti biasa kuseduh teh Rosella, teh yang berwarna merah ini yang menemaniku untuk memulihkan energi, fokus, dan pikiran.

Kurasakan bunyi kretek di badanku, berderu normal, dan biasa saja. Ku minum teh perlahan, lalu kuhirup udara yang basah bercampur air hujan. Rasanya begitu wangi ketika aroma teh dan aroma air hujan bertabrakan satu sama lain.

Aku candu dengan suasana ini, sejenak lupa dengan segala masalah duniawi yang sedang berperang di dalam hati dan pikiranku.

Kulihat pohon mangga membisu, bendera merah putih yang di atas rumah diam ketika diguyur hujan, tak lagi berkibar. Ia membeku, tak ada rona sumringah di garis warnanya. 

Kemudian kualihkan pandangan ke selokan yang sudah penuh dengan air hujan, tak ada ikannya. Pinggiran selokan itu ditimbuhi bunga kertas, bunganya hanya mekar sebanyak lima tangkai. Tangkai yang lain mengering, namun kini telah dibasahi oleh hujan.

Butir-butir hujan jatuh berirama di halaman yang tergenang depan rumah dan menciptakan lingkaran-lingkaran kecil yang hilang dalam hitungan detik. Suara rintik hujan berpadu dengan gemericik air yang mengalir dari talang rumah. Sesekali angin membawa aroma tanah yang basah, aroma yang selalu membuatku rindu masa kecil.

Dulu, saat pagi hujan turun, aku akan berlari keluar rumah tanpa alas kaki, membiarkan air hujan membasahi tubuhku. Ada kebebasan yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata.

Tapi kini, aku hanya bisa menikmatinya dari balik jendela, sambil menggenggam cangkir teh. Mungkin karena tubuh ini tak lagi setangguh dulu, atau mungkin karena hati ini terlalu penuh dengan beban yang membuatku lebih suka diam.

Di halaman, rumput-rumput yang biasanya kering kini segar kembali, berdiri lebih tegak, seperti manusia yang kembali mendapat semangat hidup.

Daun-daun pepohona di sudut halaman bergetar setiap kali tersentuh tetes hujan. Ada seekor burung kecil berteduh di cabang yang lebih rendah, bulunya mengembang, matanya menatap kosong ke arah udara yang kelabu.

Langit pagi itu seperti selimut abu-abu yang tebal. Cahaya matahari benar-benar tertutup, membuat suasana semakin sendu.

Suara kendaraan di jalan terdengar lebih pelan dari biasanya, seolah semua orang memperlambat laju mereka karena hujan. Di kejauhan, samar-samar kudengar bunyi klakson yang cepat mereda, kalah oleh suara hujan yang mendominasi.

Aku menatap kembali cangkir di tanganku. Asapnya sudah tak lagi setebal tadi, menandakan teh itu mulai mendingin. Tapi rasanya tetap hangat di lidah dan dada. Hangat yang berbeda, hangat yang menenangkan hati meski di luar sana udara begitu dingin.

Hujan membuat waktu seakan berjalan lebih lambat. Aku masih duduk di kursi yang sama sejak tadi, hanya berganti posisi, memandangi sudut-sudut halaman yang biasanya tak begitu kupedulikan.

Ternyata ada banyak hal kecil yang baru kusadari: bunga kertas yang mengering, lumut tipis di tepi selokan, bahkan retakan kecil di tembok pagar. Semua itu terlihat jelas saat hujan, mungkin karena suasana ini membuatku lebih peka.

Sesekali pikiranku kembali pada masalah yang sedang kuhadapi. Pertarungan di dalam kepala ini belum juga usai, tetapi hujan seperti memberi jeda.

Aku seperti diberi izin untuk berhenti sejenak, menghela napas panjang, dan membiarkan semua rasa penat mengendap.

Di dapur, kudengar suara air menetes dari ember yang bocor. Suara itu berulang-ulang, tapi anehnya tidak mengganggu. Justru berpadu dengan musik alam dari hujan yang terus mengguyur.

Aku kembali melirik tiang bendera di atas rumah. Bendera itu tetap diam, basah kuyup, warnanya sedikit pudar, tapi tetap merah dan putih. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Seperti melihat seseorang yang sudah lelah tapi tetap bertahan.

Waktu berjalan, dan hujan masih turun dengan sabarnya. Aku menghabiskan sisa teh  dengan perlahan, menatap kosong ke arah jalan yang becek. Anak-anak tetangga sudah tidak ada yang bermain di luar.

Mereka mungkin duduk di dalam rumah, menonton televisi, atau bermain gawai. Berbeda sekali dengan masa kecilku yang justru menunggu hujan untuk keluar berlari-larian

Pagi semakin gelap, lampu-lampu mulai menyala satu per satu. Tapi hujan belum juga reda. Aku tidak keberatan. Dalam hati, aku malah berharap hujan ini bertahan sedikit lebih lama. Karena setiap tetesnya seperti membawa sedikit beban keluar dari pikiranku.

Hujan pagi ini mungkin tidak istimewa bagi banyak orang. Tapi bagiku, ia adalah jeda yang kubutuhkan, sejenak untuk bernapas, untuk merasakan, untuk mengingat bahwa hidup tidak hanya tentang berlari mengejar sesuatu. Kadang, kita juga butuh diam, mendengarkan, dan membiarkan hujan berbicara.


Ditulis: Fanny Indra Pratama