Daftar Blog Saya

SOCIAL MEDIA

Kamis, 12 Februari 2026

Terimakasih sudah pernah mau

 


Felia, mungkin ini pesimisme paling kutakutkan yang terjadi di dunia. Bukan karena rasa sesal akan bertahun-tahun yang sia-sia, bukan rasa cinta yang akhirnya jadi sepah, tapi lebih ke bagaimana jika aku hidup dalam versi tanpamu di masa depan.

Aku tentu saja sudah membayangkan berjuta skenario bahagia. Menjadi dewasa, menua, dikubur dalam liang yang berdampingan, lalu bertemu di surga. Namun, ada kalanya kita juga harus memikirkan skenario paling sedih dan memuakkan agar nanti tidak terkejut akan takdir yang sungguh menggilakan.

Sebelum aku lanjutkan lagi tulisan ini, aku mau play dulu lagu Ifan Seventeen "Jangan Paksa Rindu". Ntah kenapa lagu ini jadi lagu favoritku, mengingatkan banyak hal.

Ingatkah

Kapan terakhir bicara?

Kapan terakhir saling bertatap muka berkata cinta? 

Sadarkah engkau yang dulu sudah berbeda?

Membuat kita semakin jauh

Tak lagi sama seperti dulu 

***

Ketakutan terbesarku adalah rasa beralih. Rasa darimu yang mengungkap yang lain lebih dan lebih dariku, yang akhirnya memunculkan rasa enggan dan tak acuh akan kehadiranku. Jemu, ingin yang baru, dan kekosongan darimu yang aku tidak tahu nantinya harus mengisinya dengan apa.

Tentunya, cinta bisa menguat, bisa diobati. Sayangnya, cinta juga bisa memudar. Pudar, pudar, lalu punah. Tidak ada lagi tersisa selain kata pisah.

Felia, aku baru merasakan pahitnya penyesalan. Semua sudah terlambat. Kamu sudah melangkah jauh dengan kesempatan yang baru. Aku hanya terpaku pada bayang skenario palsu.

Felia, aku menulis ini bukan karena aku marah, tapi karena aku sedang belajar melepaskan dengan lapang. Aku menyayangimu dengan cara yang paling lembut yang aku tahu. 

Lewat perhatian kecil, lewat doaku yang diam-diam, lewat harapan sederhana agar kamu bahagia, meski bukan denganku.

Ketika aku bilang "putusin aku sekarang", aku coba merenungkan betapa salahnya aku ngomong gitu selama dalam hubungan ini. Tapi kamu harus perlu tahu Fel, diam-diam, hatiku berharap kamu tetap tinggal. Aku tahu itu tidak adil untukmu. Karena cinta yang tulus tak seharusnya menyakiti orang yang kita cintai.

Hari ini, batinku tersiksa, bukan karena aku berhenti peduli, tapi karena aku memilih untuk tidak terus terluka. Aku ingin tetap mencintai diriku sendiri seperti aku mencoba mencintaimu: sabar, utuh, dan penuh harapan.

Jika suatu hari kita bertemu lagi, semoga aku sudah benar-benar baik. Dan jika tidak, semoga kamu tahu, pernah ada seseorang yang mendoakanmu dalam diam, bahkan ketika kamu tak menyadarinya.

Selamat tinggal yang baik. Semoga kamu menemukan damai dan aku pun begitu.

Terima kasih, Felia. Terima kasih sudah pernah mau.


Bila memang kau tak bisa bersama

Jangan paksakan hati'tuk trus mecinta

Relakanlah saja ini

Kan ku simpan kisah ini

Dan kututup semua ruang di hatiku


Ditulis: Fanny Indra Pratama (Manusia paling keren setongkrongan Anggut)